alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Tak Ada Hotel, Ruang Kelas pun Jadi Tempat Isolasi Terpusat

NEGARA – Kasus Covid-19 yang melonjak drastis membuat tempat isolasi terpusat yang disediakan pemerintah tidak menampung seluruh warga yang positif, sehingga masih banyak yang menjalani isolasi mandiri di rumah.

 

Karena itu, isolasi dilakukan terpusat di masing-masing desa dengan memanfaatkan gedung yang bisa dimanfaatkan.

 

Seperti Desa Berangbang, Kecamatan Negara, yang menggunakan ruang kelas Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Berangbang untuk tempat isolasi. Karena tidak ada tempat tidur, meja yang ada di ruang kelas dijadikan tempat tidur dan kasurnya disediakan oleh pihak desa. Satu ruang kelas mampu menampung sebanyak enam orang yang akan menjalani isolasi mandiri.

 

Sedangkan desa lain menggunakan penginapan dan gedung BUMDES untuk tempat isolasi terpusat berbasis desa, sehingga warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala tidak perlu isolasi ke luar desa lain atau tempat isolasi yang sudah disediakan pemerintah.

- Advertisement -

 

Bupati Jembrana I Nengah Tamba mengatakan, isolasi terpusat di masing-masing desa ini untuk mengatasi penyebaran Covid-19. Karena jika isolasi mandiri di rumah, rawan terjadi risiko penyebaran.

 

Dengan isolasi berbasis desa, maka warga yang isolasi akan lebih cepat penyembuhan karena secara psikologi lebih tenang dan tidak terganggu.

Baca Juga:  Gunarsa Hutang Rilis Buku, Sony Merasa Berat Urus Museum

 

“Pengawasan tim medis tetap dilakukan untuk memantau kesehatan warga yang isolasi terpusat,” tegasnya, usai memantau lima desa di Kecamatan Negara bersama forkopimda Jembrana, Rabu (11/8).

 

Mengenai anggaran yang digunakan isolasi terpusat di desa, menggunakan refocusing anggaran desa. Menurut bupati, Kejari Jembrana Triono Rahyudi yang juga hadir saat pemantauan tersebut sudah memberikan guidance sehingga anggaran yang digunakan memang bermanfaat dan tepat sasaran.

 

Bupati memastikan penggunaan tempat isolasi terpusat berbasis desa, dinilai efektif dan tidak akan ada lagi pandangan negatif bagi warga yang terkonfirmasi positif. Justru dengan adanya isolasi desa ini warga harus bahu-membahu membantu warga lain yang isolasi.

 

“Tidak ada pandangan negatif pada yang negatif. Sekarang harus membiasakan diri bertemu dengan warga yang positif dan harus dibantu dengan memberikan dukungan agar cepat sembuh,” tegasnya.

 

Menurut bupati, tidak ada lagi diskriminasi terhadap orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, karena tidak ada orang yang berharap mendapat penyakit. Siapapun bisa terpapar virus. Sehingga harus saling tolong menolong, jangan ada diskriminasi.

Baca Juga:  Warga Terdampak Gempa Situbondo Diusulkan Dapat Bantuan, Tapi..

 

Kepala Dinas Kesehatan Jembrana I Gusti Bagus Ketut Oka Parwata mengatakan, meskipun saat ini sudah ada tempat isolasi terpusat di rumah sakit, hotel dan sejumlah asrama sekolah dan koramil jumlahnya terbatas. Sehingga masih membutuhkan tempat isolasi lagi karena masih ada warga yang positif menjalani isolasi mandiri.

 

Dengan jumlah terkonfirmasi positif aktif yang sekitar 800 orang. Sedangkan jumlah isolasi terpusat sekitar 350 tempat tidur dengan kapasitas sudah mencapai 90 persen, sehingga masih banyak yang menjalani isolasi mandiri.

 

Tempat isolasi di desa dengan rata-rata kapasitas 10 tempat tidur diharapkan bisa mengurangi jumlah warga yang isolasi mandiri.

 

“Mekanismenya pengawasan nanti akan bergabung dengan desa untuk melakukan pemantauan terhadap OTG yang isolasi di desa,” terangnya.

 

Pihaknya juga akan melakukan tracing dan testing di tempat terhadap kontak erat bersama TNI dan Polri. Apabila ada yang terkonfirmasi positif, akan langsung dievakuasi ke tempat isolasi terpusat di masing-masing desa.

- Advertisement -

NEGARA – Kasus Covid-19 yang melonjak drastis membuat tempat isolasi terpusat yang disediakan pemerintah tidak menampung seluruh warga yang positif, sehingga masih banyak yang menjalani isolasi mandiri di rumah.

 

Karena itu, isolasi dilakukan terpusat di masing-masing desa dengan memanfaatkan gedung yang bisa dimanfaatkan.

 

Seperti Desa Berangbang, Kecamatan Negara, yang menggunakan ruang kelas Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Berangbang untuk tempat isolasi. Karena tidak ada tempat tidur, meja yang ada di ruang kelas dijadikan tempat tidur dan kasurnya disediakan oleh pihak desa. Satu ruang kelas mampu menampung sebanyak enam orang yang akan menjalani isolasi mandiri.

 

Sedangkan desa lain menggunakan penginapan dan gedung BUMDES untuk tempat isolasi terpusat berbasis desa, sehingga warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala tidak perlu isolasi ke luar desa lain atau tempat isolasi yang sudah disediakan pemerintah.

 

Bupati Jembrana I Nengah Tamba mengatakan, isolasi terpusat di masing-masing desa ini untuk mengatasi penyebaran Covid-19. Karena jika isolasi mandiri di rumah, rawan terjadi risiko penyebaran.

 

Dengan isolasi berbasis desa, maka warga yang isolasi akan lebih cepat penyembuhan karena secara psikologi lebih tenang dan tidak terganggu.

Baca Juga:  Bali Minimal Wajib Lakukan Uji PCR 4.000 Orang Per Pekan

 

“Pengawasan tim medis tetap dilakukan untuk memantau kesehatan warga yang isolasi terpusat,” tegasnya, usai memantau lima desa di Kecamatan Negara bersama forkopimda Jembrana, Rabu (11/8).

 

Mengenai anggaran yang digunakan isolasi terpusat di desa, menggunakan refocusing anggaran desa. Menurut bupati, Kejari Jembrana Triono Rahyudi yang juga hadir saat pemantauan tersebut sudah memberikan guidance sehingga anggaran yang digunakan memang bermanfaat dan tepat sasaran.

 

Bupati memastikan penggunaan tempat isolasi terpusat berbasis desa, dinilai efektif dan tidak akan ada lagi pandangan negatif bagi warga yang terkonfirmasi positif. Justru dengan adanya isolasi desa ini warga harus bahu-membahu membantu warga lain yang isolasi.

 

“Tidak ada pandangan negatif pada yang negatif. Sekarang harus membiasakan diri bertemu dengan warga yang positif dan harus dibantu dengan memberikan dukungan agar cepat sembuh,” tegasnya.

 

Menurut bupati, tidak ada lagi diskriminasi terhadap orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, karena tidak ada orang yang berharap mendapat penyakit. Siapapun bisa terpapar virus. Sehingga harus saling tolong menolong, jangan ada diskriminasi.

Baca Juga:  Rumah Warga Selat, Karangasem, Bali Ludes Terbakar

 

Kepala Dinas Kesehatan Jembrana I Gusti Bagus Ketut Oka Parwata mengatakan, meskipun saat ini sudah ada tempat isolasi terpusat di rumah sakit, hotel dan sejumlah asrama sekolah dan koramil jumlahnya terbatas. Sehingga masih membutuhkan tempat isolasi lagi karena masih ada warga yang positif menjalani isolasi mandiri.

 

Dengan jumlah terkonfirmasi positif aktif yang sekitar 800 orang. Sedangkan jumlah isolasi terpusat sekitar 350 tempat tidur dengan kapasitas sudah mencapai 90 persen, sehingga masih banyak yang menjalani isolasi mandiri.

 

Tempat isolasi di desa dengan rata-rata kapasitas 10 tempat tidur diharapkan bisa mengurangi jumlah warga yang isolasi mandiri.

 

“Mekanismenya pengawasan nanti akan bergabung dengan desa untuk melakukan pemantauan terhadap OTG yang isolasi di desa,” terangnya.

 

Pihaknya juga akan melakukan tracing dan testing di tempat terhadap kontak erat bersama TNI dan Polri. Apabila ada yang terkonfirmasi positif, akan langsung dievakuasi ke tempat isolasi terpusat di masing-masing desa.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/