alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Investigasi Dinkes, Dua Bocah di Jembrana Meninggal Karena DB Grade IV

NEGARA  – Dinas Kesehatan Jembrana memastikan dua bocah yang meninggal karena demam berdarah (DB).

Hal tersebut berdasar hasil investigasi yang dilakukan setelah ada laporan dua bocah meninggal di RSUP Sanglah.

Dua bocah tersebut meninggal karena sudah masuk DB grade IV, sehingga nyawanya tidak tertolong.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Jembrana Putu Suekantara mengatakan, saat mendapat informasi adanya

korban meninggal karena DB, pihaknya tidak bisa langsung memastikan bahwa dua bocah tersebut memang meninggal karena DBD.

Untuk memastikan, pihaknya melakukan investigasi mulai dari awal pasien diperiksa di Puskesmas I Negara kemudian di RSU Negara hingga penanganan medis di RSUP Sanglah.

“Dua korban meninggal memang benar karena DBD,” tegas Suekantara didampingi Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jembrana I Gusti Agung Putu Arisantha.

Pihaknya menelusuri rekam medis dari kedua anak tersebut masuk ke Puskesmas dan RSU Negara, yakni Rofi Rohman, 9, dan Nazar Ramadhan, 11.

Dari hasil penelusuran di Puskesmas I Negara, tempat korban Rofi pertama dibawa orang tuanya periksa.

Korban dibawa tiga kali ke Puskesmas, saat itu sudah diperiksa dokter puskesmas dan rawat jalan.

Kemudian dibawa ke RSU Negara. Saat itu hasil pemeriksaan kondisinya sudah parah, diagnosanya DBD grade IV sehingga dirujuk ke RSUP Sanglah.

Baca Juga:  Pasien Suspect Corona di Jembrana Membaik, Dokter Ambil Sampel PDP

“Sedangkan Nazar sebelumnya pernah berobat ke dokter swasta, saat dibawa ke RSU Negara dan setelah melalui pemeriksaan kondisinya juga sudah cukup parah,” ungkapnya.

Berdasar data Dinas Kesehatan, adanya dua korban meninggal karena DBD tersebut merupakan kejadian pertama di wilayah tempat tinggal dua korban.

Sebelumnya, dua banjar tempat tinggal korban belum pernah ada kasus DBD ataupun infeksi dengue.

Karena itu, pihaknya masih menelusuri dugaan tempat korban digigit nyamuk aedes aegypti. Apakah di tempat tinggalnya, atau di tempat lain. Misalnya sekolah dua korban.

“Di daerah tempat tinggal dua korban sampai saat ini tidak ada data di sekitarnya endemis DBD dan warga sekitar tidak ada yang infeksi dengue,” ujarnya.

Sedangkan korban Rofi, meski dalam tiga bulan terakhir di sekitar tempat tinggalnya tidak ada korban kasus DBD ataupun infeksi dengue, dari hasil kajian diduga dari sekolah korban.

Karena sekitar tempat sekolah korban, terdapat beberapa warga infeksi demam dengue. Sehingga, kemungkinan dari sekitar sekolah maupun sekitar sekolahnya.  

Karena kasus DBD ini sudah terjadi, bahkan menimbulkan korban jiwa, pihaknya melakukan upaya penanggulangan terhadap kasus DBD.

Di antaranya pengasapan atau fogging di sekitar rumah korban DBD dengan radius 200 meter dan daerah yang rawan berpotensi muncul DBD.

Pencegahan juga dilakukan dengan meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M plus melalui puskesmas yang dilakukan setiap hari Minggu bersama masyarakat.

Baca Juga:  AWAS! Anjing Rabies Terkam Lima Warga, Satu Warga Belum Divaksin

Dan, tindakan pemberantasan sarang nyamuk sudah sering dilakukan setiap hari Jumat pada waktu sebelumnya.

Karena DBD merupakan penyakit berbasis masyarakat, perlu peran aktif masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Karena PSN lebih efektif dan efisien dibandingkan fogging.

“PSN ini untuk mencegah siklus nyamuk dari jentik menjadi dewasa, sehingga tidak ada yang menularkan virus pada manusia,” ujarnya.

Pihaknya mengimbau, apabila ada anggota keluarga yang mengalami peningkatan suhu tubuh, harus segera diperiksa ke dokter di Puskesmas.

Apabila setelah diperiksa bertambah parah, maka harus dilakukan pemeriksaan lebih intensif dan cek laboratorium. Karena jika terlambat diperiksa akan berakibat fatal.

“Kalau anak panas, minum yang cukup sehingga cairan tercukupi. Karena demam berdarah obat untuk virusnya

tidak ada, jadi obatnya melalui terapi suportif dengan terapi cairan termasuk obat simptomatik,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, dua anak meninggal karena DBD, pertama atas nama Nazar Ramadhan, 11, warga Banjar Baluk 1, Desa Baluk, Kecamatan Negara.

Korban kedua, Dofi Ruhman, 9, warga Banjar Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara.

Jenazah kedua korban yang masih duduk di sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Jembrana, langsung dikebumikan. 



NEGARA  – Dinas Kesehatan Jembrana memastikan dua bocah yang meninggal karena demam berdarah (DB).

Hal tersebut berdasar hasil investigasi yang dilakukan setelah ada laporan dua bocah meninggal di RSUP Sanglah.

Dua bocah tersebut meninggal karena sudah masuk DB grade IV, sehingga nyawanya tidak tertolong.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Jembrana Putu Suekantara mengatakan, saat mendapat informasi adanya

korban meninggal karena DB, pihaknya tidak bisa langsung memastikan bahwa dua bocah tersebut memang meninggal karena DBD.

Untuk memastikan, pihaknya melakukan investigasi mulai dari awal pasien diperiksa di Puskesmas I Negara kemudian di RSU Negara hingga penanganan medis di RSUP Sanglah.

“Dua korban meninggal memang benar karena DBD,” tegas Suekantara didampingi Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jembrana I Gusti Agung Putu Arisantha.

Pihaknya menelusuri rekam medis dari kedua anak tersebut masuk ke Puskesmas dan RSU Negara, yakni Rofi Rohman, 9, dan Nazar Ramadhan, 11.

Dari hasil penelusuran di Puskesmas I Negara, tempat korban Rofi pertama dibawa orang tuanya periksa.

Korban dibawa tiga kali ke Puskesmas, saat itu sudah diperiksa dokter puskesmas dan rawat jalan.

Kemudian dibawa ke RSU Negara. Saat itu hasil pemeriksaan kondisinya sudah parah, diagnosanya DBD grade IV sehingga dirujuk ke RSUP Sanglah.

Baca Juga:  Penyebab Korban Tewas Masih Misteri, Labfor Uji Sampling Nasi Bungkus

“Sedangkan Nazar sebelumnya pernah berobat ke dokter swasta, saat dibawa ke RSU Negara dan setelah melalui pemeriksaan kondisinya juga sudah cukup parah,” ungkapnya.

Berdasar data Dinas Kesehatan, adanya dua korban meninggal karena DBD tersebut merupakan kejadian pertama di wilayah tempat tinggal dua korban.

Sebelumnya, dua banjar tempat tinggal korban belum pernah ada kasus DBD ataupun infeksi dengue.

Karena itu, pihaknya masih menelusuri dugaan tempat korban digigit nyamuk aedes aegypti. Apakah di tempat tinggalnya, atau di tempat lain. Misalnya sekolah dua korban.

“Di daerah tempat tinggal dua korban sampai saat ini tidak ada data di sekitarnya endemis DBD dan warga sekitar tidak ada yang infeksi dengue,” ujarnya.

Sedangkan korban Rofi, meski dalam tiga bulan terakhir di sekitar tempat tinggalnya tidak ada korban kasus DBD ataupun infeksi dengue, dari hasil kajian diduga dari sekolah korban.

Karena sekitar tempat sekolah korban, terdapat beberapa warga infeksi demam dengue. Sehingga, kemungkinan dari sekitar sekolah maupun sekitar sekolahnya.  

Karena kasus DBD ini sudah terjadi, bahkan menimbulkan korban jiwa, pihaknya melakukan upaya penanggulangan terhadap kasus DBD.

Di antaranya pengasapan atau fogging di sekitar rumah korban DBD dengan radius 200 meter dan daerah yang rawan berpotensi muncul DBD.

Pencegahan juga dilakukan dengan meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M plus melalui puskesmas yang dilakukan setiap hari Minggu bersama masyarakat.

Baca Juga:  Didepan Tamba, Menko Luhut Dorong Jembrana Jadi Pusat Lumbung Pangan

Dan, tindakan pemberantasan sarang nyamuk sudah sering dilakukan setiap hari Jumat pada waktu sebelumnya.

Karena DBD merupakan penyakit berbasis masyarakat, perlu peran aktif masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Karena PSN lebih efektif dan efisien dibandingkan fogging.

“PSN ini untuk mencegah siklus nyamuk dari jentik menjadi dewasa, sehingga tidak ada yang menularkan virus pada manusia,” ujarnya.

Pihaknya mengimbau, apabila ada anggota keluarga yang mengalami peningkatan suhu tubuh, harus segera diperiksa ke dokter di Puskesmas.

Apabila setelah diperiksa bertambah parah, maka harus dilakukan pemeriksaan lebih intensif dan cek laboratorium. Karena jika terlambat diperiksa akan berakibat fatal.

“Kalau anak panas, minum yang cukup sehingga cairan tercukupi. Karena demam berdarah obat untuk virusnya

tidak ada, jadi obatnya melalui terapi suportif dengan terapi cairan termasuk obat simptomatik,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, dua anak meninggal karena DBD, pertama atas nama Nazar Ramadhan, 11, warga Banjar Baluk 1, Desa Baluk, Kecamatan Negara.

Korban kedua, Dofi Ruhman, 9, warga Banjar Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara.

Jenazah kedua korban yang masih duduk di sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Jembrana, langsung dikebumikan. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/