alexametrics
25.4 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Peternak Babi di Klungkung Mulai Was-Was Wabah Virus ASF

SEMARAPURA –Meski virus African Swine Fever (ASF) belum mewabah di Klungkung, sejumlah peternak babi di Gumi Serombotan mulai dilanda rasa was-was dan takut.

Bahkan, akibat diselimuti rasa was-was, tidak sedikit para peternak babi di Klungkung yang mulai mengurangi jumlah bibit yang diternak.

Selain karena takut babi yang mereka pelihara mati mendadak, terus menurunnya harga babi juga menjadi alasan peternak mengurangi jumlah.

Seperti diakui salah seorang peternak babi di Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangan, I Made Jaya.

Ditemui beberapa waktu lalu, Jaya menuturkan, jika hingga saat ini kasus babi mati mendadak dalam jumlah signifikan belum terjadi terhadap ternak babinya.

Namun karena kasus ini sudah terjadi di sejumlah kabupaten yang bertetangga dengan Kabupaten Klungkung, rasa khawatir mengalami hal serupa pun membayangi.

Baca Juga:  Cegah Kematian Mendadak, Bupati Terbitkan SE Biosecurity Ternak Babi

“Saya dengar ternak babi peternak di Bangli, Gianyar, dan Karangasem banyak yang mati. Kalau di sini belum ada. Babi yang mati masih batas normal. Hanya satu ekor,” terangnya.

Lantaran khawatir wabah virus ASF juga menyerang ternak babi di Kabupaten Klungkung, dia mengaku mengurangi jumlah babi yang dipeliharanya.

Menurutnya, dari biasanya membeli bibit babi 10 ekor per 60 hari. Kini hanya 5 ekor saja per 60 hari.

Meski saat ini harga bibit babi terbilang murah, namun dia mengaku tidak berani memelihara dengan jumlah yang sama seperti sebelum virus tersebut menyerang.

“Dulu bibit babi itu Rp 800 ribu per ekor. Sekarang Rp 500 ribu per ekor. Sebelumnya saya pelihara babi rata-rata 200 ekor. Sekarang sekitar 100 ekor saja. Takut nanti terkena wabah. Menekan potensi kerugian kalau itu terjadi,” terangnya.

Baca Juga:  Diterjang Air Bah, Jembatan Gantung di Pupuan Putus

Selain rasa khawatir, harga jual babi hidup yang rendah juga menjadi penyebab dia memutuskan untuk mengurangi jumlah ternak babi yang dipeliharanya.

Bila sebelumnya harga babi hidup sekitar Rp 26 ribu – Rp 28 ribu per kilogram.

Sejak bulan Februari harganya anjlok berkisar Rp 20 ribu – Rp 21 ribu per kilogram. Begitu juga dengan tukang jagal, menurutnya mulai mengurangi babi yang dipotong sejak virus tersebut ada.

Jika biasanya tukang jagal langgannya memotong 5 ekor babi sehari, kini hanya 2 ekor sehari.

“Saya berharap virus ini cepat menghilang. Sebagai langkah antisipasi agar ternak saya tidak terserang juga, setiap tiga hari sehari saya menyemprot kandang dan terak saya dengan insektisida,” tukasnya.



SEMARAPURA –Meski virus African Swine Fever (ASF) belum mewabah di Klungkung, sejumlah peternak babi di Gumi Serombotan mulai dilanda rasa was-was dan takut.

Bahkan, akibat diselimuti rasa was-was, tidak sedikit para peternak babi di Klungkung yang mulai mengurangi jumlah bibit yang diternak.

Selain karena takut babi yang mereka pelihara mati mendadak, terus menurunnya harga babi juga menjadi alasan peternak mengurangi jumlah.

Seperti diakui salah seorang peternak babi di Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangan, I Made Jaya.

Ditemui beberapa waktu lalu, Jaya menuturkan, jika hingga saat ini kasus babi mati mendadak dalam jumlah signifikan belum terjadi terhadap ternak babinya.

Namun karena kasus ini sudah terjadi di sejumlah kabupaten yang bertetangga dengan Kabupaten Klungkung, rasa khawatir mengalami hal serupa pun membayangi.

Baca Juga:  Diterjang Air Bah, Jembatan Gantung di Pupuan Putus

“Saya dengar ternak babi peternak di Bangli, Gianyar, dan Karangasem banyak yang mati. Kalau di sini belum ada. Babi yang mati masih batas normal. Hanya satu ekor,” terangnya.

Lantaran khawatir wabah virus ASF juga menyerang ternak babi di Kabupaten Klungkung, dia mengaku mengurangi jumlah babi yang dipeliharanya.

Menurutnya, dari biasanya membeli bibit babi 10 ekor per 60 hari. Kini hanya 5 ekor saja per 60 hari.

Meski saat ini harga bibit babi terbilang murah, namun dia mengaku tidak berani memelihara dengan jumlah yang sama seperti sebelum virus tersebut menyerang.

“Dulu bibit babi itu Rp 800 ribu per ekor. Sekarang Rp 500 ribu per ekor. Sebelumnya saya pelihara babi rata-rata 200 ekor. Sekarang sekitar 100 ekor saja. Takut nanti terkena wabah. Menekan potensi kerugian kalau itu terjadi,” terangnya.

Baca Juga:  100 KK Kurang Mampu di Klungkung Siap Kembangkan Pertanian Hidroponik

Selain rasa khawatir, harga jual babi hidup yang rendah juga menjadi penyebab dia memutuskan untuk mengurangi jumlah ternak babi yang dipeliharanya.

Bila sebelumnya harga babi hidup sekitar Rp 26 ribu – Rp 28 ribu per kilogram.

Sejak bulan Februari harganya anjlok berkisar Rp 20 ribu – Rp 21 ribu per kilogram. Begitu juga dengan tukang jagal, menurutnya mulai mengurangi babi yang dipotong sejak virus tersebut ada.

Jika biasanya tukang jagal langgannya memotong 5 ekor babi sehari, kini hanya 2 ekor sehari.

“Saya berharap virus ini cepat menghilang. Sebagai langkah antisipasi agar ternak saya tidak terserang juga, setiap tiga hari sehari saya menyemprot kandang dan terak saya dengan insektisida,” tukasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/