alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

OMG! Rodney Sebut 320 Benda Kerajaan Klungkung Tersebar di Belanda

SEMARAPURA – President of Westerlaken Foundation Rodney Westerlaken akhirnya menyerahkan dua mata beserta sarungnya kepada Puri Agung Klungkung yang diterima penglingsir Puri Agung Ida Dalem Semaraputra.

Dua mata tombak beserta sarungnya itu berasal dari periode tahun 1900 Kerajaan Klungkung dan menjadi saksi bisu dari Perang Puputan Klungkung tahun 1908.

Oleh Rodney Westerlaken, dua mata tombak itu dihibahkan ke Puri Agung Klungkung yang selanjutnya akan menjadi koleksi Museum Semarajaya, Klungkung.

Menurut Rodney, berdasar permintaan Puri Agung Klungkung dirinya sempat melakukan pendataan terhadap jumlah benda-benda Kerajaan Klungkung yang ada di Belanda.

Pihaknya mencatat ada sekitar 320 benda Kerajaan Klungkung yang tersebar di sejumlah museum yang ada di Belanda, seperti di Museum Leiden, Tropen dan lainnya.

Sementara di Indonesia, benda peninggalan Kerajaan Klungkung banyak tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

“Benda-benda peninggalan Kerajaan Klungkung itu ada yang berupa keris, alat-alat upacara, senjata, perhiasan, serta yang tidak bisa saya lupakan adalah kalung

Baca Juga:  Belanda Kembali Serahkan Dua Keris dan Mata Tombak Kerajaan Klungkung

dari Ida I Dewa Agung Gede Agung, Putra Mahkota Klungkung. Selain itu, ada pula peninggalan Kerajaan Klungkung yang dimiliki masyarakat dan diperjualbelikan,” katanya.

Penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semaraputra sangat berterima kasih atas dihibahkannya dua mata tombak era Perang Puputan Klungkung sehingga Kabupaten Klungkung bisa memiliki kembali benda peninggalan kerajaannya.

Dia berharap dengan dihibahkannya dua mata tombak itu menjadi awal dari kembalikannya benda-benda peninggalan Kerajaan Klungkung

yang lainnya, baik yang berada di sejumlah museum di luar Bali maupun luar negeri maupun yang kini disimpan oleh para kolektor benda antik.

“Karena ini merupakan milik kerajaan dan juga masyarakat Klungkung, maka tombak ini kami serahkan ke Pemkab Klungkung untuk dirawat dan masyarakat bisa melihatnya,” tandasnya.

Hal serupa diungkap Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta. Bupati Suwirta berharap langkah Rodney ini juga diikuti oleh kolektor barang antik yang selama ini menyimpan barang-barang peninggalan Kerajaan Klungkung.

Baca Juga:  Si Bayi Sembuh, Giliran Nenek Bayi Terpapar Covid-19

Apalagi di Kabupaten Klungkung direncanakan akan dibangun Pusat Kebudayaan Bali sehingga besar harapannya benda-benda

peninggalan Kerajaan Klungkung dapat kembali dan dapat dipamerkan di sana sehingga masyarakat bisa mengetahui sejarah Kerajaan Klungkung.

“Mudah-mudahan dengan niat baik kita semua, membuat Pusat Kebudayaan Bali itu bisa segera diwujudkan,” katanya.

Mengingat sampai saat ini dua mata tombak itu hanya diketahui sebagai peninggalan era Perang Puputan Klungkung tahun 1908 dan belum diketahui siapa yang menggunakan

senjata tersebut dan fungsi sebenarnya seperti apa, pihaknya mempersilakan bagi masyarakat yang berkompetensi di bidang tersebut untuk meneliti dan mencari tahu tentang dua mata tombak itu.

“Sehingga saat dipamerkan di Museum Semarajaya, bisa dibuatkan narasi yang dapat menjelaskan tentang dua mata tombak kepada pengunjung museum,” tandasnya. 



SEMARAPURA – President of Westerlaken Foundation Rodney Westerlaken akhirnya menyerahkan dua mata beserta sarungnya kepada Puri Agung Klungkung yang diterima penglingsir Puri Agung Ida Dalem Semaraputra.

Dua mata tombak beserta sarungnya itu berasal dari periode tahun 1900 Kerajaan Klungkung dan menjadi saksi bisu dari Perang Puputan Klungkung tahun 1908.

Oleh Rodney Westerlaken, dua mata tombak itu dihibahkan ke Puri Agung Klungkung yang selanjutnya akan menjadi koleksi Museum Semarajaya, Klungkung.

Menurut Rodney, berdasar permintaan Puri Agung Klungkung dirinya sempat melakukan pendataan terhadap jumlah benda-benda Kerajaan Klungkung yang ada di Belanda.

Pihaknya mencatat ada sekitar 320 benda Kerajaan Klungkung yang tersebar di sejumlah museum yang ada di Belanda, seperti di Museum Leiden, Tropen dan lainnya.

Sementara di Indonesia, benda peninggalan Kerajaan Klungkung banyak tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

“Benda-benda peninggalan Kerajaan Klungkung itu ada yang berupa keris, alat-alat upacara, senjata, perhiasan, serta yang tidak bisa saya lupakan adalah kalung

Baca Juga:  Tak Tersentuh Bantuan, Akuforbali Jembatani Karya Anak Disabilitas

dari Ida I Dewa Agung Gede Agung, Putra Mahkota Klungkung. Selain itu, ada pula peninggalan Kerajaan Klungkung yang dimiliki masyarakat dan diperjualbelikan,” katanya.

Penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semaraputra sangat berterima kasih atas dihibahkannya dua mata tombak era Perang Puputan Klungkung sehingga Kabupaten Klungkung bisa memiliki kembali benda peninggalan kerajaannya.

Dia berharap dengan dihibahkannya dua mata tombak itu menjadi awal dari kembalikannya benda-benda peninggalan Kerajaan Klungkung

yang lainnya, baik yang berada di sejumlah museum di luar Bali maupun luar negeri maupun yang kini disimpan oleh para kolektor benda antik.

“Karena ini merupakan milik kerajaan dan juga masyarakat Klungkung, maka tombak ini kami serahkan ke Pemkab Klungkung untuk dirawat dan masyarakat bisa melihatnya,” tandasnya.

Hal serupa diungkap Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta. Bupati Suwirta berharap langkah Rodney ini juga diikuti oleh kolektor barang antik yang selama ini menyimpan barang-barang peninggalan Kerajaan Klungkung.

Baca Juga:  Terungkap Alasan Rodney Hibahkan Dua Tombak Saksi Perang Puputan

Apalagi di Kabupaten Klungkung direncanakan akan dibangun Pusat Kebudayaan Bali sehingga besar harapannya benda-benda

peninggalan Kerajaan Klungkung dapat kembali dan dapat dipamerkan di sana sehingga masyarakat bisa mengetahui sejarah Kerajaan Klungkung.

“Mudah-mudahan dengan niat baik kita semua, membuat Pusat Kebudayaan Bali itu bisa segera diwujudkan,” katanya.

Mengingat sampai saat ini dua mata tombak itu hanya diketahui sebagai peninggalan era Perang Puputan Klungkung tahun 1908 dan belum diketahui siapa yang menggunakan

senjata tersebut dan fungsi sebenarnya seperti apa, pihaknya mempersilakan bagi masyarakat yang berkompetensi di bidang tersebut untuk meneliti dan mencari tahu tentang dua mata tombak itu.

“Sehingga saat dipamerkan di Museum Semarajaya, bisa dibuatkan narasi yang dapat menjelaskan tentang dua mata tombak kepada pengunjung museum,” tandasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/