alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Perbekel Sebut Penolakan TPS3R karena Beriuk Siu dan Warga Tak Paham

GIANYAR-Rencana pembangunan Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse, Recyle, (TPS3R) di wilayah Subak Rapuan, Banjar Tarukan, Desa Mas, Kecamatan Ubud mendapat penolakan dari warga.

 

Terkait adanya penolakan dari krama (warga), Bendesa Adat Mas, Wayan Gede Arsania membenarkan.

 

Dikatakan, penolakan warga karena masyarakat merasa khawatir.

 

“Konotasi sampah. Kami sampaikan TPS3R beda dengan TPA (Tempat Pembuangan Sampah). Kalau TPA, kami menolak. TPS3R ini justru pendukung pariwisata. Saya pikir jangka panjang,” ujar Arsania, Kamis (14/10).

 

Menurut dia, di masing-masing Banjar harus bisa mengelola sampah sendiri. Namun, demikiian, dia menilai masyarakat belum siap.

 

“Ketika dibawa ke lingkungan mereka mendukung, namun menolak. Kami di desa, merasa berkepentingan. Karena sampah justru tidak berkurang. Apalagi ada Vila, rumah makan. Kegiatan banyak, sampah banyak. Kalau TPA Temesi tutup, bawa kemana sampah?,” ujarnya.

 

Kata Arsania, di desa adat, memiliki tiga lokasi tanah. “Ada salah satunya syarat ada akses, tanah flat. Pilihan kedua, tidak ada akses. Juga lahan ada akses tapi lingkungan tidak mendukung. Ada tanah pura, namun khawatir kesucian pura,” jelasnya. 

Baca Juga:  Menteri BUMN Pastikan Kesiapan Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk

 

Untuk itu, terkait rencana pengadaan TPS3R, pihaknya mengaku akan berusaha.

 

“Dalam waktu dekat, ada yang berkenan untuk menerima TPS3R. Kami tidak putus asa. Kami malu sama pemerintah. Kalau batal, dana bisa kembali. Selaku pengayah, kami mendukung,” tegasnya.

 

Pun demikian mengenai aspirasi masyarakat, Arsania mengaku akan kembali melakukan pembicaraan lebih lanjut.

 

“Sekarang untuk lokasi belum pasti. Harus lewat paruman. Sekarang masyarakat setuju, tetapi saya harus bawa paruman. Finalnya di sana. Kalau paruman oke, jalan. Kalau mentok, harus lobi lagi,” ungkapnya.

 

Sementara Perbekel Desa Mas, Wayan Gede Dharma Yuda, menambahkan  rencana pembangunan TPS3R merupakan program dari gubernur Bali.

Baca Juga:  Ada Pembangunan Caplok Lahan Produktif, Dewan Mencak-Mencak

 

“Kami ajukan proposal kepada beliau (Gubernur Bali Wayan Koster). Pergunakan dana DAK. Setiap desa adat wajib kelola sampah sendiri. Karena proses, dalam sosialisasi masyarakat belum pahami. Apa itu TPS3R? Bayangan mereka sama dengan TPA,” ujarnya.

 

Sesuai rencana, dana pembangunan TPS3R yang diterima sebesar Rp 1,160 miliar.

 

“Seharusnya, bulan Oktober 2021 ini pembangunan sudah dimulai. Target pertengahan Desember tahun ini sudah jadi,” jelasnya.

 

Menurutnya, saat ini, pengolahan sampah hanya mengedepankan rumah kompos.

 

“Karena desa wisata, mereka beranggapan, sampah berbondong datang, tamu lari. Jadi ada briuk siyu, masuk kepentingan pribadi, masyarakat kurang mengerti,” ungkapnya.

 

Padahal, lanjut dia, tamu akan senang jika sampah dikelola baik.

“Apalagi kami undang rumah kompos Padangtegal. Jadi tempat studi banding. Karena pengolahan di dinas tidak punya lahan. Maka kami pergunakan tanah adat,” pungkasnya. 


GIANYAR-Rencana pembangunan Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse, Recyle, (TPS3R) di wilayah Subak Rapuan, Banjar Tarukan, Desa Mas, Kecamatan Ubud mendapat penolakan dari warga.

 

Terkait adanya penolakan dari krama (warga), Bendesa Adat Mas, Wayan Gede Arsania membenarkan.

 

Dikatakan, penolakan warga karena masyarakat merasa khawatir.

 

“Konotasi sampah. Kami sampaikan TPS3R beda dengan TPA (Tempat Pembuangan Sampah). Kalau TPA, kami menolak. TPS3R ini justru pendukung pariwisata. Saya pikir jangka panjang,” ujar Arsania, Kamis (14/10).

 

Menurut dia, di masing-masing Banjar harus bisa mengelola sampah sendiri. Namun, demikiian, dia menilai masyarakat belum siap.

 

“Ketika dibawa ke lingkungan mereka mendukung, namun menolak. Kami di desa, merasa berkepentingan. Karena sampah justru tidak berkurang. Apalagi ada Vila, rumah makan. Kegiatan banyak, sampah banyak. Kalau TPA Temesi tutup, bawa kemana sampah?,” ujarnya.

 

Kata Arsania, di desa adat, memiliki tiga lokasi tanah. “Ada salah satunya syarat ada akses, tanah flat. Pilihan kedua, tidak ada akses. Juga lahan ada akses tapi lingkungan tidak mendukung. Ada tanah pura, namun khawatir kesucian pura,” jelasnya. 

Baca Juga:  Wabup Suiasa Imbau Masyarakat Tetap Utamakan Protokol Kesehatan

 

Untuk itu, terkait rencana pengadaan TPS3R, pihaknya mengaku akan berusaha.

 

“Dalam waktu dekat, ada yang berkenan untuk menerima TPS3R. Kami tidak putus asa. Kami malu sama pemerintah. Kalau batal, dana bisa kembali. Selaku pengayah, kami mendukung,” tegasnya.

 

Pun demikian mengenai aspirasi masyarakat, Arsania mengaku akan kembali melakukan pembicaraan lebih lanjut.

 

“Sekarang untuk lokasi belum pasti. Harus lewat paruman. Sekarang masyarakat setuju, tetapi saya harus bawa paruman. Finalnya di sana. Kalau paruman oke, jalan. Kalau mentok, harus lobi lagi,” ungkapnya.

 

Sementara Perbekel Desa Mas, Wayan Gede Dharma Yuda, menambahkan  rencana pembangunan TPS3R merupakan program dari gubernur Bali.

Baca Juga:  Banyak Warga Lewatkan Vaksin II, Dinkes Karangasem Lakukan Penyisiran

 

“Kami ajukan proposal kepada beliau (Gubernur Bali Wayan Koster). Pergunakan dana DAK. Setiap desa adat wajib kelola sampah sendiri. Karena proses, dalam sosialisasi masyarakat belum pahami. Apa itu TPS3R? Bayangan mereka sama dengan TPA,” ujarnya.

 

Sesuai rencana, dana pembangunan TPS3R yang diterima sebesar Rp 1,160 miliar.

 

“Seharusnya, bulan Oktober 2021 ini pembangunan sudah dimulai. Target pertengahan Desember tahun ini sudah jadi,” jelasnya.

 

Menurutnya, saat ini, pengolahan sampah hanya mengedepankan rumah kompos.

 

“Karena desa wisata, mereka beranggapan, sampah berbondong datang, tamu lari. Jadi ada briuk siyu, masuk kepentingan pribadi, masyarakat kurang mengerti,” ungkapnya.

 

Padahal, lanjut dia, tamu akan senang jika sampah dikelola baik.

“Apalagi kami undang rumah kompos Padangtegal. Jadi tempat studi banding. Karena pengolahan di dinas tidak punya lahan. Maka kami pergunakan tanah adat,” pungkasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/