alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Tak Diterima di Jalur Zonasi SMAN 1 Tabanan, Orangtua Protes Keras

TABANAN – Banyak masalah dan komplain dari orang tua saat penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur zonasi tahun pelajaran 2018/2019 juga terjadi di SMAN 1 Tabanan.

Bahkan, orang tua siswa atas nama I Nyoman Weda Utama, 56 mengaku dipersulit saat melakukan pendaftaran gelombang ke II PPDB di SMAN 1 Tabanan.

Menurut Weda, dirinya harus bolak-balik ketika mendaftar pada jalur zonasi di SMAN 1 Tabanan.

“Masak mendaftar di SMAN 1 Tabanan harus mendapat rekomendasi dari para pejabat baru dapat mendaftar dan diterima. Kami sebagai orang awam seperti dibohongi,” ujar Weda.

Menurut Weda, sejatinya sekolah tidak seperti itu ketika memberikan informasi kepada masyarakat mengenai PPDB.

Terlebih lagi saat ini ada penambahan jumlah siswa pada gelombang II untuk PPDB SMA. “Sejujurnya yang saya keluhkan jarak rumah dengan sekolah hanya 100 meter justru siswa lainnya yang jarak rumah lebih jauh diterima di SMAN I Tabanan,” kata Weda.

Herannya lagi, masalah pelayanan di sekolah dirinya ingin bertemu kepada kepala sekolah, tapi pihak sekolah menjawab kepala sekolah pergi ke Bandung.

Sedangkan saat ini semua sibuk masalah PPDB. Kepala sekolah malah pergi.  “Juga tidak ada kepastian, apakah anak saya diterima atau tidak.

Baca Juga:  Disdik Jembrana Pastikan Pungli Dana Punia SMPN 3 Negara Melanggar

Saya tidak mungkin akan marah seperti ini kepada sekolah jika pelayanan baik. Berikan kami informasi yang pasti agar tidak bolak-balik mengurus PPDB,” ungkapnya.

Memang anaknya sempat mendaftar pada jalur zonasi pada pendaftaran awal PPDB. Tetapi tidak diterima, dengan alasan nilai ujian akhir kecil.

Bukan nilai yang menjadi acuan. Karena sudah ranahnya berbicara zonasi, maka jarak sekolah yang dilihat. “Masak kami warga Tabanan asli yang tinggal di Banjar Baleran, Jambe, Desa Dauh Peken yang jaraknya terdekat dengan sekolah hanya 100 meter tidak diterima.

Kone, pemerataan pendidikan agar tidak ada sekolah favorit, semua rata,” tandas Weda, sembari mengancam akan mengembok pintu pagar sekolah.  

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Tabanan Bidang Humas Ni Wayan Kompyang Kusumawati menyatakan apa yang dikeluhkan oleh

orang tua siswa tersebut sebenarnya pihak sekolah ingin menjelaskan terkait dengan pendaftaran baru pada gelombang II PPDB.

Baru datang orang tua siswa tersebut ingin menghadap kepada kepala sekolah. Pihaknya pun langsung menyampaikan bahwa kepala sekolah tidak ada.

Baca Juga:  Wabup Jembrana Siapkan Bantuan Alat Berat

“Kepala sekolah meninggalkan sekolah, karena tugas yang harus dilaksanakan. Kami tidak ada yang mengatakan pergi ke Bandung,” sangkalnya.

Kusumawati mengakui memang ada pendaftaran baru PPDB gelombang kedua berdasar edaran surat dari Gubenur Bali.

Untuk PPDB gelombang II SMAN 1 Tabanan berdasar surat edaran gubenur Bali. Pihaknya tetap menerima pendaftaran siswa pada gelombang II.

Namun, yang berhak menentukan Dinas Pendidikan provinsi Bali. “Berapa daya tampung dalam penambahan siswa baru di SMAN 1 Tabanan kami tidak tahu,” ucap Kusumawati.

Mengenai masalah diterimanya siswa yang jaraknya jauh dari sekolah SMAN 1 Tabanan yakni dari daerah Bengkel, Desa Pejaten, Kediri, kata dia, itu salah informasi.

Siswa tersebut sebenarnya mendaftar di SMAN 2 Tabanan dan diterima disana. Orang tua siswa tersebut hanya verifikasi berkas di SMAN 1 Tabanan.

Bahkan, informasi pengumuman diterima atau tidak dapat dilihat juga di SMAN 1 Tabanan, karena sistem online.

Tidak ada yang menyebut rekomendasi dari pejabat pula. Itulah yang dipakai dasar untuk protes ke sekolah.

“Sejauh ini pada penerimaan PPDB, kami bekerja sesuai dengan prosedur juknis PPDB. Tidak ada rekomendasi apapun,” tandasnya.



TABANAN – Banyak masalah dan komplain dari orang tua saat penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur zonasi tahun pelajaran 2018/2019 juga terjadi di SMAN 1 Tabanan.

Bahkan, orang tua siswa atas nama I Nyoman Weda Utama, 56 mengaku dipersulit saat melakukan pendaftaran gelombang ke II PPDB di SMAN 1 Tabanan.

Menurut Weda, dirinya harus bolak-balik ketika mendaftar pada jalur zonasi di SMAN 1 Tabanan.

“Masak mendaftar di SMAN 1 Tabanan harus mendapat rekomendasi dari para pejabat baru dapat mendaftar dan diterima. Kami sebagai orang awam seperti dibohongi,” ujar Weda.

Menurut Weda, sejatinya sekolah tidak seperti itu ketika memberikan informasi kepada masyarakat mengenai PPDB.

Terlebih lagi saat ini ada penambahan jumlah siswa pada gelombang II untuk PPDB SMA. “Sejujurnya yang saya keluhkan jarak rumah dengan sekolah hanya 100 meter justru siswa lainnya yang jarak rumah lebih jauh diterima di SMAN I Tabanan,” kata Weda.

Herannya lagi, masalah pelayanan di sekolah dirinya ingin bertemu kepada kepala sekolah, tapi pihak sekolah menjawab kepala sekolah pergi ke Bandung.

Sedangkan saat ini semua sibuk masalah PPDB. Kepala sekolah malah pergi.  “Juga tidak ada kepastian, apakah anak saya diterima atau tidak.

Baca Juga:  500 Pelajar SMP Tak Terakomodir, Desak Bangun Sekolah Baru

Saya tidak mungkin akan marah seperti ini kepada sekolah jika pelayanan baik. Berikan kami informasi yang pasti agar tidak bolak-balik mengurus PPDB,” ungkapnya.

Memang anaknya sempat mendaftar pada jalur zonasi pada pendaftaran awal PPDB. Tetapi tidak diterima, dengan alasan nilai ujian akhir kecil.

Bukan nilai yang menjadi acuan. Karena sudah ranahnya berbicara zonasi, maka jarak sekolah yang dilihat. “Masak kami warga Tabanan asli yang tinggal di Banjar Baleran, Jambe, Desa Dauh Peken yang jaraknya terdekat dengan sekolah hanya 100 meter tidak diterima.

Kone, pemerataan pendidikan agar tidak ada sekolah favorit, semua rata,” tandas Weda, sembari mengancam akan mengembok pintu pagar sekolah.  

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Tabanan Bidang Humas Ni Wayan Kompyang Kusumawati menyatakan apa yang dikeluhkan oleh

orang tua siswa tersebut sebenarnya pihak sekolah ingin menjelaskan terkait dengan pendaftaran baru pada gelombang II PPDB.

Baru datang orang tua siswa tersebut ingin menghadap kepada kepala sekolah. Pihaknya pun langsung menyampaikan bahwa kepala sekolah tidak ada.

Baca Juga:  Pemilu Berlalu, Alat Peraga Kampanye Bernilai Ratusan Juta Dibakar

“Kepala sekolah meninggalkan sekolah, karena tugas yang harus dilaksanakan. Kami tidak ada yang mengatakan pergi ke Bandung,” sangkalnya.

Kusumawati mengakui memang ada pendaftaran baru PPDB gelombang kedua berdasar edaran surat dari Gubenur Bali.

Untuk PPDB gelombang II SMAN 1 Tabanan berdasar surat edaran gubenur Bali. Pihaknya tetap menerima pendaftaran siswa pada gelombang II.

Namun, yang berhak menentukan Dinas Pendidikan provinsi Bali. “Berapa daya tampung dalam penambahan siswa baru di SMAN 1 Tabanan kami tidak tahu,” ucap Kusumawati.

Mengenai masalah diterimanya siswa yang jaraknya jauh dari sekolah SMAN 1 Tabanan yakni dari daerah Bengkel, Desa Pejaten, Kediri, kata dia, itu salah informasi.

Siswa tersebut sebenarnya mendaftar di SMAN 2 Tabanan dan diterima disana. Orang tua siswa tersebut hanya verifikasi berkas di SMAN 1 Tabanan.

Bahkan, informasi pengumuman diterima atau tidak dapat dilihat juga di SMAN 1 Tabanan, karena sistem online.

Tidak ada yang menyebut rekomendasi dari pejabat pula. Itulah yang dipakai dasar untuk protes ke sekolah.

“Sejauh ini pada penerimaan PPDB, kami bekerja sesuai dengan prosedur juknis PPDB. Tidak ada rekomendasi apapun,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/