alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Penanganan Wabah Penyakit Menurut Lontar Bali, Ini Ulasan Sugi Lanus

FILOLOG Naskah Lontar Bali dan dan Jawa Kuno Sugi Lanus membuat sebuah kajian menarik terkait bagaimana protokol pengananan wabah yang diambil dalam lontar-lontar Bali.

 

Dalam kajiannya, Sugi Lanus memaparkan,jika di masa lalu ketika terjadi wabah, pemimpin pemerintahan mengundang rohaniawan (pandhita, mpu), pemimpin daerah (bendesa), dan praktisi kesehatan (balian usada), mengadakan rapat terbatas dalam rangka merumuskan kebijakan (pararem/pacingkreman) sebagai protokol penanganan wabah.

 

Isinya berupa pembatasan upakara, tata cara pengobatan, karantina, penguburan, dan upakara penyucian. Pokok-pokok protokol dari masa lalu tersebut terdapat dalam lontar jenis Usada dan Widhi Sastra.

 

Lontar Usada yang mengandung protokol karatina dan pengendalian sosial terkait wabah, di antaranya Anda Kacacar, Usada Gede, Usada Ila, Usada Cukil Daki.

 

Lontar jenis Widhi Sastra yang terkait penanganan wabah, di antaranya Widhi Sastra Swamandala dan Widhi Sastra Roga Sanghara Gumi.

 

Protokol Pelarangan Pujawali (Menghindari Kerumuman di Tempat Ibadah) Desa Bugbug, Karangasem, misalnya, memiliki lontar protokol penanganan wabah cacar,

berjudul ‘’Anda Kacacar’’.

 

Disebutkan pembatasan untuk tidak menyelenggarakan salwirning walikrama (segala jenis perayaan pura atau pujawali).

 

Lontar ini melarang penyelenggaraan pujawali ketika wabah. Setelah wabah reda dan situasi pulih dan datang wuku Dungulan (hari raya Galungan), penduduk baru diperbolehkan ke pura. Ini sejalan dengan nasihat lisan yang kita terima secara turun-temurun:

 

‘’Masang gering ten dados mesu. Meneng jumah’’ (Musim wabah tidak boleh keluar. Diam tenanglah di rumah)

 

Masuk ke Protokol Karantina, ditulis Sugi Lanus, untuk mengkarantina penderita penyakit menular disiapkan pondok-pondok sederhana di pantai, atau di luar desa, berpisah dengan keluarganya, dan tidak kembali ke desa sampai dinyatakan benar-benar sembuh.

Baca Juga:  Pakai Sabu Biar Betah Melek di Pos Jaga Covid-19, Warga Sidatapa Dijuk

 

Lontar Usada Gede, menyebutkan (hal. 77a, 81a):

 

…jika ada orang yang ditimpa penyakit menular itu, oleh penguasa (raja), ditempatkan di pinggir pantai, jauh dari desa, tidak boleh dilihat oleh masyarakat desa, jangan dibiarkan lama-lama di desa, jika dibiarkan lama orang itu di desa, akibatnya semua Dewa meninggalkan desa itu…”

 

Masuk ke protokol Pengobatan, didalam beberapa lontar seperti Lontar Usada Cukil Daki dan Usada Ila menyebutkan resep obat untuk wabah, tetapi sangat tergantung pada balian usada (penyembuh) yang akan menjalankan terapinya.

 

Sang penyembuh dituntun menguasai ilmu pengobatan dan cara terapi yang tepat, agar tidak salah mendiagnosis, agar tidak tertular. Lontar-lontar tersebut juga menyebutkan kode etik balian (penyembuh) agar tidak salah diagnosis, dan tidak mengambil keuntungan dari orang yang terkena wabah.

 

Untuk protokol sanksi denda, dijelaskan Protokol wabah di masa lalu lengkap dengan sanksi berupa denda. Lontar Usada Gede (hal. 76b-77a) menyebutkan:

 

‘’Penguasa (raja) hendaknya memperhatikan sastra Kalimosada, untuk menangani orang yang disebut kena ‘gering kuta marana‘. Selanjutnya, jika ada orang yang berani menyembunyikan orang yang kena penyakit menular, dikenai denda oleh raja, besarnya denda berupa uang 100.060 kepeng, demikian ajaran (ketentuan) Sang Hyang Kuta Marana (wabah besar/penyakit kota)’’

 

Sementara untuk protokol Penguburan, dalam Lontar Widhi Sastra Sang Hyang Swamandala berisi protokol penguburan korban wabah.

 

Disebutkan, jika wabah menimbulkan korban banyak, maka warga desa diminta langsung menguburkan mayat tanpa perlu upakara yang serupa dengan situasi normal.

Baca Juga:  Daring Tak Efektif, Ratusan Sekolah di Karangasem Siap Tatap Muka

 

Lontar Yama Purwana Tattwa menyebutkan masyarakat boleh melakukan penguburan langsung tanpa upakara jika terjadi situasi:

 

‘’… diserang musuh, musibah penyakit, dan yang lainnya yang menyebabkan masyarakat kacau. Pelaksanaan penguburan tidak menghaturkan upakara pejati sebagaimana situasi normal… Lontar ini selanjutnya menyebutkan orang yang meninggal karena

lepra harus langsung dikubur dan baru boleh diupakarai setelah 25 tahun.

 

Untuk protokol Doa dan Mantra, disebutkan Pendeta dan masyarakat Bali sampai kini masih memakai pedoman protokol doa dan mantra dari masa lalu.

 

Jika ada wabah, masyarakat dituntun untuk menghaturkan segehan, sangu, tawur, dll. dengan panduan puja ditujukan ke Sang Hyang Ganapati untuk memohon perlindungan keluarga dan krama.

 

Hal tersebut disebutkan dalam Lontar Widhi Sastra Roga Sanghara Bumi dan Widhi Sastra Sang Hyang

Swamandala.

 

Dalam penutupnya, Sugi Lanus menyampaikan berbagai lontar di atas menjadi bukti bagaimana leluhur sangat tanggap dalam penanganan wabah di masa lalu.

 

Dalam keterbatasan teknologi kesehatan, leluhur sangat serius membentengi diri lahir batin, berdasar wiweka (nalar) dan bakti.

 

Bahkan semua perayaan pujawali (salwirning walikrama) dilarang di masa wabah.

 

“Berbagai pedoman penanganan penyakit dalam lontar-lontar warisan leluhur tersebut sudah sepatutnya menjadi sesuluh kita dalam menghadapi Covid-19,”kata Sugi Lanus saat dikonfirmasi radarbali.id.

 

Leluhur telah teruji melewati berbagai wabah. Para tetua desa selalu mengingatkan: Leluhur kita sangat serius menutup batas- batas desa bahkan sampai berbulan-bulan, bersepakat menjalankan isolasi diri.

 

“Jika saja mereka tidak serius, mungkin kita tidak pernah terlahir,”tukas Sugi Lanus.

- Advertisement -
- Advertisement -

FILOLOG Naskah Lontar Bali dan dan Jawa Kuno Sugi Lanus membuat sebuah kajian menarik terkait bagaimana protokol pengananan wabah yang diambil dalam lontar-lontar Bali.

 

Dalam kajiannya, Sugi Lanus memaparkan,jika di masa lalu ketika terjadi wabah, pemimpin pemerintahan mengundang rohaniawan (pandhita, mpu), pemimpin daerah (bendesa), dan praktisi kesehatan (balian usada), mengadakan rapat terbatas dalam rangka merumuskan kebijakan (pararem/pacingkreman) sebagai protokol penanganan wabah.


 

Isinya berupa pembatasan upakara, tata cara pengobatan, karantina, penguburan, dan upakara penyucian. Pokok-pokok protokol dari masa lalu tersebut terdapat dalam lontar jenis Usada dan Widhi Sastra.

 

Lontar Usada yang mengandung protokol karatina dan pengendalian sosial terkait wabah, di antaranya Anda Kacacar, Usada Gede, Usada Ila, Usada Cukil Daki.

 

Lontar jenis Widhi Sastra yang terkait penanganan wabah, di antaranya Widhi Sastra Swamandala dan Widhi Sastra Roga Sanghara Gumi.

 

Protokol Pelarangan Pujawali (Menghindari Kerumuman di Tempat Ibadah) Desa Bugbug, Karangasem, misalnya, memiliki lontar protokol penanganan wabah cacar,

berjudul ‘’Anda Kacacar’’.

 

Disebutkan pembatasan untuk tidak menyelenggarakan salwirning walikrama (segala jenis perayaan pura atau pujawali).

 

Lontar ini melarang penyelenggaraan pujawali ketika wabah. Setelah wabah reda dan situasi pulih dan datang wuku Dungulan (hari raya Galungan), penduduk baru diperbolehkan ke pura. Ini sejalan dengan nasihat lisan yang kita terima secara turun-temurun:

 

‘’Masang gering ten dados mesu. Meneng jumah’’ (Musim wabah tidak boleh keluar. Diam tenanglah di rumah)

 

Masuk ke Protokol Karantina, ditulis Sugi Lanus, untuk mengkarantina penderita penyakit menular disiapkan pondok-pondok sederhana di pantai, atau di luar desa, berpisah dengan keluarganya, dan tidak kembali ke desa sampai dinyatakan benar-benar sembuh.

Baca Juga:  Siapkan Anggaran Rp 113 M, Pemprov Pastikan Bayar Semua Tanah Rakyat

 

Lontar Usada Gede, menyebutkan (hal. 77a, 81a):

 

…jika ada orang yang ditimpa penyakit menular itu, oleh penguasa (raja), ditempatkan di pinggir pantai, jauh dari desa, tidak boleh dilihat oleh masyarakat desa, jangan dibiarkan lama-lama di desa, jika dibiarkan lama orang itu di desa, akibatnya semua Dewa meninggalkan desa itu…”

 

Masuk ke protokol Pengobatan, didalam beberapa lontar seperti Lontar Usada Cukil Daki dan Usada Ila menyebutkan resep obat untuk wabah, tetapi sangat tergantung pada balian usada (penyembuh) yang akan menjalankan terapinya.

 

Sang penyembuh dituntun menguasai ilmu pengobatan dan cara terapi yang tepat, agar tidak salah mendiagnosis, agar tidak tertular. Lontar-lontar tersebut juga menyebutkan kode etik balian (penyembuh) agar tidak salah diagnosis, dan tidak mengambil keuntungan dari orang yang terkena wabah.

 

Untuk protokol sanksi denda, dijelaskan Protokol wabah di masa lalu lengkap dengan sanksi berupa denda. Lontar Usada Gede (hal. 76b-77a) menyebutkan:

 

‘’Penguasa (raja) hendaknya memperhatikan sastra Kalimosada, untuk menangani orang yang disebut kena ‘gering kuta marana‘. Selanjutnya, jika ada orang yang berani menyembunyikan orang yang kena penyakit menular, dikenai denda oleh raja, besarnya denda berupa uang 100.060 kepeng, demikian ajaran (ketentuan) Sang Hyang Kuta Marana (wabah besar/penyakit kota)’’

 

Sementara untuk protokol Penguburan, dalam Lontar Widhi Sastra Sang Hyang Swamandala berisi protokol penguburan korban wabah.

 

Disebutkan, jika wabah menimbulkan korban banyak, maka warga desa diminta langsung menguburkan mayat tanpa perlu upakara yang serupa dengan situasi normal.

Baca Juga:  Pakai Sabu Biar Betah Melek di Pos Jaga Covid-19, Warga Sidatapa Dijuk

 

Lontar Yama Purwana Tattwa menyebutkan masyarakat boleh melakukan penguburan langsung tanpa upakara jika terjadi situasi:

 

‘’… diserang musuh, musibah penyakit, dan yang lainnya yang menyebabkan masyarakat kacau. Pelaksanaan penguburan tidak menghaturkan upakara pejati sebagaimana situasi normal… Lontar ini selanjutnya menyebutkan orang yang meninggal karena

lepra harus langsung dikubur dan baru boleh diupakarai setelah 25 tahun.

 

Untuk protokol Doa dan Mantra, disebutkan Pendeta dan masyarakat Bali sampai kini masih memakai pedoman protokol doa dan mantra dari masa lalu.

 

Jika ada wabah, masyarakat dituntun untuk menghaturkan segehan, sangu, tawur, dll. dengan panduan puja ditujukan ke Sang Hyang Ganapati untuk memohon perlindungan keluarga dan krama.

 

Hal tersebut disebutkan dalam Lontar Widhi Sastra Roga Sanghara Bumi dan Widhi Sastra Sang Hyang

Swamandala.

 

Dalam penutupnya, Sugi Lanus menyampaikan berbagai lontar di atas menjadi bukti bagaimana leluhur sangat tanggap dalam penanganan wabah di masa lalu.

 

Dalam keterbatasan teknologi kesehatan, leluhur sangat serius membentengi diri lahir batin, berdasar wiweka (nalar) dan bakti.

 

Bahkan semua perayaan pujawali (salwirning walikrama) dilarang di masa wabah.

 

“Berbagai pedoman penanganan penyakit dalam lontar-lontar warisan leluhur tersebut sudah sepatutnya menjadi sesuluh kita dalam menghadapi Covid-19,”kata Sugi Lanus saat dikonfirmasi radarbali.id.

 

Leluhur telah teruji melewati berbagai wabah. Para tetua desa selalu mengingatkan: Leluhur kita sangat serius menutup batas- batas desa bahkan sampai berbulan-bulan, bersepakat menjalankan isolasi diri.

 

“Jika saja mereka tidak serius, mungkin kita tidak pernah terlahir,”tukas Sugi Lanus.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/