alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Tawon 1.8 Gagal Dekati Kawah, Tim KOAX Sebut Karena Salah Settingan

RadarBali.com – Harapan tinggi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk melihat kawah Gunung Agung dari dekat melalui drone belum bisa terwujud.

Pasalnya, pesawat tanpa awak yang diterbangkan kemarin siang pukul 15.00, gagal mendekati kawah Gunung Agung.

Drone yang diberi nama Tawon 1.8 itu hanya mencapai ketinggian 1.400 meter. Padahal tinggi gunung 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Payahnya, saat ketinggian drone baru mencapai 300 meter, kamera yang digunakan rusak. Alhasil, drone milik tim KOAX Flyer Jakarta yang diklaim canggih itu harus kembali mendarat di areal Galian C Desa Dukuh, yang digunakan untuk take-off.

Puluhan warga setempat dan awak media yang sudah menunggu sejak pagi pun sempat sedikit kecewa dengan kegagalan drone mendekati kawah.

Padahal, warga sudah lama menunggu dua jam lebih di bawah terik matahari dengan suhu 31 derajat celcius. “Gagal terbang karena belum diupacarai itu,” celetuk salah seorang warga.

Terkait kegagalan drone tersebut, Budi Suchaeri, ketua rombongan Tim KOAX Flyer berdalih salah menyetting ketinggian.

Alat drone control station yang dibawa tak mampu menangkap gambar yang disalurkan melalui sinyal satelit.

“Tadi di awal kami seting di ketinggian 1.400 meter untuk climbing (memanjat). Seharusnya kami seting 1.600 meter agar tidak menabrak.

Kami salah mengintepretrasikan ketinggian gunung. Kalau dilanjutkan clambingnya maka nabrak,” ujar Budi ditemui disela-sela penerbangan drone, kemarin.



RadarBali.com – Harapan tinggi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk melihat kawah Gunung Agung dari dekat melalui drone belum bisa terwujud.

Pasalnya, pesawat tanpa awak yang diterbangkan kemarin siang pukul 15.00, gagal mendekati kawah Gunung Agung.

Drone yang diberi nama Tawon 1.8 itu hanya mencapai ketinggian 1.400 meter. Padahal tinggi gunung 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Payahnya, saat ketinggian drone baru mencapai 300 meter, kamera yang digunakan rusak. Alhasil, drone milik tim KOAX Flyer Jakarta yang diklaim canggih itu harus kembali mendarat di areal Galian C Desa Dukuh, yang digunakan untuk take-off.

Puluhan warga setempat dan awak media yang sudah menunggu sejak pagi pun sempat sedikit kecewa dengan kegagalan drone mendekati kawah.

Padahal, warga sudah lama menunggu dua jam lebih di bawah terik matahari dengan suhu 31 derajat celcius. “Gagal terbang karena belum diupacarai itu,” celetuk salah seorang warga.

Terkait kegagalan drone tersebut, Budi Suchaeri, ketua rombongan Tim KOAX Flyer berdalih salah menyetting ketinggian.

Alat drone control station yang dibawa tak mampu menangkap gambar yang disalurkan melalui sinyal satelit.

“Tadi di awal kami seting di ketinggian 1.400 meter untuk climbing (memanjat). Seharusnya kami seting 1.600 meter agar tidak menabrak.

Kami salah mengintepretrasikan ketinggian gunung. Kalau dilanjutkan clambingnya maka nabrak,” ujar Budi ditemui disela-sela penerbangan drone, kemarin.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/