alexametrics
25.4 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Ancaman Abrasi Berlanjut, Warga Masih Pilih Bertahan Mengungsi

NEGARA– Ancaman ombak besar di Pantai Pebuahan masih berlanjut.

Warga yang tinggal di pesisir yang dekat dengan pantai masih memilih untuk tetap mengungsi dan mengamankan barang-barang berharga mereka.

Waga memilih bertahan mengungsi di rumah sanak saudara mereka untuk mengantisipasi ombak besar yang diprediksi akan terjadi pada malam purnama.

Selain itu, bagi warga korban abrasi, mereka juga berharap ada bantuan penanganan sementara untuk mengantisipasi datangnya ombak besar yang menghancurkan pemukiman.

 “Kami butuh bantuan untuk penanganan sementara, ban bekas atau karung untuk menahan abrasi,” kata Mas Riadi, 32, salah satu warga Pebuahan yang rumahnya rusak karena abrasi.

Menurutnya, akibat ombak besar yang datang pada Selasa (7/1) malam lalu, membuat gudang tempat penampungan ikan hancur.

Begitu juga dengan dapur dan sebagian rumahnya, sehingga harus mengungsi ke rumah kerabatnya yang lebih aman.

Baca Juga:  Pipa Putus Diterjang Banjir, 1600 KK di Mendoyo Bali Krisis Air Bersih

“Kalau kerugian yang sekarang puluhan juta. Kalau kerugian dari dulu lebih banyak lagi,” imbuhnya.

Warga masih waswas dengan ombak besar yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari kedepan.

Pada saat bulan Purnama, air dipastikan pasang sehingga warga mulai waspada dengan datangnya ombak besar. “Kalau air pasang sudah pasti, semoga saja tidak ada angin. Jadi ombaknya ngak besar,” terangnya.

Sementara itu menurut warga lain, Abdul Kholik, abrasi pantai yang terjadi di Pantai Pebuahan sudah sangat parah.

Dalam beberapa tahun terakhir daratan yang tergerus abrasi sekitar 50 meter, sehingga puluhan rumah sudah hancur dan warganya mengungsi ke rumah kerabatnya yang lebih aman.

 “Rumah saya sudah ngak ditempati, separuh sudah hilang,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan pendataan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, jumlah rumah yang rusak karena abrasi sejak beberapa hari terakhir mencapai 9 rumah.

Baca Juga:  Pemkab Jembrana Terima Bantuan Bus Sekolah Dari Kemenhub RI

Dari jumlah tersebut tiga unit rumah terparah, sehingga sisa dari bangunan terpaksa dibongkar pemiliknya.

Total kerugian warga yang terdampak tersebut berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 180 juta.

“Sudah kami lakukan pendataan. Warga juga sudah kami imbau untuk waspada dengan ombak besar yang berpotensi masih terjadi,” kata Kalaksa BPBD Jembrana I Ketut Eko Susilo Artha Permana.

Pihaknya mengerahkan tim patroli untuk memantau lokasi rawan bencana seperti Pantai Pebuahan.

Bersama sejumlah instansi terkait sudah membuat posko darurat siaga bencana menghadapi cuaca ekstrem ini. Relawan dari BPBD Jembrana juga diimbau untuk selalu memantau wilayahnya agar bisa dilakukan penanganan segera. “Kami akan rutin patroli untuk antisipasi,” tandasnya. 



NEGARA– Ancaman ombak besar di Pantai Pebuahan masih berlanjut.

Warga yang tinggal di pesisir yang dekat dengan pantai masih memilih untuk tetap mengungsi dan mengamankan barang-barang berharga mereka.

Waga memilih bertahan mengungsi di rumah sanak saudara mereka untuk mengantisipasi ombak besar yang diprediksi akan terjadi pada malam purnama.

Selain itu, bagi warga korban abrasi, mereka juga berharap ada bantuan penanganan sementara untuk mengantisipasi datangnya ombak besar yang menghancurkan pemukiman.

 “Kami butuh bantuan untuk penanganan sementara, ban bekas atau karung untuk menahan abrasi,” kata Mas Riadi, 32, salah satu warga Pebuahan yang rumahnya rusak karena abrasi.

Menurutnya, akibat ombak besar yang datang pada Selasa (7/1) malam lalu, membuat gudang tempat penampungan ikan hancur.

Begitu juga dengan dapur dan sebagian rumahnya, sehingga harus mengungsi ke rumah kerabatnya yang lebih aman.

Baca Juga:  Alamak…Gara-gara Rebutan Penumpang, Dua Sopir Angkut Saling Cakcak

“Kalau kerugian yang sekarang puluhan juta. Kalau kerugian dari dulu lebih banyak lagi,” imbuhnya.

Warga masih waswas dengan ombak besar yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari kedepan.

Pada saat bulan Purnama, air dipastikan pasang sehingga warga mulai waspada dengan datangnya ombak besar. “Kalau air pasang sudah pasti, semoga saja tidak ada angin. Jadi ombaknya ngak besar,” terangnya.

Sementara itu menurut warga lain, Abdul Kholik, abrasi pantai yang terjadi di Pantai Pebuahan sudah sangat parah.

Dalam beberapa tahun terakhir daratan yang tergerus abrasi sekitar 50 meter, sehingga puluhan rumah sudah hancur dan warganya mengungsi ke rumah kerabatnya yang lebih aman.

 “Rumah saya sudah ngak ditempati, separuh sudah hilang,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan pendataan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, jumlah rumah yang rusak karena abrasi sejak beberapa hari terakhir mencapai 9 rumah.

Baca Juga:  Berkas Korupsi Santunan Kematian Rampung, Berpotensi Tambah Tersangka

Dari jumlah tersebut tiga unit rumah terparah, sehingga sisa dari bangunan terpaksa dibongkar pemiliknya.

Total kerugian warga yang terdampak tersebut berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 180 juta.

“Sudah kami lakukan pendataan. Warga juga sudah kami imbau untuk waspada dengan ombak besar yang berpotensi masih terjadi,” kata Kalaksa BPBD Jembrana I Ketut Eko Susilo Artha Permana.

Pihaknya mengerahkan tim patroli untuk memantau lokasi rawan bencana seperti Pantai Pebuahan.

Bersama sejumlah instansi terkait sudah membuat posko darurat siaga bencana menghadapi cuaca ekstrem ini. Relawan dari BPBD Jembrana juga diimbau untuk selalu memantau wilayahnya agar bisa dilakukan penanganan segera. “Kami akan rutin patroli untuk antisipasi,” tandasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/