alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

SEDIH!! Pengungsi di Pakisan Belum Tersentuh Bantuan

PAKISAN – Puluhan warga di Banjar Dinas Klandis, Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, yang menjadi korban gempa pada Minggu (5/8) lalu, hingga kini belum tersentuh bantuan.

Selain minim fasilitas, para pengungsi terpaksa gotong royong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di wilayah Tempekan Mabun, Banjar Dinas Klandis, kini ada 28 orang dari tujuh kepala keluarga yang mengungsi. Mereka menempati dua tenda yang didirikan di atas lahan milik Gede Sidi Mantra dan Jero Mangku Ketut Rentana.

Dari dua tenda yang berdiri, satu diantaranya milik BPBD Buleleng dan satu lainnya hasil swadaya warga.

Tujuh kepala keluarga yang terdiri dari Nyoman Sukadana Nyoman Rentada, Wayan Sugita, Nyoman Rentana, Jro Mangku Ketut Rentana, dan Gede Sidi Mantra itu terpaksa harus tidur berdesak-desakan. Sebab fasilitas yang ada memang sangat minim.

“Kami ini masih keluarga besar, makanya mengungsi di sini. Keluarga saya ini juga rumahnya rusak. Tapi rumahnya ada masuk agak kedalam di tengah kebun. Di tempat mereka tidak ada lahan lagi, makanya mengungsi kesini,” kata Sidi Mantra.

Sejak mengungsi, hingga kini mereka mengaku belum mendapat bantuan sembako. Untuk makan sehari-hari, mereka harus bekerja sebagai buruh petik cengkih lebih dulu. Mereka juga minta agar dibayar harian, supaya bisa membeli sembako tiap harinya.



PAKISAN – Puluhan warga di Banjar Dinas Klandis, Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, yang menjadi korban gempa pada Minggu (5/8) lalu, hingga kini belum tersentuh bantuan.

Selain minim fasilitas, para pengungsi terpaksa gotong royong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di wilayah Tempekan Mabun, Banjar Dinas Klandis, kini ada 28 orang dari tujuh kepala keluarga yang mengungsi. Mereka menempati dua tenda yang didirikan di atas lahan milik Gede Sidi Mantra dan Jero Mangku Ketut Rentana.

Dari dua tenda yang berdiri, satu diantaranya milik BPBD Buleleng dan satu lainnya hasil swadaya warga.

Tujuh kepala keluarga yang terdiri dari Nyoman Sukadana Nyoman Rentada, Wayan Sugita, Nyoman Rentana, Jro Mangku Ketut Rentana, dan Gede Sidi Mantra itu terpaksa harus tidur berdesak-desakan. Sebab fasilitas yang ada memang sangat minim.

“Kami ini masih keluarga besar, makanya mengungsi di sini. Keluarga saya ini juga rumahnya rusak. Tapi rumahnya ada masuk agak kedalam di tengah kebun. Di tempat mereka tidak ada lahan lagi, makanya mengungsi kesini,” kata Sidi Mantra.

Sejak mengungsi, hingga kini mereka mengaku belum mendapat bantuan sembako. Untuk makan sehari-hari, mereka harus bekerja sebagai buruh petik cengkih lebih dulu. Mereka juga minta agar dibayar harian, supaya bisa membeli sembako tiap harinya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/