alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Berencana Kurangi Durasi Karantina

SINGARAJA, Radar Bali – Durasi karantina bagi warga yang menghuni fasilitas isolasi terpusat (isoter), bakal dikurangi.

Warga dapat menjalani karantina kurang dari 14 hari. Dengan catatan mereka harus mampu menunjukkan hasil PCR negatif.

Hal itu terungkap saat Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng melakukan rapat di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Selasa kemarin (8/2).

Rapat itu dipimpin Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Buleleng, Ida Bagus Suadnyana.

Suadnyana mengatakan, karantina menjadi salah satu kunci untuk menekan lonjakan kasus covid-19.

Mengacu protokol dari Kementerian Kesehatan RI, warga yang berstatus tanpa gejala maupun gejala ringan menjalani masa karantina selama 10 hari.

Meski begitu, dalam protokol itu juga disebutkan bahwa warga bisa saja mengakhiri masa karantinanya lebih awal.

Baca Juga:  Disorot Jokowi, Dr. Daniel: Bali Jadi Etalase Indonesia di Mata Dunia

Apabila telah menjalani masa karantina selama 5 hari, kondisi warga akan dievaluasi. Apabila telah membaik dan mampu menunjukkan hasil swab PCR dengan hasil negatif, maka diperbolehkan mengakhiri masa karantina di fasilitas isoter.

“Jika kondisinya sehat dalam waktu lima hari itu, dan hasil swab PCR-nya juga negatif maka sudah boleh pulang. Namun perlu diingat, berdasarkan Instruksi Kemenkes, biaya swab ditanggung secara mandiri. Hal ini juga akan kami koordinasikan lagi kepada pimpinan,” kata Suadnyana.

Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengatakan, pihaknya terus mengevaluasi ketersediaan tempat tidur di fasilitas isoter.

Kini di isoter masih tersisa 199 tempat tidur kosong. Dengan fluktuasi kasus, maka fasilitas isoter bisa penuh kapan saja. Apalagi peningkatan kasus harian mencapai 3 digit sehari.

Baca Juga:  Astungkara, Puluhan Warga Miskin Buleleng Dibantu Bibit Babi

Iapun meminta agar seluruh desa dapat menyediakan fasilitas isoter di tingkat desa. Pihak desa dapat melakukan karantina pada warga yang tidak bergejala. Sementara yang bergejala ringan, dapat dirujuk ke isoter yang disiapkan pemerintah kabupaten.

Hingga Selasa kemarin, tercatat ada 195 tempat tidur yang disiapkan pemerintah desa.

“Mudah-mudahan bisa berkembang lagi, nambah lagi, karena dari kecamatan juga sedang melakukan penjajagan. Mudah-mudahan ada penambahan, sehingga dengan 195 bed ini bisa diaktivasi untuk meringankan beban Isoter kabupaten,” ujar Ariadi. 



SINGARAJA, Radar Bali – Durasi karantina bagi warga yang menghuni fasilitas isolasi terpusat (isoter), bakal dikurangi.

Warga dapat menjalani karantina kurang dari 14 hari. Dengan catatan mereka harus mampu menunjukkan hasil PCR negatif.

Hal itu terungkap saat Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng melakukan rapat di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Selasa kemarin (8/2).

Rapat itu dipimpin Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Buleleng, Ida Bagus Suadnyana.

Suadnyana mengatakan, karantina menjadi salah satu kunci untuk menekan lonjakan kasus covid-19.

Mengacu protokol dari Kementerian Kesehatan RI, warga yang berstatus tanpa gejala maupun gejala ringan menjalani masa karantina selama 10 hari.

Meski begitu, dalam protokol itu juga disebutkan bahwa warga bisa saja mengakhiri masa karantinanya lebih awal.

Baca Juga:  BRSUD Tabanan Rawat 2 Pasien Suspect Corona, Riwayat Pasien Terbongkar

Apabila telah menjalani masa karantina selama 5 hari, kondisi warga akan dievaluasi. Apabila telah membaik dan mampu menunjukkan hasil swab PCR dengan hasil negatif, maka diperbolehkan mengakhiri masa karantina di fasilitas isoter.

“Jika kondisinya sehat dalam waktu lima hari itu, dan hasil swab PCR-nya juga negatif maka sudah boleh pulang. Namun perlu diingat, berdasarkan Instruksi Kemenkes, biaya swab ditanggung secara mandiri. Hal ini juga akan kami koordinasikan lagi kepada pimpinan,” kata Suadnyana.

Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengatakan, pihaknya terus mengevaluasi ketersediaan tempat tidur di fasilitas isoter.

Kini di isoter masih tersisa 199 tempat tidur kosong. Dengan fluktuasi kasus, maka fasilitas isoter bisa penuh kapan saja. Apalagi peningkatan kasus harian mencapai 3 digit sehari.

Baca Juga:  Sepekan Dirawat di RS, Pasien Covid Lanjut Usia di Buleleng Meninggal

Iapun meminta agar seluruh desa dapat menyediakan fasilitas isoter di tingkat desa. Pihak desa dapat melakukan karantina pada warga yang tidak bergejala. Sementara yang bergejala ringan, dapat dirujuk ke isoter yang disiapkan pemerintah kabupaten.

Hingga Selasa kemarin, tercatat ada 195 tempat tidur yang disiapkan pemerintah desa.

“Mudah-mudahan bisa berkembang lagi, nambah lagi, karena dari kecamatan juga sedang melakukan penjajagan. Mudah-mudahan ada penambahan, sehingga dengan 195 bed ini bisa diaktivasi untuk meringankan beban Isoter kabupaten,” ujar Ariadi. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/