alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Warga Yeh Gangga Sukses Olah Air Payau Jadi Air Tawar, Hasilnya…

TABANAN – Inovasi warga Banjar Dinas Yeh Gangga, Desa Sudimara, Tabanan, patut diacungi jempol.

Mereka sukses mengolah air payau menjadi air bersih agar layak dikonsumsi. Pengolahan air payau menjadi air bersih sudah berdiri sejak tahun 2013 silam.

Menurut Bendesa Adat Yeh Gangga I Wayan Winda, inovasi pengolahan air payau menjadi air bersih yang siap

dikonsumsi berawal dari bantuan mesin pengolah air yang diberikan Kementrian Perikanan dan Kelautan pada bulan Maret 2013.

“Saat itu kami diminta untuk mengembangkan pengolahan air tersebut hingga saat ini. Hasil pengolahan air tersebut disebut dengan nama Air Minum Water Gangga,” ujar Winda.  

Setelah satu tahun berjalan dan berhasil mengembangkan, tahun 2014 Banjar Dinas Yeh Gangga kemudian ditunjuk untuk mengikuti

Baca Juga:  Kasus Covid-19 Kian Massif, Hotel Jimbarwana Jadi Tempat Isolasi

lomba tentang pengolahan air bersih yang diselenggarakan oleh Kementrian Perikanan dan Kelautan untuk mewakili Provinsi Bali. 

“Astungkara kita di Banjar Dinas Yeh Gangga memperoleh Juara I di tingkat Nasional dan berhasil mengalahkan 80 perserta lainnya di seluruh Indonesia,” kata Winda.

Winda menambahkan, air payau yang sudah diolah menjadi air tawar pihaknya juga kemas dalam bentuk air kemasan.

Yakni air botolan, air gelas dan air galon. Untuk ukuran galon yang isinya 19 liter dijual dengan harga Rp 7 ribu.

Sedangkan untuk ukuran botol 330 ml dengan isian 24 botol  perdus dijual dengan harga Rp 25 ribu saja.

“Pemasaran kami lakukan hanya sekitar daerah Yeh Gangga saja. Dan desa sekitar yang ada di Yeh Gangga. Rencana kami makan pasarkan lebih luas lagi diseluruh kecamatan yang ada di Tabanan,” tuturnya.

Baca Juga:  Bila Tak Berizin, Perahu Selerek Tak Dapat Beli Solar Bersubsidi

Mengenai produksi air rata-rata setiap harinya 85-100 galon dengan asumsi sekitar 2000 galon perbulan. Dan untuk kemasan botol kecil rata-rata 50 dus perbulan.

“Hasil penjualan air minum baik gallon maupun botol sekitar Rp 13 juta sampai Rp 15 juta perbulannya. Lumayan untuk penambahan pendapatan desa,” tandasnya.

 



TABANAN – Inovasi warga Banjar Dinas Yeh Gangga, Desa Sudimara, Tabanan, patut diacungi jempol.

Mereka sukses mengolah air payau menjadi air bersih agar layak dikonsumsi. Pengolahan air payau menjadi air bersih sudah berdiri sejak tahun 2013 silam.

Menurut Bendesa Adat Yeh Gangga I Wayan Winda, inovasi pengolahan air payau menjadi air bersih yang siap

dikonsumsi berawal dari bantuan mesin pengolah air yang diberikan Kementrian Perikanan dan Kelautan pada bulan Maret 2013.

“Saat itu kami diminta untuk mengembangkan pengolahan air tersebut hingga saat ini. Hasil pengolahan air tersebut disebut dengan nama Air Minum Water Gangga,” ujar Winda.  

Setelah satu tahun berjalan dan berhasil mengembangkan, tahun 2014 Banjar Dinas Yeh Gangga kemudian ditunjuk untuk mengikuti

Baca Juga:  Lestarikan Ekosistem Air Tawar, Tebar 10.000 Benih Ikan Nila di Mengwi

lomba tentang pengolahan air bersih yang diselenggarakan oleh Kementrian Perikanan dan Kelautan untuk mewakili Provinsi Bali. 

“Astungkara kita di Banjar Dinas Yeh Gangga memperoleh Juara I di tingkat Nasional dan berhasil mengalahkan 80 perserta lainnya di seluruh Indonesia,” kata Winda.

Winda menambahkan, air payau yang sudah diolah menjadi air tawar pihaknya juga kemas dalam bentuk air kemasan.

Yakni air botolan, air gelas dan air galon. Untuk ukuran galon yang isinya 19 liter dijual dengan harga Rp 7 ribu.

Sedangkan untuk ukuran botol 330 ml dengan isian 24 botol  perdus dijual dengan harga Rp 25 ribu saja.

“Pemasaran kami lakukan hanya sekitar daerah Yeh Gangga saja. Dan desa sekitar yang ada di Yeh Gangga. Rencana kami makan pasarkan lebih luas lagi diseluruh kecamatan yang ada di Tabanan,” tuturnya.

Baca Juga:  Mensos Idrus Marham Jamin Semua Kebutuhan Pengungsi, Ini yang Diminta…

Mengenai produksi air rata-rata setiap harinya 85-100 galon dengan asumsi sekitar 2000 galon perbulan. Dan untuk kemasan botol kecil rata-rata 50 dus perbulan.

“Hasil penjualan air minum baik gallon maupun botol sekitar Rp 13 juta sampai Rp 15 juta perbulannya. Lumayan untuk penambahan pendapatan desa,” tandasnya.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/