alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Terungkap! Penyebab Harga Porang Turun Menurut Pengusaha Porang

TABANAN – Penyebab harga porang anjlok di Indonesia, tak terkecuali di Bali, sempat menjadi pertanyaan banyak pihak. Ada yang menyebut karena kripik porang yang diekspor dari Indonesia mengandung jamur, juga disebut karena kalah saing dengan Vietnam.

Pengusaha pabrik pengolahan porang asal Indonesia, Johan Soedjatmiko Hideki Ishiii dari PT Ambico membeberkan penyebabnya. Setidaknya, ada dua hal yang menjadikan harga porang di Indonesia turun dalam dua bulan terakhir ini, yakni sekitar Agustus 2021 lalu.

Sebelumnya Ketua DPW Perhimpunan Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N) Bali Nyoman Sunaya menyebutkan, harga umbi porang turun dari awalnya Rp8.000 menjadi kisaran Rp6.000 sampai Rp7.000 per kilogram. Bahkan, informasi lain, di Jawa sempat turun ke angka Rp5.000 per kilogram.

Dia menjelaskan, turunnya harga porang ini disebabkan banyaknya produksi porang, oknum eksportir nakal, dan porang Indonesia kalah dengan para eksportir dari Vietnam.

“Penyebabnya karena produksi porang dalam negeri melimpah, inilah yang membuat turun harga umbi porang. Apalagi produksi porang Indonesia bersaing dengan negara Vietnam,” kata Nyoman Sunaya.

Di sisi lain, kata Sunaya, di Indonesia juga baru terdapat satu pabrik pengolah porang yang benar-benar melakukan pemurnian glukomanan umbi porang yakni PT. Ambiko yang ada di Pasuruan, Jawa Timur. Sedangkan sebagian besar porang Indonesia untuk memenuhi pasar ekspor.

Namun, Johan memberikan pandangan yang berbeda terkait jatuhnya harga porang dalam dua bulan terakhir ini.

Baca Juga:  UPDATE! Dikatai C*c*ng saat Beli Minuman, Habisi Nenek Renta Pagi Buta

- Advertisement -

Dia mengakui, porang yang sudah berbentuk kripik (chip atau irisan porang yang sudah dikeringkan) sempat diekspor langsung dari Indonesia ke pasar Tiongkok. Di kemudian hari, muncul kasus kripik porang jamuran karena kurang kering. Sehingga Tiongkok melarang atau menghentikan impor kripik porang dari Indonesia. 

Akan tetapi,  menurut Johan, kasus kripik porang jamuran itu sudah berlangsung lama. Bukan berbarengan dengan turunnya harga porang akhir-akhir ini. Sekadar diketahui, ekspor keripik porang Indonesia ke Tiongkok memang distop sejak 1 Juni 2020 lalu. Artinya jauh sebelum harga porang jatuh dalam dua bulan terakhir.

Akibat di-banned (dilarang) Tiongkok, lanjut Johan, akhirnya dari 20 pabrik penghasil kripik porang tinggal lima saja yang bertahan dan bisa mengekspor ke luar negeri.

Kata Johan, lima pabrik porang ini akhirnya tetap bisa mengekspor ke Tiongkok namun harus melalui Thailand. Artinya, ekspor kripik porang ini tidak langsung ke Tiongkok.

Di Thailand, kripik porang asal Indonesia itu diolah terlebih dulu sedemikain rupa sebelum diekspor ke Tiongkok.

“Lima (pabrik kripik porang) ini punya koneksi untuk bisa buat proses tepung di Thailand, terus diekspor ke China,” jelas Johan saat menjadi tamu dalam podcast dengan Dahlan Iskan yang disiarkan di Youtube DI’s Way, 8 September 2021 lalu.

Terkait produsen porang, Johan tidak menyebut Vietnam sebagai saingan Indonesia. Kata dia, pesaing utama dan masih menjadi raja porang di Asia Tenggara adalah Myanmar. Untuk itu, tak heran bila harga porang Indonesia dipengaruhi harga porang di Myanmar. Ketika harga porang di Myanmar jatuh, di Indonesia kemungkinan akan jatuh pula. 

Baca Juga:  Unud Buka 46 Lowongan Calon Dosen, Ini Jadwal Resminya..

Nah, terkait penyebab anjloknya harga porang Indonesia, Johan punya dua pandangan yang didapat setelah melakukan konfirmasi ke sejumlah pihak, utamanya di Tiongkok.

Pertama, kata Johan, harga porang turun karena tanaman porang di Tiongkok sendiri sedang panen raya. Sehingga harga porang di Tiongkok juga turun drastis.

Dia menjelaskan, permintaan porang di Indonesia memang sempat tinggi dan mengakibatkan harga melonjak pada 2018-2019. Dikatakan, salah satu penyebab tingginya harga porang pada waktu itu adalah sebagian wilayah Tiongkok sempat dihantam bencana gempa dan banjir yang mengakibatkan rusaknya pertanian, termasuk porang.

Sedangkan pada tahun 2020, tanaman porang di Tiongkok kembali bangkit. Sehingga tahun itu mulai panen raya lagi. 

Kedua, lanjut Johan, penyebab turunnya harga porang Indonesia karena panen raya di Tiongkok itu, maka porang dari Thailand dan Myanmar juga distop. Pengusaha di Tiongkok mendahulukan porang produk dalam negeri.

“Tahun ini, di Thailand dan Myanmar pun distop. Baru satu bulan lalu (Agustus) distop. Dari sana banyak jalur-jalur resmi distop. Akhirnya pembelian tidak seramai dulu lagi,” kata Johan.

“Jadi kemungkinan ada dua kemungkinan itu yang terbesar,” imbuh Johan.

- Advertisement -

TABANAN – Penyebab harga porang anjlok di Indonesia, tak terkecuali di Bali, sempat menjadi pertanyaan banyak pihak. Ada yang menyebut karena kripik porang yang diekspor dari Indonesia mengandung jamur, juga disebut karena kalah saing dengan Vietnam.

Pengusaha pabrik pengolahan porang asal Indonesia, Johan Soedjatmiko Hideki Ishiii dari PT Ambico membeberkan penyebabnya. Setidaknya, ada dua hal yang menjadikan harga porang di Indonesia turun dalam dua bulan terakhir ini, yakni sekitar Agustus 2021 lalu.

Sebelumnya Ketua DPW Perhimpunan Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N) Bali Nyoman Sunaya menyebutkan, harga umbi porang turun dari awalnya Rp8.000 menjadi kisaran Rp6.000 sampai Rp7.000 per kilogram. Bahkan, informasi lain, di Jawa sempat turun ke angka Rp5.000 per kilogram.

Dia menjelaskan, turunnya harga porang ini disebabkan banyaknya produksi porang, oknum eksportir nakal, dan porang Indonesia kalah dengan para eksportir dari Vietnam.

“Penyebabnya karena produksi porang dalam negeri melimpah, inilah yang membuat turun harga umbi porang. Apalagi produksi porang Indonesia bersaing dengan negara Vietnam,” kata Nyoman Sunaya.

Di sisi lain, kata Sunaya, di Indonesia juga baru terdapat satu pabrik pengolah porang yang benar-benar melakukan pemurnian glukomanan umbi porang yakni PT. Ambiko yang ada di Pasuruan, Jawa Timur. Sedangkan sebagian besar porang Indonesia untuk memenuhi pasar ekspor.

Namun, Johan memberikan pandangan yang berbeda terkait jatuhnya harga porang dalam dua bulan terakhir ini.

Baca Juga:  Unud Buka 46 Lowongan Calon Dosen, Ini Jadwal Resminya..

Dia mengakui, porang yang sudah berbentuk kripik (chip atau irisan porang yang sudah dikeringkan) sempat diekspor langsung dari Indonesia ke pasar Tiongkok. Di kemudian hari, muncul kasus kripik porang jamuran karena kurang kering. Sehingga Tiongkok melarang atau menghentikan impor kripik porang dari Indonesia. 

Akan tetapi,  menurut Johan, kasus kripik porang jamuran itu sudah berlangsung lama. Bukan berbarengan dengan turunnya harga porang akhir-akhir ini. Sekadar diketahui, ekspor keripik porang Indonesia ke Tiongkok memang distop sejak 1 Juni 2020 lalu. Artinya jauh sebelum harga porang jatuh dalam dua bulan terakhir.

Akibat di-banned (dilarang) Tiongkok, lanjut Johan, akhirnya dari 20 pabrik penghasil kripik porang tinggal lima saja yang bertahan dan bisa mengekspor ke luar negeri.

Kata Johan, lima pabrik porang ini akhirnya tetap bisa mengekspor ke Tiongkok namun harus melalui Thailand. Artinya, ekspor kripik porang ini tidak langsung ke Tiongkok.

Di Thailand, kripik porang asal Indonesia itu diolah terlebih dulu sedemikain rupa sebelum diekspor ke Tiongkok.

“Lima (pabrik kripik porang) ini punya koneksi untuk bisa buat proses tepung di Thailand, terus diekspor ke China,” jelas Johan saat menjadi tamu dalam podcast dengan Dahlan Iskan yang disiarkan di Youtube DI’s Way, 8 September 2021 lalu.

Terkait produsen porang, Johan tidak menyebut Vietnam sebagai saingan Indonesia. Kata dia, pesaing utama dan masih menjadi raja porang di Asia Tenggara adalah Myanmar. Untuk itu, tak heran bila harga porang Indonesia dipengaruhi harga porang di Myanmar. Ketika harga porang di Myanmar jatuh, di Indonesia kemungkinan akan jatuh pula. 

Baca Juga:  Dikarantina 14 Hari, Warga Banjar Munduk Keluhkan Kebutuhan Bumbu

Nah, terkait penyebab anjloknya harga porang Indonesia, Johan punya dua pandangan yang didapat setelah melakukan konfirmasi ke sejumlah pihak, utamanya di Tiongkok.

Pertama, kata Johan, harga porang turun karena tanaman porang di Tiongkok sendiri sedang panen raya. Sehingga harga porang di Tiongkok juga turun drastis.

Dia menjelaskan, permintaan porang di Indonesia memang sempat tinggi dan mengakibatkan harga melonjak pada 2018-2019. Dikatakan, salah satu penyebab tingginya harga porang pada waktu itu adalah sebagian wilayah Tiongkok sempat dihantam bencana gempa dan banjir yang mengakibatkan rusaknya pertanian, termasuk porang.

Sedangkan pada tahun 2020, tanaman porang di Tiongkok kembali bangkit. Sehingga tahun itu mulai panen raya lagi. 

Kedua, lanjut Johan, penyebab turunnya harga porang Indonesia karena panen raya di Tiongkok itu, maka porang dari Thailand dan Myanmar juga distop. Pengusaha di Tiongkok mendahulukan porang produk dalam negeri.

“Tahun ini, di Thailand dan Myanmar pun distop. Baru satu bulan lalu (Agustus) distop. Dari sana banyak jalur-jalur resmi distop. Akhirnya pembelian tidak seramai dulu lagi,” kata Johan.

“Jadi kemungkinan ada dua kemungkinan itu yang terbesar,” imbuh Johan.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/