alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Ratusan Pekerja Migran di Gianyar Urus Dokumen Keluar Negeri

GIANYAR – Sepanjang 2021 ini, terdapat 196 Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengurus dokumen ke Kantor Dinas Tenaga Kerja Gianyar. Mereka ada yang menunggu panggilan, ada pula yang sudah berangkat.

 

Kepala Dinas Tenaga Kerja Gianyar, Anak Agung Dalem Jagaditha, menyatakan ada 196 PMI, asal Gianyar sudah memiliki dokumen sah untuk berangkat kerja keluar negeri. “Itu yang 196 PMI sudah ada yang berangkat. Ada yang menunggu panggilan dari perusahaannya,” ujarnya, kemarin (12/6).

 

Untuk PMI yang berangkat tanpa disertai dokumen yang sah, dipastikan dipulangkan. Sebab pemeriksaan PMI saat ini semakin ketat. Disamping itu, belum semua negara bisa mempekerjakan PMI asal Indonesia.

 

“Kondisinya masih buka tutup, saat ini sebagian besar lapangan kerja di luar di darat, kalau di pesiar baru buka beberapa,” jelasnya.

 

Sedangkan PMI lain sekitar 1.500 warga Gianyar dipastikan juga siap-siap mengurus dokumen. Itupun bila negara tempat kerjanya sudah membuka PMI.

Baca Juga:  Duh, Video Joged Porno Viral, Pengunggah Bilang Hanya untuk Pamer

 

“Mereka itu (PMI) sudah mencari informasi secara mandiri. Sebagian belum mengurus dokumen, dikarenakan negara sebagai tempat kerjanya belum buka,” terangnya.

 

Dikatakannya lagi, peluang PMI untuk kembali bekerja sesuai dengan dinamika Covid-19. Walau demikian dengan 196 PMI yang sudah memiliki dokumen legal, maka ada harapan bagi PMI yang lain.

“Kondisinya di luar masih stagnan, baru sekitar 32 negara yang membuka untuk PMI,” pungkasnya. 

 

Sementara itu, Pimpinan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Mentari Asa Bali, Nyoman Artawa Putra, menyatakan sudah memberangkatkan dua angkatan pelatihan kerja ke Jepang. Angkatan pertama ada 7. Kemudian, angkatan kedua ada 28 orang. 

 

“Ini masih menunggu keberangkatan, karena situasi pandemi. Keberangkatan terus mengalami penundaan,” imbuhnya.

 

Selama pelatihan, peserta diberikan pendidikan Bahasa Jepang, budaya Jepang dan skill kerja Jepang.

 

“Bagi yang sudah memiliki keterampilan kerja, tinggal mengasah Bahasa Jepang, sehingga benar-benar siap magang di Jepang,” ujar mantan anggota DPRD Gianyar itu. 

Baca Juga:  KABAR BAIK! Dewan Buleleng Minta KIS – PBI Diaktifkan Kembali

 

Pihaknya membeberkan, dari 28 pemuda yang lolos pelatihan, hanya 10 saja asal Gianyar. Sedangkan, sisanya berasal dari Kabupaten Bangli, Karangasem, Badung, Lombok dan daerah lainnya. 

 

“Ya, pemuda asal Gianyar nampaknya sedikit yang berminat magang kerja ke Jepang, padahal saat magang rata-rata mendapat uang saku sampai 175.000 Yen,” jelasnya. Padahal, lanjut dia, yang magang akan memperoleh pengalaman luar biasa.

 

Tidak saja menerima bekal magang, mereka berkesempatan mengenal lebih jauh budaya Jepang.

 

“Sehingga programnya setengah belajar setengahnya lagi bekerja,” ungkapnya.

 

Bidang pekerjaannya food servis dan perawatan, manufaktur, pertanian dan peternakan. Kemudian, angkatan berikutnya yang akan berangkat sebanyak 28 pemuda. 

 

Kendala yang biasanya dihadapi adalah bahasa.

 

“Biasanya yang menjadi kendala adalah bahasa, sebagai bahasa komunikasi sehari-hari,” pungkasnya.

- Advertisement -

- Advertisement -

GIANYAR – Sepanjang 2021 ini, terdapat 196 Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengurus dokumen ke Kantor Dinas Tenaga Kerja Gianyar. Mereka ada yang menunggu panggilan, ada pula yang sudah berangkat.

 

Kepala Dinas Tenaga Kerja Gianyar, Anak Agung Dalem Jagaditha, menyatakan ada 196 PMI, asal Gianyar sudah memiliki dokumen sah untuk berangkat kerja keluar negeri. “Itu yang 196 PMI sudah ada yang berangkat. Ada yang menunggu panggilan dari perusahaannya,” ujarnya, kemarin (12/6).


 

Untuk PMI yang berangkat tanpa disertai dokumen yang sah, dipastikan dipulangkan. Sebab pemeriksaan PMI saat ini semakin ketat. Disamping itu, belum semua negara bisa mempekerjakan PMI asal Indonesia.

 

“Kondisinya masih buka tutup, saat ini sebagian besar lapangan kerja di luar di darat, kalau di pesiar baru buka beberapa,” jelasnya.

 

Sedangkan PMI lain sekitar 1.500 warga Gianyar dipastikan juga siap-siap mengurus dokumen. Itupun bila negara tempat kerjanya sudah membuka PMI.

Baca Juga:  Jadwal Penyaluran BST di Buleleng Hingga Desember Tidak Ada Kendala

 

“Mereka itu (PMI) sudah mencari informasi secara mandiri. Sebagian belum mengurus dokumen, dikarenakan negara sebagai tempat kerjanya belum buka,” terangnya.

 

Dikatakannya lagi, peluang PMI untuk kembali bekerja sesuai dengan dinamika Covid-19. Walau demikian dengan 196 PMI yang sudah memiliki dokumen legal, maka ada harapan bagi PMI yang lain.

“Kondisinya di luar masih stagnan, baru sekitar 32 negara yang membuka untuk PMI,” pungkasnya. 

 

Sementara itu, Pimpinan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Mentari Asa Bali, Nyoman Artawa Putra, menyatakan sudah memberangkatkan dua angkatan pelatihan kerja ke Jepang. Angkatan pertama ada 7. Kemudian, angkatan kedua ada 28 orang. 

 

“Ini masih menunggu keberangkatan, karena situasi pandemi. Keberangkatan terus mengalami penundaan,” imbuhnya.

 

Selama pelatihan, peserta diberikan pendidikan Bahasa Jepang, budaya Jepang dan skill kerja Jepang.

 

“Bagi yang sudah memiliki keterampilan kerja, tinggal mengasah Bahasa Jepang, sehingga benar-benar siap magang di Jepang,” ujar mantan anggota DPRD Gianyar itu. 

Baca Juga:  KABAR BAIK! Dewan Buleleng Minta KIS – PBI Diaktifkan Kembali

 

Pihaknya membeberkan, dari 28 pemuda yang lolos pelatihan, hanya 10 saja asal Gianyar. Sedangkan, sisanya berasal dari Kabupaten Bangli, Karangasem, Badung, Lombok dan daerah lainnya. 

 

“Ya, pemuda asal Gianyar nampaknya sedikit yang berminat magang kerja ke Jepang, padahal saat magang rata-rata mendapat uang saku sampai 175.000 Yen,” jelasnya. Padahal, lanjut dia, yang magang akan memperoleh pengalaman luar biasa.

 

Tidak saja menerima bekal magang, mereka berkesempatan mengenal lebih jauh budaya Jepang.

 

“Sehingga programnya setengah belajar setengahnya lagi bekerja,” ungkapnya.

 

Bidang pekerjaannya food servis dan perawatan, manufaktur, pertanian dan peternakan. Kemudian, angkatan berikutnya yang akan berangkat sebanyak 28 pemuda. 

 

Kendala yang biasanya dihadapi adalah bahasa.

 

“Biasanya yang menjadi kendala adalah bahasa, sebagai bahasa komunikasi sehari-hari,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/