alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Sambut Wisatawan, Akomodasi Wisata Didorong Kejar Sertifikat CHSE

 

SINGARAJA– Fasilitas akomodasi wisata di Buleleng didorong segera mengejar sertifikat CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability). Sertifikat itu menjadi salah satu syarat wajib bagi akomodasi wisata yang siap menerima wisatawan.

 

Saat ini sejumlah akomodasi wisata di Buleleng telah mengantongi sertifikat CHSE. Baik itu fasilitas yang berupa hotel non bintang maupun hotel bintang 5. Hanya saja, ditengarai masih ada akomodasi wisata yang belum mengantongi sertifikat CHSE.

 

Plt. Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Ni Made Rousmini menegaskan, sertifikat CHSE menjadi salah satu syarat wajib. Selain sertifikat CHSE, pengelola akomodasi wisata dan destinasi wisata juga wajib menerima vaksin covid-19, serta menerapkan aplikasi PeduliLindungi.

Baca Juga:  Kunjungan Wisatawan Domestik ke Bali Tembus 100 Ribu Lebih

 

Menurut Rousmini seluruh fasilitas akomodasi pariwisata harus segera melengkapi sertifikat CHSE itu. Apalagi border pariwisata akan dibuka pada 14 Oktober mendatang. Menurutnya wisatawan mancanegara akan menjadikan sertifikat CHSE sebagai acuan pada akomodasi tersebut telah aman dari covid-19.

 

“Sertifikat CHSE itu salah satu syarat wajib. Wisatawan mancanegara juga akan melihat sertifikat itu. Kalau tidak ada sertifikat CHSE, kecil kemungkinan dia mau menginap di hotel itu,” kata Rousmini.

 

Ia tak memungkiri saat ini masih ada beberapa akomodasi pariwisata yang belum mengantongi sertifikat CHSE. Ia menyebut sudah 85 persen akomodasi mengantongi sertifikat CHSE. Khusus bagi akomodasi yang belum mengantongi sertifikat, didorong segera mengajukan pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf).

Baca Juga:  Bali Paling Rawan Bencana, Kementerian ESDM Minta Masyarakat Tak Panik

 

Rousmini mengungkapkan saat ini Kemparekraf memberikan alokasi 1.200 sertifikat CHSE gratis bagi akomodasi wisata di Bali. “Ini harus dimanfaatkan. Karena kalau ikut sertifikasi mandiri, itu biayanya paling tidak Rp 12 juta,” ujarnya.

 

Ia pun optimistis sektor pariwisata di Bali Utara akan bergulir kembali. Meski belum didatangi wisatawan mancanegara dalam waktu dekat, ia yakin wisatawan domestik akan berdatangan ke Buleleng.


 

SINGARAJA– Fasilitas akomodasi wisata di Buleleng didorong segera mengejar sertifikat CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability). Sertifikat itu menjadi salah satu syarat wajib bagi akomodasi wisata yang siap menerima wisatawan.

 

Saat ini sejumlah akomodasi wisata di Buleleng telah mengantongi sertifikat CHSE. Baik itu fasilitas yang berupa hotel non bintang maupun hotel bintang 5. Hanya saja, ditengarai masih ada akomodasi wisata yang belum mengantongi sertifikat CHSE.

 

Plt. Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Ni Made Rousmini menegaskan, sertifikat CHSE menjadi salah satu syarat wajib. Selain sertifikat CHSE, pengelola akomodasi wisata dan destinasi wisata juga wajib menerima vaksin covid-19, serta menerapkan aplikasi PeduliLindungi.

Baca Juga:  Rumah Ambruk Diguyur Hujan dan Angin, Nenek Satipah Tinggal di Tenda

 

Menurut Rousmini seluruh fasilitas akomodasi pariwisata harus segera melengkapi sertifikat CHSE itu. Apalagi border pariwisata akan dibuka pada 14 Oktober mendatang. Menurutnya wisatawan mancanegara akan menjadikan sertifikat CHSE sebagai acuan pada akomodasi tersebut telah aman dari covid-19.

 

“Sertifikat CHSE itu salah satu syarat wajib. Wisatawan mancanegara juga akan melihat sertifikat itu. Kalau tidak ada sertifikat CHSE, kecil kemungkinan dia mau menginap di hotel itu,” kata Rousmini.

 

Ia tak memungkiri saat ini masih ada beberapa akomodasi pariwisata yang belum mengantongi sertifikat CHSE. Ia menyebut sudah 85 persen akomodasi mengantongi sertifikat CHSE. Khusus bagi akomodasi yang belum mengantongi sertifikat, didorong segera mengajukan pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf).

Baca Juga:  Ratusan Wisatawan Domestik Cancel Bookingan ke Karangasem

 

Rousmini mengungkapkan saat ini Kemparekraf memberikan alokasi 1.200 sertifikat CHSE gratis bagi akomodasi wisata di Bali. “Ini harus dimanfaatkan. Karena kalau ikut sertifikasi mandiri, itu biayanya paling tidak Rp 12 juta,” ujarnya.

 

Ia pun optimistis sektor pariwisata di Bali Utara akan bergulir kembali. Meski belum didatangi wisatawan mancanegara dalam waktu dekat, ia yakin wisatawan domestik akan berdatangan ke Buleleng.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/