alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Soal Beda Tawur Kesanga, Bupati Gianyar: Kita Ingin Rangkul Semua

GIANYAR – Upacara Tawur Agung Kasanga di kota Gianyar yang digelar sehari sebelum Nyepi telah berlangsung Rabu lalu (6/3).

Secara bersamaan dan masih satu wilayah desa, pihak Desa pakraman Gianyar menggelar tawur di perempatan Balai Budaya Gianyar.

Sedangkan Pemkab Gianyar menggelar di perempatan Polres Gianyar. Menurut informasi, perbedaan ini terjadi karena perbedaan memilih sulinggih.

Bupati Gianyar Made Mahayastra menyatakan, penggunaan sulinggih sarwa sadhaka, merupakan bentuk komitmennya merangkul semua golongan.

“Sebagai pemimpin daerah, ingin menyatukan semua golongan yang selama ini penuh semangat gotong royong mendoakan Gianyar menjadi Gianyar yang maju dan bermartabat di semua bidang,” ujar Bupati Mahayastra.

Dan salah satu wujud komitmen tersebut adalah menggunakan sarwa sadhaka dalam prosesi tawur agung ini.

Baca Juga:  Parkir Motor di RS Sanjiwani Mendadak Naik Jadi Rp 2.000 – Rp 3.000

Adapun tawur yang digelar Pemkab Gianyar diawali dengan penampilan tari rejang dewa, dilanjutkan tari baris gede.

Kemudian tari rejang oleh ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Gianyar. Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Bali sebelumnya,

lantaran dipicu perbedaan sulinggih, tawur yang digelar Pemkab Gianyar bersama desa pakraman Gianyar akhirnya berjalan sendiri-sendiri.

Desa Gianyar menggunakan tiga sulinggih, atau Tri Sadhaka dengan sulinggih Siwa, Budha dan Bujangga.



GIANYAR – Upacara Tawur Agung Kasanga di kota Gianyar yang digelar sehari sebelum Nyepi telah berlangsung Rabu lalu (6/3).

Secara bersamaan dan masih satu wilayah desa, pihak Desa pakraman Gianyar menggelar tawur di perempatan Balai Budaya Gianyar.

Sedangkan Pemkab Gianyar menggelar di perempatan Polres Gianyar. Menurut informasi, perbedaan ini terjadi karena perbedaan memilih sulinggih.

Bupati Gianyar Made Mahayastra menyatakan, penggunaan sulinggih sarwa sadhaka, merupakan bentuk komitmennya merangkul semua golongan.

“Sebagai pemimpin daerah, ingin menyatukan semua golongan yang selama ini penuh semangat gotong royong mendoakan Gianyar menjadi Gianyar yang maju dan bermartabat di semua bidang,” ujar Bupati Mahayastra.

Dan salah satu wujud komitmen tersebut adalah menggunakan sarwa sadhaka dalam prosesi tawur agung ini.

Baca Juga:  Muncul Sengketa Dualisme, MDA dan FKUB Bali Minta PHDI Tak Diundang

Adapun tawur yang digelar Pemkab Gianyar diawali dengan penampilan tari rejang dewa, dilanjutkan tari baris gede.

Kemudian tari rejang oleh ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Gianyar. Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Bali sebelumnya,

lantaran dipicu perbedaan sulinggih, tawur yang digelar Pemkab Gianyar bersama desa pakraman Gianyar akhirnya berjalan sendiri-sendiri.

Desa Gianyar menggunakan tiga sulinggih, atau Tri Sadhaka dengan sulinggih Siwa, Budha dan Bujangga.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/