alexametrics
27.6 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Hujan Lebat Semalaman Picu Tanah Longsor di Empat Desa di Buleleng

SINGARAJA– Hujan lebat yang mengguyur wilayah Buleleng pada Selasa (11/1) memicu sejumlah bencana.

Selain banjir dan pohon tumbang, hujan juga memicu musibah tanah longsor.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng mencatat, ada 9 laporan bencana alam yang terjadi pada Selasa (11/1) lalu.

Sebanyak 4 laporan diantaranya berkaitan dengan tanah longsor. Musibah longsor itu terjadi di Desa Tejakula, Desa Sambangan, Desa Kubutambahan, dan Desa Bontihing.

Di Desa Kubutambahan misalnya, longsor dilaporkan menutup akses jalan menuju Pura Gambur Anglayang. Sementara di Desa Tejakula, longsor membawa aliran material dari Bukit Mendaum. Material itu mengalir dan merusak perkebunan warga.

Sementara di Desa Bontihing, longsor merusak rumah warga yang mukim di Banjar Dinas Kawanan. Selain itu longsor juga merusak saluran irigasi di Subak Kudungan. Sehingga berpotensi mengganggu masa tanam sawah di Desa Bontihing.

Baca Juga:  Diterjang Angin Ngelinus, Bale Gong Pura Desa Lemukih Buleleng Ambruk

Sedangkan di Desa Sambangan, tebing setinggi 4 meter longsor hingga menutup akses Jalan I Ketut Mastra. Jalan itu merupakan ruas penghubung antara Desa Sambangan dengan Desa Panji. Warga dari Desa Panji kerap menggunakan akses jalan ini menuju Denpasar. Sebab dapat memotong waktu tempuh hingga 15 menit.

- Advertisement -

Perbekel Sambangan Nyoman Sudarsana mengungkapkan, longsoran itu terjadi sekitar pukul 20.00 Selasa (11/1) malam. Longsoran itu menyebabkan tiga rumpun bambu roboh ke tanah. Selama ini pohon bambu itu diharapkan dapat menahan tebing dari longsor.

“Memang jalur ini rawan sekali longsor. Sekitar tahun 2018 lalu juga sempat longsor di jalur ini. Sama-sama menutup jalan juga,” katanya.

Untuk membersihkan akses jalan tersebut, tim gabungan pun bahu membahu membersihkan material. Personel dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Koramil 1609-05/Sukasada, dan Dinas Pemadam Kebakaran Buleleng dikerahkan untuk membersihkan akses jalan.

Baca Juga:  Sambut Tahun Baru Imlek, Arca & Altar Dewa Dibersihkan

Sejak pukul 09.00 pagi tim tersebut melakukan pembersihan secara manual. Hanya dengan menggunakan cangkul dan sekop. Ruas jalan tersebut akhirnya dapat dibuka secara penuh pada pukul 14.00 siang.

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengatakan, hujan yang mengguyur pada Selasa malam lalu cukup lebat. Menurutnya hujan dengan intensitas tinggi selama 2 jam atau lebih, sangat berpotensi memicu bencana alam. Utamanya tanah longsor.

Menurut Ariadi hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi. “Masih sangat berpotensi ada hujan lebat. Kemungkinan puncaknya pada akhir Januari sampai pertengahan Februari. Kami harap masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan. Karena bencana sangat berpotensi terjadi,” kata Ariadi. 

- Advertisement -

SINGARAJA– Hujan lebat yang mengguyur wilayah Buleleng pada Selasa (11/1) memicu sejumlah bencana.

Selain banjir dan pohon tumbang, hujan juga memicu musibah tanah longsor.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng mencatat, ada 9 laporan bencana alam yang terjadi pada Selasa (11/1) lalu.

Sebanyak 4 laporan diantaranya berkaitan dengan tanah longsor. Musibah longsor itu terjadi di Desa Tejakula, Desa Sambangan, Desa Kubutambahan, dan Desa Bontihing.

Di Desa Kubutambahan misalnya, longsor dilaporkan menutup akses jalan menuju Pura Gambur Anglayang. Sementara di Desa Tejakula, longsor membawa aliran material dari Bukit Mendaum. Material itu mengalir dan merusak perkebunan warga.

Sementara di Desa Bontihing, longsor merusak rumah warga yang mukim di Banjar Dinas Kawanan. Selain itu longsor juga merusak saluran irigasi di Subak Kudungan. Sehingga berpotensi mengganggu masa tanam sawah di Desa Bontihing.

Baca Juga:  Puncak Musim Hujan Diprediksi Februari, Warga Diminta Waspada

Sedangkan di Desa Sambangan, tebing setinggi 4 meter longsor hingga menutup akses Jalan I Ketut Mastra. Jalan itu merupakan ruas penghubung antara Desa Sambangan dengan Desa Panji. Warga dari Desa Panji kerap menggunakan akses jalan ini menuju Denpasar. Sebab dapat memotong waktu tempuh hingga 15 menit.

Perbekel Sambangan Nyoman Sudarsana mengungkapkan, longsoran itu terjadi sekitar pukul 20.00 Selasa (11/1) malam. Longsoran itu menyebabkan tiga rumpun bambu roboh ke tanah. Selama ini pohon bambu itu diharapkan dapat menahan tebing dari longsor.

“Memang jalur ini rawan sekali longsor. Sekitar tahun 2018 lalu juga sempat longsor di jalur ini. Sama-sama menutup jalan juga,” katanya.

Untuk membersihkan akses jalan tersebut, tim gabungan pun bahu membahu membersihkan material. Personel dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Koramil 1609-05/Sukasada, dan Dinas Pemadam Kebakaran Buleleng dikerahkan untuk membersihkan akses jalan.

Baca Juga:  Akar Lapuk, Pohon Tumbang di Dukuh Kubu Karangasem Picu Kemacetan

Sejak pukul 09.00 pagi tim tersebut melakukan pembersihan secara manual. Hanya dengan menggunakan cangkul dan sekop. Ruas jalan tersebut akhirnya dapat dibuka secara penuh pada pukul 14.00 siang.

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengatakan, hujan yang mengguyur pada Selasa malam lalu cukup lebat. Menurutnya hujan dengan intensitas tinggi selama 2 jam atau lebih, sangat berpotensi memicu bencana alam. Utamanya tanah longsor.

Menurut Ariadi hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi. “Masih sangat berpotensi ada hujan lebat. Kemungkinan puncaknya pada akhir Januari sampai pertengahan Februari. Kami harap masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan. Karena bencana sangat berpotensi terjadi,” kata Ariadi. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/