alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Ya Tuhan…Jalan Dihadang Tembok, Siswa Belajar di Halaman

RadarBali.com – Lantaran jalan menuju sekolah mereka ditembok, puluhan siswa MI Al Ittihad harus belajar di pinggir jalan.

Itu karena pihak sekolah mereka terlibat sengketa tanah. Aksi penembokan itu baru diketahui oleh para siswa dan guru pada Senin pagi (9/10).

Akibat penembokan itu, pihak sekolah menggelar aksi mogok dengan menggelar pelajaran sesaat di halaman Paud R.A Khodijah Muslimat NU.

Tak lama kemudian, para siswa dipulangkan lebih awal. “Kami belajar di halaman sebentar, setelah itu dipulangkan sama guru,” ujar siswa kelas 4 MI Al Ittihad, Muhamad Yudi.

Yudi bersama siswa lainya mengatakan setiap hari memang para siswa dan guru melintasi gang kecil di sebelah timur Paud R.A Khodijah Muslimat NU.

Sekolah mereka itu tepat berada di belakang Paud milik Yayasan Pendidikan Muslimat NU Bina Bakti Wanita Kabupaten Gianyar.

“Jalurnya memang kecil, tapi motor bisa lewat dan saya sekolah juga selalu jalan kaki lewat sini,” ujar Yudi.

Salah satu orang tua siswa, Muhamad Sadi mengatakan, pada Sabtu lalu (7/10) tidak ada pembatas permanen yang menutup jalur tersebut.

Tiba-tiba saja Senin pagi kemarin mendadak ada tembok setinggi satu meter. Kemudian di depan tembok, tepat di pinggir jalan ada tumpukan batu.

Selain itu paving yang ada di gang tersebut juga dibongkar. “Tidak ada pemberitahuan atau apapun sebelumnya kepada saya selaku orang tua siswa, tiba-tiba saja saya di telpon oleh seorang guru disuruh menjemput anak,” ujar pria asal Lombok itu.

sebagai orang tua siswa, pihaknya hanya bisa berharap agar tembok itu kembali di bongkar. Sehingga siswa bisa melintasi jalur tersebut seperti sebelumnya.

“Setahu saya tidak pernah ada masalah, jadi untuk apa ditutup, kalau bisa tolong dibuka saja, agar anak bisa bebas bermain,” pintanya.

Kepala sekolah MI Al Ittihad Haji Agus Salim mengatakan, penutupan gang ini memang mengganggu kenyamanan sebanyak 95 siswa yang menuntut ilmu di sekolah tersebut.

“Banyak anak-anak dan orang tua sudah menyampaikan komplain ke saya, tapi saya tidak bisa berbuat apa,” jelasnya.

Menurut Agus Salim, pihaknya menempati bangunan sekolah MI Al Ittihad sejak 2014 lalu. Sampai kini diakui memang ada masalah terkait sengketa lahan sekolah tersebut.

“Persaingan madrasah itu tidak ada, kami memang hanya sedikit kurang jelas dalam status tanah saja,” jelasnya.

Dijelaskan Agus Salim, mengenai penutupan gang ini, sebenarnya sudah ada jalan dari arah barat berada di sebelah utara kawasan sekolah MI Al Ittihad itu.

Namun para siswa lebih dominan dan terbiasa melintas jalur gang kecil itu. “Walaupun ada akses ke sana, saya hanya penasaran apa manfaatnya ditutup jalur ini, sampai tadi siswa kami harus belajar di halaman,” keluhnya.



RadarBali.com – Lantaran jalan menuju sekolah mereka ditembok, puluhan siswa MI Al Ittihad harus belajar di pinggir jalan.

Itu karena pihak sekolah mereka terlibat sengketa tanah. Aksi penembokan itu baru diketahui oleh para siswa dan guru pada Senin pagi (9/10).

Akibat penembokan itu, pihak sekolah menggelar aksi mogok dengan menggelar pelajaran sesaat di halaman Paud R.A Khodijah Muslimat NU.

Tak lama kemudian, para siswa dipulangkan lebih awal. “Kami belajar di halaman sebentar, setelah itu dipulangkan sama guru,” ujar siswa kelas 4 MI Al Ittihad, Muhamad Yudi.

Yudi bersama siswa lainya mengatakan setiap hari memang para siswa dan guru melintasi gang kecil di sebelah timur Paud R.A Khodijah Muslimat NU.

Sekolah mereka itu tepat berada di belakang Paud milik Yayasan Pendidikan Muslimat NU Bina Bakti Wanita Kabupaten Gianyar.

“Jalurnya memang kecil, tapi motor bisa lewat dan saya sekolah juga selalu jalan kaki lewat sini,” ujar Yudi.

Salah satu orang tua siswa, Muhamad Sadi mengatakan, pada Sabtu lalu (7/10) tidak ada pembatas permanen yang menutup jalur tersebut.

Tiba-tiba saja Senin pagi kemarin mendadak ada tembok setinggi satu meter. Kemudian di depan tembok, tepat di pinggir jalan ada tumpukan batu.

Selain itu paving yang ada di gang tersebut juga dibongkar. “Tidak ada pemberitahuan atau apapun sebelumnya kepada saya selaku orang tua siswa, tiba-tiba saja saya di telpon oleh seorang guru disuruh menjemput anak,” ujar pria asal Lombok itu.

sebagai orang tua siswa, pihaknya hanya bisa berharap agar tembok itu kembali di bongkar. Sehingga siswa bisa melintasi jalur tersebut seperti sebelumnya.

“Setahu saya tidak pernah ada masalah, jadi untuk apa ditutup, kalau bisa tolong dibuka saja, agar anak bisa bebas bermain,” pintanya.

Kepala sekolah MI Al Ittihad Haji Agus Salim mengatakan, penutupan gang ini memang mengganggu kenyamanan sebanyak 95 siswa yang menuntut ilmu di sekolah tersebut.

“Banyak anak-anak dan orang tua sudah menyampaikan komplain ke saya, tapi saya tidak bisa berbuat apa,” jelasnya.

Menurut Agus Salim, pihaknya menempati bangunan sekolah MI Al Ittihad sejak 2014 lalu. Sampai kini diakui memang ada masalah terkait sengketa lahan sekolah tersebut.

“Persaingan madrasah itu tidak ada, kami memang hanya sedikit kurang jelas dalam status tanah saja,” jelasnya.

Dijelaskan Agus Salim, mengenai penutupan gang ini, sebenarnya sudah ada jalan dari arah barat berada di sebelah utara kawasan sekolah MI Al Ittihad itu.

Namun para siswa lebih dominan dan terbiasa melintas jalur gang kecil itu. “Walaupun ada akses ke sana, saya hanya penasaran apa manfaatnya ditutup jalur ini, sampai tadi siswa kami harus belajar di halaman,” keluhnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/