alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Tragis! Tahun Ajaran Baru, Puluhan Siswa Belajar di Bale Banjar

RadarBali.com – Puluhan orang siswa yang menempuh pendidikan di SDN 4 Bondalem, kini terpaksa belajar menggunakan bale banjar setempat.

Opsi ini dipilih, karena gedung sekolah belum selesai dibangun. Diperkirakan bangunan sekolah baru akan selesai tiga bulan mendatang.

Total ada 22 orang siswa kelas satu di SDN 4 Bondalem yang belajar di bale banjar. Mereka memanfaatkan Balai Banjar Adat Celagi Bantas.

Tak jauh dari perbatasan antara Desa Bondalem dengan Desa Tejakula. Puluhan siswa itu sudah datang ke balai banjar sejak pukul 07.00 pagi.

Mereka ditemani oleh orang tuanya masing-masing. Di balai banjar juga sudah disiapkan sebuah papan tulis dan sejumlah meja dan bangku belajar.

Pada hari pertama belajar mengajar, Senin (10/7) kemarin, para orang tua masih ikut mendampingi.

Baca Juga:  Parah! Nekat Makan Mie Campur Kecubung, Siswa SMA di Mendoyo Keracunan

Mereka hanya melakukan perkenalan awal sekolah. Proses belajar mengajar pun berlangsung singkat dan berakhir pada pukul 09.00 pagi.

Siswa di sekolah setempat terpaksa menggunakan balai banjar adat, karena gedung sekolah mereka yang didirikan di Banjar Dinas Lemo Sari, belum selesai dibangun.

Gedung sekolah baru dibangun akhir Juni lalu, setelah sekolah ini direlokasi dari pusat desa menuju Banjar Dinas Lemo Sari.

Kepala SDN 4 Bondalem, Putu Sila Dermawasih mengatakan, proses belajar mengajar di balai banjar hanya untuk sementara.

Atas saran dari tokoh masyarakat, siswa tidak digabung di SDN 3 Bondalem, agar terbiasa. Selain itu sekolah sudah penuh sesak sehingga siswa tak leluasa bermain.

Menurut Sila, sekolah yang ia pimpin memang tak memiliki ruang kelas yang memadai sejak didirikan pada tahun 1969 lalu.

Baca Juga:  Tak Pakai Masker di Desa Mas Ubud, Siap-siap Bayar Denda Beras 1 Kg

Hal itu kemudian dilaporkan ke Disdikpora dan diputuskan sekolah itu direlokasi ke tempat lain. Konsekuensinya Disdikpora Buleleng mendirikan gedung sekolah baru yang harus selesai pada November nanti.

“Dulu-dulunya memang gabung di SDN 3 Bondalem. Jadi dua sekolah digabung jadi satu. Di sana penuh sesak, karena satu ruang kelas digunakan dua SD.

Selain itu tokoh desa juga menyarankan agar terbiasa tidak digabung, makanya dipilihkan tempat di sini untuk sementara,” katanya.

Kepala Disdikpora Buleleng Gede Suyasa mengatakan, siswa-siswa SDN 4 Bondalem bersekolah di sana atas kesepakatan masyarakat. Itu juga hanya khusus bagi siswa kelas satu.

Pertimbangannya jam belajar masih pendek. Pertimbangan lainnya, gedung juga akan segera selesai pada Nobember mendatang. 



RadarBali.com – Puluhan orang siswa yang menempuh pendidikan di SDN 4 Bondalem, kini terpaksa belajar menggunakan bale banjar setempat.

Opsi ini dipilih, karena gedung sekolah belum selesai dibangun. Diperkirakan bangunan sekolah baru akan selesai tiga bulan mendatang.

Total ada 22 orang siswa kelas satu di SDN 4 Bondalem yang belajar di bale banjar. Mereka memanfaatkan Balai Banjar Adat Celagi Bantas.

Tak jauh dari perbatasan antara Desa Bondalem dengan Desa Tejakula. Puluhan siswa itu sudah datang ke balai banjar sejak pukul 07.00 pagi.

Mereka ditemani oleh orang tuanya masing-masing. Di balai banjar juga sudah disiapkan sebuah papan tulis dan sejumlah meja dan bangku belajar.

Pada hari pertama belajar mengajar, Senin (10/7) kemarin, para orang tua masih ikut mendampingi.

Baca Juga:  Ini SOP yang Harus Dipatuhi Warga di Zona Merah Jika Terjadi Erupsi

Mereka hanya melakukan perkenalan awal sekolah. Proses belajar mengajar pun berlangsung singkat dan berakhir pada pukul 09.00 pagi.

Siswa di sekolah setempat terpaksa menggunakan balai banjar adat, karena gedung sekolah mereka yang didirikan di Banjar Dinas Lemo Sari, belum selesai dibangun.

Gedung sekolah baru dibangun akhir Juni lalu, setelah sekolah ini direlokasi dari pusat desa menuju Banjar Dinas Lemo Sari.

Kepala SDN 4 Bondalem, Putu Sila Dermawasih mengatakan, proses belajar mengajar di balai banjar hanya untuk sementara.

Atas saran dari tokoh masyarakat, siswa tidak digabung di SDN 3 Bondalem, agar terbiasa. Selain itu sekolah sudah penuh sesak sehingga siswa tak leluasa bermain.

Menurut Sila, sekolah yang ia pimpin memang tak memiliki ruang kelas yang memadai sejak didirikan pada tahun 1969 lalu.

Baca Juga:  Cckkk…Pegawai Kontrak Diduga “Main Proyek” Cetak Rekam Medis

Hal itu kemudian dilaporkan ke Disdikpora dan diputuskan sekolah itu direlokasi ke tempat lain. Konsekuensinya Disdikpora Buleleng mendirikan gedung sekolah baru yang harus selesai pada November nanti.

“Dulu-dulunya memang gabung di SDN 3 Bondalem. Jadi dua sekolah digabung jadi satu. Di sana penuh sesak, karena satu ruang kelas digunakan dua SD.

Selain itu tokoh desa juga menyarankan agar terbiasa tidak digabung, makanya dipilihkan tempat di sini untuk sementara,” katanya.

Kepala Disdikpora Buleleng Gede Suyasa mengatakan, siswa-siswa SDN 4 Bondalem bersekolah di sana atas kesepakatan masyarakat. Itu juga hanya khusus bagi siswa kelas satu.

Pertimbangannya jam belajar masih pendek. Pertimbangan lainnya, gedung juga akan segera selesai pada Nobember mendatang. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/