alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Kembalikan Sumber Mata Air, Petani Munduk Diminta Ganti Jenis Tanaman

SINGARAJA – Petani di Desa Munduk, diminta mengganti jenis tanaman di lahan pertanian mereka. Jenis tanaman yang tadinya hanya semusim, diarahkan menjadi tanaman keras.

Peralihan tanaman yang digeluti petani di Desa Munduk sebenarnya telah terjadi sejak belasan tahun terakhir.

Petani tadinya menanam kopi. Namun, karena hasilnya tak sebanding, petani memilih beralih ke tanaman semusim.

Kini petani setempat, lebih banyak menanam bunga untuk pemenuhan kebutuhan upakara. Ada pula yang menanam sayur mayur seperti kubis atau kol.

Sementara tanaman-tanaman keras, seperti kopi, sudah sangat sedikit. Hal itu cukup berpengaruh dengan sebaran mata air di wilayah hilir.

Sejumlah desa mengalami kekeringan, karena debit air tak seperti dulu. Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan, kondisi itu diakui menjadi masalah tersendiri.

Baca Juga:  Perkuat Silaturahmi, Pramuka Jembrana Buka Bersama

Ia menyebut ada puluhan hektare lahan di wilayah Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, yang beralih vegetasi. Vegetasi yang tadinya tanaman keras, berubah menjadi kebun sayur dan bunga.

Agus mengklaim pihaknya sudah berkali-kali melakukan sosialisasi di kawasan tersebut. Hanya saja petani masih enggan beralih vegetasi.

Sebab butuh waktu untuk mengalihkan vegetasi dari tanaman semusim ke tanaman keras. Selain itu hasil dari tanaman semusim dianggap lebih cepat didapat.

“Saya sebenarnya punya ide supaya lahan-lahan itu dibebaskan dan nanti dikelola pemerintah. Setelah itu vegetasinya dialihkan jadi tanaman keras lagi.

Masyarakat yang dulu mengelola lahannya, tetap diberdayakan di sana. Ini akan saya bicarakan dengan pak gubernur,” kata Bupati Agus.

Baca Juga:  Lima Tahun Rusak, Warga Sangket Terpaksa Iuran Perbaiki Jalan Sendiri

Bupati Agus mengklaim masalah peralihan vegetasi itu, sudah berdampak pada kondisi mata air di wilayah hilir.

“Saya nggak mau bicara yang jauh-jauh. Contoh saja, maaf ya, di tempat saya di Banyuatis itu, tadinya ada tujuh mata air. Sekarang tinggal dua mata air saja,” papar Bupati Agus. 



SINGARAJA – Petani di Desa Munduk, diminta mengganti jenis tanaman di lahan pertanian mereka. Jenis tanaman yang tadinya hanya semusim, diarahkan menjadi tanaman keras.

Peralihan tanaman yang digeluti petani di Desa Munduk sebenarnya telah terjadi sejak belasan tahun terakhir.

Petani tadinya menanam kopi. Namun, karena hasilnya tak sebanding, petani memilih beralih ke tanaman semusim.

Kini petani setempat, lebih banyak menanam bunga untuk pemenuhan kebutuhan upakara. Ada pula yang menanam sayur mayur seperti kubis atau kol.

Sementara tanaman-tanaman keras, seperti kopi, sudah sangat sedikit. Hal itu cukup berpengaruh dengan sebaran mata air di wilayah hilir.

Sejumlah desa mengalami kekeringan, karena debit air tak seperti dulu. Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan, kondisi itu diakui menjadi masalah tersendiri.

Baca Juga:  Positif Covid-19, Kasubag Keuangan Pol PP Buleleng Meninggal Dunia

Ia menyebut ada puluhan hektare lahan di wilayah Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, yang beralih vegetasi. Vegetasi yang tadinya tanaman keras, berubah menjadi kebun sayur dan bunga.

Agus mengklaim pihaknya sudah berkali-kali melakukan sosialisasi di kawasan tersebut. Hanya saja petani masih enggan beralih vegetasi.

Sebab butuh waktu untuk mengalihkan vegetasi dari tanaman semusim ke tanaman keras. Selain itu hasil dari tanaman semusim dianggap lebih cepat didapat.

“Saya sebenarnya punya ide supaya lahan-lahan itu dibebaskan dan nanti dikelola pemerintah. Setelah itu vegetasinya dialihkan jadi tanaman keras lagi.

Masyarakat yang dulu mengelola lahannya, tetap diberdayakan di sana. Ini akan saya bicarakan dengan pak gubernur,” kata Bupati Agus.

Baca Juga:  Sembuh, 2 Pasien Positif Covid-19 dan 7 PDP di Klungkung Boleh Pulang

Bupati Agus mengklaim masalah peralihan vegetasi itu, sudah berdampak pada kondisi mata air di wilayah hilir.

“Saya nggak mau bicara yang jauh-jauh. Contoh saja, maaf ya, di tempat saya di Banyuatis itu, tadinya ada tujuh mata air. Sekarang tinggal dua mata air saja,” papar Bupati Agus. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/