alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Terowongan di Bendungan Tamblang Berusia 9 Abad, Bukan Zaman Belanda!

SAWAN – Terowongan yang ditemukan di areal Bendungan Tamblang, Kecamatan Sawan, Buleleng diduga dibuat pada zaman penjajahan Belanda. Ternyata keterangan ini keliru. Usianya diduga lebih tua, bahkan mencapai 9 abad alias 900 tahun silam.

Hal itu ditegaskan ketika tim peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar melakukan pengecekan di lokasi penemuan situs terowongan. Pengecekan dipimpin Kepala Balar Denpasar I Gusti Made Suarbhawa.

Hasil penelitian, diduga terowongan yang berfungsi sebagai saluran irigasi itu berusia tak kurang dari 9 abad.

Kepala Balar I Gusti Made Suarbhawa mengatakan, terowongan itu bukan dibuat pada jaman kolonial pada awal abad ke-20. Namun lebih tua lagi. Ia memperkirakan terowongan itu dibuat pada paro abad ke-11 atau awal abad ke-12.

Indikatornya ialah ditemukannya ceruk dengan ukuran 15 centimeter pada bagian kanan dan kiri dinding terowongan. Ceruk itu berfungsi sebagai tempat meletakkan penerangan. Kala itu penerangan berupa lampu teplok.

“Ada ceruk khusus setiap jarak 40-80 centimeter. Ini fungsinya bukan hanya untuk meletakkan penerangan. Tapi untuk menentukan apakah terowongan itu lurus atau tidak. Kalau melihat lokasinya, terowongan ini kemungkinan besar digunakan untuk saluran irigasi,” kata Suarbhawa.

Menurutnya terowongan serupa juga ditemukan pada situs Pura Lebah yang terletak di Desa Suwug. Terowongan itu diperkirakan dibuat pada tahun 1011 masehi. Karena terowongan di proyek Bendungan Tamblang memiliki bentuk dan karakteristik yang serupa, kemungkinan terowongan dibuat pada periode tahun yang sama.

“Bentuknya sama dengan yang di Desa Sangsit dan Suwug. Terowongan ini merupakan bukti kepedulian raja pada abad ke 11 atau 12, untuk menyejahterakan masyarakatnya dengan membuat saluran irigasi,” jelasnya.

Lebih lanjut Suarbhawa mengatakan, kawasan di sekitar Bendungan Tamblang memang identik dengan kawasan yang kaya dengan peradaban kuna. Balar kerap menemukan situs-situs baru di kawasan Desa Bila, Desa Sawan, maupun Desa Tamblang. Tinggalan sejarah yang mencolok berupa prasasti hingga ceruk pertapaan.

Seperti diberitakan sebelumnya pekerja proyek Bendungan Tamblang menemukan terowongan di areal pondasi area genangan waduk. Terowongan itu ditemukan pada Sabtu (21/11) lalu. Awalnya terowongan diduga dibangun pada awal abad ke-20, pada masa penjajahan kolonial Belanda. Setelah dilakukan penelitian, ternyata usianya jauh lebih tua.

Diduga kuat terowongan itu dibuat manusia. Sebab bentuk terowongan sangat rapi. Tingginya mencapai 170 centimeter dengan lebar 80 centimeter.



SAWAN – Terowongan yang ditemukan di areal Bendungan Tamblang, Kecamatan Sawan, Buleleng diduga dibuat pada zaman penjajahan Belanda. Ternyata keterangan ini keliru. Usianya diduga lebih tua, bahkan mencapai 9 abad alias 900 tahun silam.

Hal itu ditegaskan ketika tim peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar melakukan pengecekan di lokasi penemuan situs terowongan. Pengecekan dipimpin Kepala Balar Denpasar I Gusti Made Suarbhawa.

Hasil penelitian, diduga terowongan yang berfungsi sebagai saluran irigasi itu berusia tak kurang dari 9 abad.

Kepala Balar I Gusti Made Suarbhawa mengatakan, terowongan itu bukan dibuat pada jaman kolonial pada awal abad ke-20. Namun lebih tua lagi. Ia memperkirakan terowongan itu dibuat pada paro abad ke-11 atau awal abad ke-12.

Indikatornya ialah ditemukannya ceruk dengan ukuran 15 centimeter pada bagian kanan dan kiri dinding terowongan. Ceruk itu berfungsi sebagai tempat meletakkan penerangan. Kala itu penerangan berupa lampu teplok.

“Ada ceruk khusus setiap jarak 40-80 centimeter. Ini fungsinya bukan hanya untuk meletakkan penerangan. Tapi untuk menentukan apakah terowongan itu lurus atau tidak. Kalau melihat lokasinya, terowongan ini kemungkinan besar digunakan untuk saluran irigasi,” kata Suarbhawa.

Menurutnya terowongan serupa juga ditemukan pada situs Pura Lebah yang terletak di Desa Suwug. Terowongan itu diperkirakan dibuat pada tahun 1011 masehi. Karena terowongan di proyek Bendungan Tamblang memiliki bentuk dan karakteristik yang serupa, kemungkinan terowongan dibuat pada periode tahun yang sama.

“Bentuknya sama dengan yang di Desa Sangsit dan Suwug. Terowongan ini merupakan bukti kepedulian raja pada abad ke 11 atau 12, untuk menyejahterakan masyarakatnya dengan membuat saluran irigasi,” jelasnya.

Lebih lanjut Suarbhawa mengatakan, kawasan di sekitar Bendungan Tamblang memang identik dengan kawasan yang kaya dengan peradaban kuna. Balar kerap menemukan situs-situs baru di kawasan Desa Bila, Desa Sawan, maupun Desa Tamblang. Tinggalan sejarah yang mencolok berupa prasasti hingga ceruk pertapaan.

Seperti diberitakan sebelumnya pekerja proyek Bendungan Tamblang menemukan terowongan di areal pondasi area genangan waduk. Terowongan itu ditemukan pada Sabtu (21/11) lalu. Awalnya terowongan diduga dibangun pada awal abad ke-20, pada masa penjajahan kolonial Belanda. Setelah dilakukan penelitian, ternyata usianya jauh lebih tua.

Diduga kuat terowongan itu dibuat manusia. Sebab bentuk terowongan sangat rapi. Tingginya mencapai 170 centimeter dengan lebar 80 centimeter.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/