alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Diterjang Gelombang Tinggi 5 hari, Pesisir Gilimanuk Tergerus 10 Meter

NEGARA Gelombang tinggi di pesisir Jembrana sudah berakhir. Namun, gelombang tinggi yang terjadi selama lima hari secara berturut membuat abrasi semakin parah.

Tidak hanya daratan yang hilang, sejumlah rumah warga rusak parah bahkan sudah ada yang hilang, karena tanah yang sebelumnya dibangun rumah sudah hilang tergerus abrasi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, gelombang tinggi yang terjadi di pesisir selatan Jembrana terjadi sejak Jumat (3/12) lalu.

Gelombang tinggi yang terjadi pada malam hari, membuat warga harus mengevakuasi keluarga dan barang berharganya ke tempat lebih aman.

Seperti yang terjadi di pesisir Pantai Jineng Agung, Kelurahan Gilimanuk dan Banjar Pebuahan Desa Banyubiru, Jembrana.

Meski gelombang sudah berangsur reda, warga masih tetap waspada karena potensi gelombang tinggi masih terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga:  Masih Terkendala Proses Hukum, Dewan Janji Akan Tempuh Upaya Mediasi

“Selama gelombang tinggi lima hari kemarin, sekitar 5 meter sampai 10 meter daratan tergerus,” kata Yanto, salah satu warga Banjar Pebuahan.

- Advertisement -

Akibat kerasnya gelombang makin memperparah abrasi. 

Bahkan akibat gelombang tinggi, tempat usahanya terdampak. Warung makan yang dikelolanya, sebelum terjadi gelombang tinggi masih berdiri di seberang jalan pesisir pantai.

Namun, akibat gelombang tinggi, tempat usahanya terpaksa dipindah karena tanahnya sudah amblas tergerus abrasi.

“Kalau dibiarkan, abrasi semakin parah, rumah dan tempat usaha warga juga hilang,” ungkapnya.

Sementara itu, dari keterangan sejumlah warga, sebelum abrasi terjadi rumah warga berada jauh dari garis pantai. Jarak antara jalan desa dengan pesisir pantai sekitar 50 meter hingga 100 meter. 

Tetapi, setelah abrasi semakin parah saat ini jalan juga putus dan saat ini berganti menjadi pantai.

Baca Juga:  Dorong Sampan untuk Tambahan Bekal Sekolah

Abrasi terparah terjadi sekitar 10 tahun terakhir, namun penanganan abrasi masih belum terealisasi.

- Advertisement -

NEGARA Gelombang tinggi di pesisir Jembrana sudah berakhir. Namun, gelombang tinggi yang terjadi selama lima hari secara berturut membuat abrasi semakin parah.

Tidak hanya daratan yang hilang, sejumlah rumah warga rusak parah bahkan sudah ada yang hilang, karena tanah yang sebelumnya dibangun rumah sudah hilang tergerus abrasi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, gelombang tinggi yang terjadi di pesisir selatan Jembrana terjadi sejak Jumat (3/12) lalu.

Gelombang tinggi yang terjadi pada malam hari, membuat warga harus mengevakuasi keluarga dan barang berharganya ke tempat lebih aman.

Seperti yang terjadi di pesisir Pantai Jineng Agung, Kelurahan Gilimanuk dan Banjar Pebuahan Desa Banyubiru, Jembrana.

Meski gelombang sudah berangsur reda, warga masih tetap waspada karena potensi gelombang tinggi masih terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga:  Jelang Pilkada, Jumlah Pasien Sembuh Covid-19 di Bali Meningkat

“Selama gelombang tinggi lima hari kemarin, sekitar 5 meter sampai 10 meter daratan tergerus,” kata Yanto, salah satu warga Banjar Pebuahan.

Akibat kerasnya gelombang makin memperparah abrasi. 

Bahkan akibat gelombang tinggi, tempat usahanya terdampak. Warung makan yang dikelolanya, sebelum terjadi gelombang tinggi masih berdiri di seberang jalan pesisir pantai.

Namun, akibat gelombang tinggi, tempat usahanya terpaksa dipindah karena tanahnya sudah amblas tergerus abrasi.

“Kalau dibiarkan, abrasi semakin parah, rumah dan tempat usaha warga juga hilang,” ungkapnya.

Sementara itu, dari keterangan sejumlah warga, sebelum abrasi terjadi rumah warga berada jauh dari garis pantai. Jarak antara jalan desa dengan pesisir pantai sekitar 50 meter hingga 100 meter. 

Tetapi, setelah abrasi semakin parah saat ini jalan juga putus dan saat ini berganti menjadi pantai.

Baca Juga:  Miris! Honor Guru Abdi Se Kabupaten Jembrana Nunggak Tiga Bulan

Abrasi terparah terjadi sekitar 10 tahun terakhir, namun penanganan abrasi masih belum terealisasi.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/