alexametrics
26.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Kritisi Sampradaya di Bali, Koster Ingatkan Krama Jaga Warisan Leluhur

SINGARAJA – Gubernur Bali Wayan Koster kembali mengkritisi keberadaan sampradaya (aliran) keyakinan di Bali.

Hal itu diungkapkan Gubernur Bali Wayan Koster, saat memberikan sambutan pada peletakan batu pertama Gedung Majelis Desa Adat (MDA) Buleleng.

Gedung MDA Buleleng dibangun di Jalan Ratna, Kelurahan Banyuasri dengan anggaran hingga Rp 3 miliar.

Proses peletakan batu pertama itu dihadiri Gubernur Koster yang didampingi Bendesa Agung Majelis Adat (MDA) Bali Ida Panglingsir Putra Sukahet, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, dan Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra.

Usai melakukan peletakan batu pertama, Koster langsung bertolak ke Gedung Kesenian Gde Manik guna memberikan sambutan di hadapan bendesa adat dan perbekel di Kabupaten Buleleng.

Dalam kesempatan itu, Koster meminta agar masyarakat Buleleng – utamanya kaum muda – agar tidak mudah terpengaruh nilai-nilai luar yang berpotensi merusak tatanan kehidupan beragama di Bali.

Utamanya yang terkait dengan adat istiadat dan seni budaya di Bali. “Jangan terpengaruh omongan yang menyesatkan. Bahwa upacara agama kita di bali ini boros, membuat orang jadi miskin.

Kita harus buat yang sederhana. Gunakan nilai-nilai dari luar. Jangan percaya itu. Itu sangat berbahaya. Tidak hanya membahayakan

fundamental kehidupan masyarakat dalam menjalankan Hindu di Bali, tapi juga rusak tatanan seni budaya di Bali,” tegas Koster.

Ia pun meminta agar krama mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur. Jangan sampai terpengaruh oleh ajaran yang tidak menjadi sumber keyakinan masyarakat Bali.

Sementara itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana secara terpisah berharap agar bendesa di masing-masing desa adat benar-benar memperhatikan keberadaan aliran kepercayaan.

“Sesuai keputusan MDA, ajaran yang tidak berdasarkan kearifan lokal, tidak direstui lagi. Ini murni untuk menjaga kearifan lokal,” tukas Agus. 



SINGARAJA – Gubernur Bali Wayan Koster kembali mengkritisi keberadaan sampradaya (aliran) keyakinan di Bali.

Hal itu diungkapkan Gubernur Bali Wayan Koster, saat memberikan sambutan pada peletakan batu pertama Gedung Majelis Desa Adat (MDA) Buleleng.

Gedung MDA Buleleng dibangun di Jalan Ratna, Kelurahan Banyuasri dengan anggaran hingga Rp 3 miliar.

Proses peletakan batu pertama itu dihadiri Gubernur Koster yang didampingi Bendesa Agung Majelis Adat (MDA) Bali Ida Panglingsir Putra Sukahet, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, dan Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra.

Usai melakukan peletakan batu pertama, Koster langsung bertolak ke Gedung Kesenian Gde Manik guna memberikan sambutan di hadapan bendesa adat dan perbekel di Kabupaten Buleleng.

Dalam kesempatan itu, Koster meminta agar masyarakat Buleleng – utamanya kaum muda – agar tidak mudah terpengaruh nilai-nilai luar yang berpotensi merusak tatanan kehidupan beragama di Bali.

Utamanya yang terkait dengan adat istiadat dan seni budaya di Bali. “Jangan terpengaruh omongan yang menyesatkan. Bahwa upacara agama kita di bali ini boros, membuat orang jadi miskin.

Kita harus buat yang sederhana. Gunakan nilai-nilai dari luar. Jangan percaya itu. Itu sangat berbahaya. Tidak hanya membahayakan

fundamental kehidupan masyarakat dalam menjalankan Hindu di Bali, tapi juga rusak tatanan seni budaya di Bali,” tegas Koster.

Ia pun meminta agar krama mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur. Jangan sampai terpengaruh oleh ajaran yang tidak menjadi sumber keyakinan masyarakat Bali.

Sementara itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana secara terpisah berharap agar bendesa di masing-masing desa adat benar-benar memperhatikan keberadaan aliran kepercayaan.

“Sesuai keputusan MDA, ajaran yang tidak berdasarkan kearifan lokal, tidak direstui lagi. Ini murni untuk menjaga kearifan lokal,” tukas Agus. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/