alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Rongsokan Pemkab Dilego, Pengepul Ini Berani Bayar Tinggi..

SINGARAJA – Sejumlah barang rongsokan yang dilelang oleh pemerintah, ternyata laku keras.

 

Barang-barang yang selama ini menumpuk di gudang pemerintah dan dianggap tak memiliki nilai, ternyata masih diminati para pengepul.  

Bahkan, para pengepul berani melego barang rongsokan pemkab dengan nilai tinggi.

 

 

Dari lelang barang bekas seperti kendaraan bermotor, peralatan elektronik rusak, hingga bongkaran bangunan, Pemkab Buleleng menerima puluhan juta rupiah.

 

Seperti saat proses lelang yang dilakukan Praja Winangun Kantor Bupati Buleleng, Kamis siang (13/9), peserta lelang memberikan tawaran nilai yang cukup tinggi.

 

Kendaraan bermotor misalnya. Dua unit sepeda motor Honda Win keluaran tahun 2003 dari harga limit masing-masing Rp 1,1 juta dan Rp 1,7 juta, akhirnya laku seharga Rp 3,6 juta dan Rp 4,1 juta.

Baca Juga:  Lelang Jabatan di Pemkab Buleleng Tunggu Rekomendasi Kemendagri

 

Sementara sepeda motor Honda Kharisma keluaran tahun 2004, hanya laku Rp 1,7 juta. Lebih mahal Rp 50 ribu dari limit awal Rp 1,65 juta.

 

Sedangkan rongsokan milik pemerintah yang tersebar di beberapa instansi, juga laku dengan harga meyakinkan.

 

Dari lelang barang elektronik saja, nilai yang didapat mencapai Rp 17 juta.

Sehingga jika ditotal, barang elektronik dan sepeda motor laku Rp 26,3 juta.

 

Kabid Aset Badan Keuangan Daerah (BKD) Buleleng, Made Pasda Gunawan mengatakan, pemerintah memang sengaja melego barang tersebut melalui mekanisme lelang.

Pasda menyebut lelang itu merupakan salah satu cara melakukan penghapusan barang milik daerah, yang sudah tak memiliki nilai.

Baca Juga:  Bandara Dibuka, PHR Bisa Digenjot

 

“Setelah dilakukan penilaian, nilai barang tersebut sudah habis karena penyusutan. Selain itu barangnya juga sudah rusak, tidak terpakai lagi. Sesuai regulasi kami hapuskan dari daftar aset,” kata Pasda.

 

Dari hitung-hitungan aset, barang-barang itu memang tak memiliki nilai ekonomi lagi.

 

“Tapi setelah kami lelang, ternyata masih ada yang berminat.

Penghapusan lewat mekanisme lelang ini juga dibenarkan secara regulasi,” imbuhnya.

 



SINGARAJA – Sejumlah barang rongsokan yang dilelang oleh pemerintah, ternyata laku keras.

 

Barang-barang yang selama ini menumpuk di gudang pemerintah dan dianggap tak memiliki nilai, ternyata masih diminati para pengepul.  

Bahkan, para pengepul berani melego barang rongsokan pemkab dengan nilai tinggi.

 

 

Dari lelang barang bekas seperti kendaraan bermotor, peralatan elektronik rusak, hingga bongkaran bangunan, Pemkab Buleleng menerima puluhan juta rupiah.

 

Seperti saat proses lelang yang dilakukan Praja Winangun Kantor Bupati Buleleng, Kamis siang (13/9), peserta lelang memberikan tawaran nilai yang cukup tinggi.

 

Kendaraan bermotor misalnya. Dua unit sepeda motor Honda Win keluaran tahun 2003 dari harga limit masing-masing Rp 1,1 juta dan Rp 1,7 juta, akhirnya laku seharga Rp 3,6 juta dan Rp 4,1 juta.

Baca Juga:  FIX, ASDP Gilimanuk Mulai Terapkan Tiket Nontunai Kendaraan Bermotor

 

Sementara sepeda motor Honda Kharisma keluaran tahun 2004, hanya laku Rp 1,7 juta. Lebih mahal Rp 50 ribu dari limit awal Rp 1,65 juta.

 

Sedangkan rongsokan milik pemerintah yang tersebar di beberapa instansi, juga laku dengan harga meyakinkan.

 

Dari lelang barang elektronik saja, nilai yang didapat mencapai Rp 17 juta.

Sehingga jika ditotal, barang elektronik dan sepeda motor laku Rp 26,3 juta.

 

Kabid Aset Badan Keuangan Daerah (BKD) Buleleng, Made Pasda Gunawan mengatakan, pemerintah memang sengaja melego barang tersebut melalui mekanisme lelang.

Pasda menyebut lelang itu merupakan salah satu cara melakukan penghapusan barang milik daerah, yang sudah tak memiliki nilai.

Baca Juga:  Bodong, Ratusan Hotel dan Restoran di Klungkung Belum Tersertifikasi

 

“Setelah dilakukan penilaian, nilai barang tersebut sudah habis karena penyusutan. Selain itu barangnya juga sudah rusak, tidak terpakai lagi. Sesuai regulasi kami hapuskan dari daftar aset,” kata Pasda.

 

Dari hitung-hitungan aset, barang-barang itu memang tak memiliki nilai ekonomi lagi.

 

“Tapi setelah kami lelang, ternyata masih ada yang berminat.

Penghapusan lewat mekanisme lelang ini juga dibenarkan secara regulasi,” imbuhnya.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/