alexametrics
25.3 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Lima Kali Meletus, Tebarkan Hujan Abu Sebesar Butiran Kacang Ijo

AMLAPURA – Aktifitas Gunung Agung terus mengalami peningkatan kemarin. Sekalipun tampak tenang, namun gunung tertinggi di Bali tersebut tercatat lima kali meletus.

Letupan ini diakui pihak PVMBG sebagai letusan freatik. Dan, letusan freatik seperti ini memang sering terjadi di gunung api yang tengah masa aktif.

Usai letusan freatik, di laporkan di Desa Ban, Kubu, tepatnya di Dusun Temagung, terjadi hujan abu. Butiran hujan abu lebih besar dan berbunyi ketika mengenai genteng meski tidak sampai pecah.

Dilaporkan, butiran abu tersebut sebesar butiran kacang ijo. Kalau di pencet hancur dan berbentuk abu kebanyakan.

Perbekel Ban Wayan Potag mengakui wilayahnya berada di di KRB II dan III. Sebagian besar sudah mengungsi.

Baca Juga:  Berbulan-bulan Mati Suri, Gunung Agung Kembali Erupsi Pagi Buta

“Kalau kejadian letusan sekitar pukul 08.30 wita,” ujar Potag. Hujan abu dilaporkan terjadi sampai pukul 09.00 wita.

Tidak ada laporan kerusakan rumah akibat hujan abu yang kemudian dikenal dengan sebutan hujan lapili tersebut.

Kasubdit Mitigasi Gunungapi Wilayah Timur PVMBG  Devy Kamil Syahbana mengakui, kalau lapili merupakan butiran abu yang disemburkan gunung api.

Menurut Devy, hujan abu lapili bisa terjadi karena kondisi kelembaban dan adanya gaya elektrostatis. Ini bisa terjadi saat abu berinteraksi dengan air. Air itu kemudian sudah ada di kawah.

“Selain itu bisa juga terjadi ketika abu yang disemburkan berinteraksi dengan air hujan atau awan,” ujar Devy Kamil Syahbana kemarin.

Baca Juga:  Tarik Guru di Pengungsian, Ini Alasan Tak Masuk Akal Disdik Karangasem

Menurut laporan saksi mata di lapangan, hujan lapili juga terjadi di Banjar Jatityuhu, dan Banjar Penek, Desa Ban.

“Berlangsung cepat, tidak ada abu, tiba-tiba genting berbunyi. Ketika di cek, ada butiran debu turun dari atas kena di bagian genteng,” ujar Perbekel Ban Wayan Potag.

Potag sendiri sempat terkena abu karena saat itu kebetulan sedang duduk – duduk di teras rumah. Dia juga sudah mengambil sampel abu tersebut.

“Tidak menimbulkan gatal,” ujar Potag. Kejadian ini sempat membuat warga heboh. Hanya saja tidak sampai membuat kepanikan. Kejadian ini juga sudah dilaporkan melalui Pasebaya Gunung Agung.  



AMLAPURA – Aktifitas Gunung Agung terus mengalami peningkatan kemarin. Sekalipun tampak tenang, namun gunung tertinggi di Bali tersebut tercatat lima kali meletus.

Letupan ini diakui pihak PVMBG sebagai letusan freatik. Dan, letusan freatik seperti ini memang sering terjadi di gunung api yang tengah masa aktif.

Usai letusan freatik, di laporkan di Desa Ban, Kubu, tepatnya di Dusun Temagung, terjadi hujan abu. Butiran hujan abu lebih besar dan berbunyi ketika mengenai genteng meski tidak sampai pecah.

Dilaporkan, butiran abu tersebut sebesar butiran kacang ijo. Kalau di pencet hancur dan berbentuk abu kebanyakan.

Perbekel Ban Wayan Potag mengakui wilayahnya berada di di KRB II dan III. Sebagian besar sudah mengungsi.

Baca Juga:  Gunung Agung Kembali Erupsi Siang Bolong, PVMBG Imbau Warga Waspada

“Kalau kejadian letusan sekitar pukul 08.30 wita,” ujar Potag. Hujan abu dilaporkan terjadi sampai pukul 09.00 wita.

Tidak ada laporan kerusakan rumah akibat hujan abu yang kemudian dikenal dengan sebutan hujan lapili tersebut.

Kasubdit Mitigasi Gunungapi Wilayah Timur PVMBG  Devy Kamil Syahbana mengakui, kalau lapili merupakan butiran abu yang disemburkan gunung api.

Menurut Devy, hujan abu lapili bisa terjadi karena kondisi kelembaban dan adanya gaya elektrostatis. Ini bisa terjadi saat abu berinteraksi dengan air. Air itu kemudian sudah ada di kawah.

“Selain itu bisa juga terjadi ketika abu yang disemburkan berinteraksi dengan air hujan atau awan,” ujar Devy Kamil Syahbana kemarin.

Baca Juga:  Menyusut Drastis, Magma Gunung Agung Tinggal 20,8 Juta Kubik

Menurut laporan saksi mata di lapangan, hujan lapili juga terjadi di Banjar Jatityuhu, dan Banjar Penek, Desa Ban.

“Berlangsung cepat, tidak ada abu, tiba-tiba genting berbunyi. Ketika di cek, ada butiran debu turun dari atas kena di bagian genteng,” ujar Perbekel Ban Wayan Potag.

Potag sendiri sempat terkena abu karena saat itu kebetulan sedang duduk – duduk di teras rumah. Dia juga sudah mengambil sampel abu tersebut.

“Tidak menimbulkan gatal,” ujar Potag. Kejadian ini sempat membuat warga heboh. Hanya saja tidak sampai membuat kepanikan. Kejadian ini juga sudah dilaporkan melalui Pasebaya Gunung Agung.  


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/