alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, August 11, 2022

Setelah Menunggu 15 Tahun, Desa Tenganan Karangasem Punya TPST3R

Harapan untuk memiliki tempat pengelolaan sampah secara mandiri di Desa Tenganan, Karangasem akhirnya terwujud. Tempat Pengelolan Sampah Terpadu berbasis Reduce, Reuse dan Recycle (TPST3R) itu harus menunggu 15 tahun lamanya. Seperti apa?

 

I WAYAN WIDYANTARA, Karangasem

 

DI sudut pelataran parkir desa Tenganan Pegringsingan telah terbangun sebuah gedung sederhana berukuran 6 x 18 meter yang difungsikan untuk TPST 3R sementara.

 

Fungsi TPST 3R sementara ini digunakan untuk Bank Sampah dan menampung sampah residu. Gedung ini baru saja diresmikan pada 11 Februari 2022 lalu.

 

Tepat 11 Februari 2022 gedung ini telah diresmikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karangasem. Hadir dalam acara ini, Camat Manggis, BPD Desa Tenganan, Bendesa Adat Tenganan Pegringsingan, Griya Luhu, STT, Komunitas Ombo, PKK banjar Adat Tenganan Pegringsingan dan Tim PPLH Bali.

 

Tenganan adalah desa wisata yang sudah mendunia karena terkenal dengan kekayaan adat, budaya, tenun, tari dan hutan yang sangat luas memberikan kehidupan mampan kepada masyarakatnya.

 

Tenganan meskipun disebut desa Bali Aga, tentu tidak terhindar dari kehidupan modern. Penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari disana sudah menjadi kebutuhan.

 

Mulai dari penggunaan tali raffia untuk mengikat tenun, gulungan benang yang menyisakan pipa plastik, ditambah lagi dengan pembungkus makanan yang serba terbungkus plastik.

Baca Juga:  Bupati: Tenganan Tak Boleh Tergerus Budaya Lain

 

Hasil WABA (waste analisys brand audit) produk Wings yang mendominasi. Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali didukung oleh GAIA (Global Alliance for Incenerator Alternatives) bekerjasama dengan Desa Tenganan untuk menerapkan program Zero Waste Cities (kawasan bebas sampah) seperti kota-kota di Asia seperti Philipina, Vietnam, Laos, India.

 

Tahap pertama dilakukan kajian sampah di Tenganan didukung oleh Yayasan Wisnu, GEF SGP, Kementerian Lingkungan German. Hasil kajian menunjukan bahwa sampah yang dihasilkan oleh masyarakat selama ini 98% dibakar dan sisanya dibuang ke kebun. Masyarakat juga menyatakan 54% setuju dan 44% sangat setuju jika di desa dilakukan pengelolaan sampah terpadu.

 

Merujuk dari hasil kajian ini, Kepala Desa Tenganan sudah berupaya mengajukan proposal kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karangasem untuk pendirian TPST 3R. Tetapi rupanya tahun 2023 akan bisa terlaksana. 

 

“Proposal pendirian TPST 3R dari Tenganan sudah kami terima, tetapi harap bersabar karena keputusan ada di propinsi. Tetapi saya bangga dengan Desa Tenganan meskipun TPST 3R belum ada tetapi sudah ada upaya mendirikan bangunan Bank Sampah Amala Loka Tenganan yang sederhana ini,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Karangasem, I Nyoman Tari dalam sambutan acara peresmian bank sampah.

Baca Juga:  Masuk Zona Merah Narkoba, Baru 30 Desa Bentuk Pararem Antinarkotika

 

Nyoman Tari berharap tempat ini dimanfaatkan secara berkelanjutan dan berguna pada masyarakat di Tenganan.

 

“Saya sepakat apa yang disampaikan kepala BPD Tenganan bahwa Bank Sampah ini jangan hangat hangat tai ayam, harus terus didampingi. PPLH Bali tidak boleh melepaskan sebelum berhasil dan kemudian PPLH Bali dapat membantu di desa-desa lain di Kabupaten Karangasem ini,” imbuhnya 

 

Sementara itu, Putu Suarjana, Bendesa Adat Tenganan Pegringsingan juga menyampaikan  pengelolaan sampah di Tenganan sudah menjadi cita-cita sejak 15 tahun lalu, tetapi tidak pernah berhasil.

 

“Semoga dengan berdirinya bangunan ini sebagai momentum aktivitas pengelolaan sampah tidak berhenti lagi hingga berhasil,” ujarnya pada Minggu (13/2).

 

Catur Yudha Hariani Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali juga berjanji akan mendampingi Desa Tenganan Pegringsingan dalam pengelolaan sampah sampah berhasil.

 

“Kami janji tidak akan meninggalkan desa Tenganan sebelum berhasil, kami sudah bekerjasama dengan Griya Luhu untuk membangun bank sampah berbasis digital kemudian kami tidak akan pergi sebelum terbangun TPST3R dan harus jalan dengan baik dan benar. Selain itu kami tidak bisa bekerja sendiri, relawan Ombo dan Kader Bank Sampah AMALA LOKA Tenganan serta masyarakat Tenganan harus terus mendukung,” pungkasnya. 



Harapan untuk memiliki tempat pengelolaan sampah secara mandiri di Desa Tenganan, Karangasem akhirnya terwujud. Tempat Pengelolan Sampah Terpadu berbasis Reduce, Reuse dan Recycle (TPST3R) itu harus menunggu 15 tahun lamanya. Seperti apa?

 

I WAYAN WIDYANTARA, Karangasem

 

DI sudut pelataran parkir desa Tenganan Pegringsingan telah terbangun sebuah gedung sederhana berukuran 6 x 18 meter yang difungsikan untuk TPST 3R sementara.

 

Fungsi TPST 3R sementara ini digunakan untuk Bank Sampah dan menampung sampah residu. Gedung ini baru saja diresmikan pada 11 Februari 2022 lalu.

 

Tepat 11 Februari 2022 gedung ini telah diresmikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karangasem. Hadir dalam acara ini, Camat Manggis, BPD Desa Tenganan, Bendesa Adat Tenganan Pegringsingan, Griya Luhu, STT, Komunitas Ombo, PKK banjar Adat Tenganan Pegringsingan dan Tim PPLH Bali.

 

Tenganan adalah desa wisata yang sudah mendunia karena terkenal dengan kekayaan adat, budaya, tenun, tari dan hutan yang sangat luas memberikan kehidupan mampan kepada masyarakatnya.

 

Tenganan meskipun disebut desa Bali Aga, tentu tidak terhindar dari kehidupan modern. Penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari disana sudah menjadi kebutuhan.

 

Mulai dari penggunaan tali raffia untuk mengikat tenun, gulungan benang yang menyisakan pipa plastik, ditambah lagi dengan pembungkus makanan yang serba terbungkus plastik.

Baca Juga:  Bupati: Tenganan Tak Boleh Tergerus Budaya Lain

 

Hasil WABA (waste analisys brand audit) produk Wings yang mendominasi. Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali didukung oleh GAIA (Global Alliance for Incenerator Alternatives) bekerjasama dengan Desa Tenganan untuk menerapkan program Zero Waste Cities (kawasan bebas sampah) seperti kota-kota di Asia seperti Philipina, Vietnam, Laos, India.

 

Tahap pertama dilakukan kajian sampah di Tenganan didukung oleh Yayasan Wisnu, GEF SGP, Kementerian Lingkungan German. Hasil kajian menunjukan bahwa sampah yang dihasilkan oleh masyarakat selama ini 98% dibakar dan sisanya dibuang ke kebun. Masyarakat juga menyatakan 54% setuju dan 44% sangat setuju jika di desa dilakukan pengelolaan sampah terpadu.

 

Merujuk dari hasil kajian ini, Kepala Desa Tenganan sudah berupaya mengajukan proposal kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karangasem untuk pendirian TPST 3R. Tetapi rupanya tahun 2023 akan bisa terlaksana. 

 

“Proposal pendirian TPST 3R dari Tenganan sudah kami terima, tetapi harap bersabar karena keputusan ada di propinsi. Tetapi saya bangga dengan Desa Tenganan meskipun TPST 3R belum ada tetapi sudah ada upaya mendirikan bangunan Bank Sampah Amala Loka Tenganan yang sederhana ini,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Karangasem, I Nyoman Tari dalam sambutan acara peresmian bank sampah.

Baca Juga:  Bupati: Tenganan Tak Boleh Tergerus Budaya Lain

 

Nyoman Tari berharap tempat ini dimanfaatkan secara berkelanjutan dan berguna pada masyarakat di Tenganan.

 

“Saya sepakat apa yang disampaikan kepala BPD Tenganan bahwa Bank Sampah ini jangan hangat hangat tai ayam, harus terus didampingi. PPLH Bali tidak boleh melepaskan sebelum berhasil dan kemudian PPLH Bali dapat membantu di desa-desa lain di Kabupaten Karangasem ini,” imbuhnya 

 

Sementara itu, Putu Suarjana, Bendesa Adat Tenganan Pegringsingan juga menyampaikan  pengelolaan sampah di Tenganan sudah menjadi cita-cita sejak 15 tahun lalu, tetapi tidak pernah berhasil.

 

“Semoga dengan berdirinya bangunan ini sebagai momentum aktivitas pengelolaan sampah tidak berhenti lagi hingga berhasil,” ujarnya pada Minggu (13/2).

 

Catur Yudha Hariani Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali juga berjanji akan mendampingi Desa Tenganan Pegringsingan dalam pengelolaan sampah sampah berhasil.

 

“Kami janji tidak akan meninggalkan desa Tenganan sebelum berhasil, kami sudah bekerjasama dengan Griya Luhu untuk membangun bank sampah berbasis digital kemudian kami tidak akan pergi sebelum terbangun TPST3R dan harus jalan dengan baik dan benar. Selain itu kami tidak bisa bekerja sendiri, relawan Ombo dan Kader Bank Sampah AMALA LOKA Tenganan serta masyarakat Tenganan harus terus mendukung,” pungkasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/