alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Jadi Calo BPJS, IDI Bali Siap Proses Oknum Dokter Gianyar

DENPASAR – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Bali angkat bicara soal adanya dugaan praktek tak terpuji yang dilakukan oknum dokter di salah satu RS di Kabupaten Gianyar.

Di mana ada oknum dokter sebagai calo operasi pasien BPJS yang menawarkan pasien atau keluarga pasien untuk mengalihkan tindakan operasi di RS lain dengan biaya tambahan sebesar Rp 3 juta.

“Sedang ditelusuri oleh IDI Gianyar. Apakah berita itu benar, apakah (dilakukan) oleh dokter, setelah jelas baru di proses oleh IDI,” ujar dr Putra Suteja, Ketua IDI Bali, Minggu (8/12) malam.

Jika sudah terbukti kebenarannya, pihaknya mengaku akan menindak tegas dokter tersebut. “Kalau dokter, MKEK (Majelis Kode Etik Kedokteran) IDI akan menyidangkan, karena masalah tersebut masuk ranah etik,” tegasnya.

Baca Juga:  TKI Asal Bali Meninggal di Abu Dhabi UEA, Disebut karena Covid-19

Seperti diberitakan, ada oknum di RS di Gianyar yang menjadi calo operasi  bagi pasien peserta BPJS Kesehatan.

Terjadi di salah satu rumah sakit di Gianyar, dari informasi sumber modus oknum dokter itu yakni dengan menawarkan pasien dan keluarga pasien yang antre operasi untuk dialihkan ke RS lain.

“Jadi modus oknum (dokter) ini menawarkan pasien atau keluarga pasien untuk mengalihkan tindakan operasi di RS lain,” terang sumber.

Bahkan, meski sama-sama rumah sakit yang menerima pasien peserta BPJS, untuk mengalihkan jadwal dan tindakan operasi, oknum dokter meminta uang tambahan bagi keluarga peserta BPJS Kesehatan sebesar Rp 3 juta per pasien.

“Jadi misalkan di RS A pasien yang antre operasi terdaftar sebagai pasien peserta BPJS, pengalihan di RS B yang ditawarkan dokter agar bisa dilakukan tindakan

Baca Juga:  Astungkara, Diguyur Hujan, Api di Lereng Gunung Agung Padam

operasi lebih cepat juga berstatus sebagai pasien peserta BPJS. Bedanya pasien atau keluarga menambah lagi biaya Rp 3 juta,” tambahnya.

Lalu dikemanakan uang Rp 3 juta itu? Dari penuturan sumber, besaran uang Rp 3 juta itu yang nantinya masuk kantong pribadi oknum dokter.

“Uangnya masuk kantong pribadi. Ini yang membuat dokter lain juga risih dan sedih. Kok ada juga kawan seprofesi yang tega melakukan perbuatan tak terpuji,” sesalnya.



DENPASAR – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Bali angkat bicara soal adanya dugaan praktek tak terpuji yang dilakukan oknum dokter di salah satu RS di Kabupaten Gianyar.

Di mana ada oknum dokter sebagai calo operasi pasien BPJS yang menawarkan pasien atau keluarga pasien untuk mengalihkan tindakan operasi di RS lain dengan biaya tambahan sebesar Rp 3 juta.

“Sedang ditelusuri oleh IDI Gianyar. Apakah berita itu benar, apakah (dilakukan) oleh dokter, setelah jelas baru di proses oleh IDI,” ujar dr Putra Suteja, Ketua IDI Bali, Minggu (8/12) malam.

Jika sudah terbukti kebenarannya, pihaknya mengaku akan menindak tegas dokter tersebut. “Kalau dokter, MKEK (Majelis Kode Etik Kedokteran) IDI akan menyidangkan, karena masalah tersebut masuk ranah etik,” tegasnya.

Baca Juga:  Dengan Fingerprint, Pasien JKN - KIS Makin Nyaman saat Berobat

Seperti diberitakan, ada oknum di RS di Gianyar yang menjadi calo operasi  bagi pasien peserta BPJS Kesehatan.

Terjadi di salah satu rumah sakit di Gianyar, dari informasi sumber modus oknum dokter itu yakni dengan menawarkan pasien dan keluarga pasien yang antre operasi untuk dialihkan ke RS lain.

“Jadi modus oknum (dokter) ini menawarkan pasien atau keluarga pasien untuk mengalihkan tindakan operasi di RS lain,” terang sumber.

Bahkan, meski sama-sama rumah sakit yang menerima pasien peserta BPJS, untuk mengalihkan jadwal dan tindakan operasi, oknum dokter meminta uang tambahan bagi keluarga peserta BPJS Kesehatan sebesar Rp 3 juta per pasien.

“Jadi misalkan di RS A pasien yang antre operasi terdaftar sebagai pasien peserta BPJS, pengalihan di RS B yang ditawarkan dokter agar bisa dilakukan tindakan

Baca Juga:  Pandemi Covid, Masyarakat Bisa Akses Layanan Kepesertaan Secara Online

operasi lebih cepat juga berstatus sebagai pasien peserta BPJS. Bedanya pasien atau keluarga menambah lagi biaya Rp 3 juta,” tambahnya.

Lalu dikemanakan uang Rp 3 juta itu? Dari penuturan sumber, besaran uang Rp 3 juta itu yang nantinya masuk kantong pribadi oknum dokter.

“Uangnya masuk kantong pribadi. Ini yang membuat dokter lain juga risih dan sedih. Kok ada juga kawan seprofesi yang tega melakukan perbuatan tak terpuji,” sesalnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/