alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Diterjang Puting Beliung, Bale Gong Roboh

RadarBali.com – Hujan lebat mengguyur Gianyar Senin siang (13/11) mendadak disertai angin puting beliung.  Angin mirip tornado itu terjadi di desa pakraman Sumita di Kecamatan Gianyar.

Akibatnya, sebuah bale gong di Pura Manik Corong yang baru dibangun terangkat putaran angin lalu roboh pada pukul 13.00.

Menurut warga yang juga saksi mata, Putu Suyadnyana, 36, dia sedang berada di kubu untuk berteduh karena hujan amat lebat. “

Saat itu ada angin kencang. Saya lihat angin mutar-mutar di jaba pura,” ujar Putu Suyadnyana, kemarin. Saat kejadian, situasi di pura sedang sepi.

Suyadnya juga melihat angin berputar, kemudian menyasar bangunan bale gong yang baru dua bulan lalu rampung dan belum diupacarai.

Baca Juga:  Digelar Sederhana, Diyakini Bisa Menolak Bala Selama Setahun Mendatang

Padahal menurut rencana, bangunan bale bengon itu hendak diupacarai pada Tumpek Landep mendatang. “Saya lihat anginnya mutar lalu mengangkat atap bale gong. Setelah terangkat, atap langsung jatuh,” ujarnya.

Atap yang terangkat itu kemudian merobohkan tiang penyangga bale gong setinggi 6 meter dengan lebar 9×3 meter tersebut.

“Kira-kira anginnya dari mengangkat  atap bale sampai menjatuhkannya itu sampai 15 detik ada itu,” ujarnya.

Saat atap roboh, sebagian atap roboh menimpa tembok pura, reruntuhan atap juga ada yang berserakan ke jalan. Dan sebagian besar atap roboh di atas lantai bale.

Suyadnyana yang kaget tidak bisa berbuat banyak lantaran saat itu cuaca masih hujan lebat. Selain menimpa bangunan bale gong, hujan lebat dan angin puting beliung juga mengakibatkan pohon tumbang dan beberapa penjor roboh.

Baca Juga:  Asyik, 42 Motor Pemkab Klungkung Dilelang dengan Harga Miring

Setelah hujan berangsur gerimis, Suyadnyana langsung melaporkan kejadian itu kepada prajuru desa setempat.

Bendesa pakraman Sumita, Gede Putra, 55, menyatakan juga tidak bisa melawan kehendak alam. “Ini padahal baru rampung, pembangunannya tiga bulan memakai dana BKK dan urunan warga kami,” ujarnya.

Atas kejadian itu, pihaknya mengaku mengalami kerugian mencapai Rp 250 juta. Untuk membangun bale gong yang rusak ini, warga sudah urunan Rp 250 ribu per kepala keluarga (KK) dari 500 KK yang ada.

“Setelah ini rencana kami akan renovasi kembali. Karena ada kaitanya dengan Tumpek Landep, kami juga akan melakukan karya mamungkah,” tukasnya



RadarBali.com – Hujan lebat mengguyur Gianyar Senin siang (13/11) mendadak disertai angin puting beliung.  Angin mirip tornado itu terjadi di desa pakraman Sumita di Kecamatan Gianyar.

Akibatnya, sebuah bale gong di Pura Manik Corong yang baru dibangun terangkat putaran angin lalu roboh pada pukul 13.00.

Menurut warga yang juga saksi mata, Putu Suyadnyana, 36, dia sedang berada di kubu untuk berteduh karena hujan amat lebat. “

Saat itu ada angin kencang. Saya lihat angin mutar-mutar di jaba pura,” ujar Putu Suyadnyana, kemarin. Saat kejadian, situasi di pura sedang sepi.

Suyadnya juga melihat angin berputar, kemudian menyasar bangunan bale gong yang baru dua bulan lalu rampung dan belum diupacarai.

Baca Juga:  Digelar Sederhana, Diyakini Bisa Menolak Bala Selama Setahun Mendatang

Padahal menurut rencana, bangunan bale bengon itu hendak diupacarai pada Tumpek Landep mendatang. “Saya lihat anginnya mutar lalu mengangkat atap bale gong. Setelah terangkat, atap langsung jatuh,” ujarnya.

Atap yang terangkat itu kemudian merobohkan tiang penyangga bale gong setinggi 6 meter dengan lebar 9×3 meter tersebut.

“Kira-kira anginnya dari mengangkat  atap bale sampai menjatuhkannya itu sampai 15 detik ada itu,” ujarnya.

Saat atap roboh, sebagian atap roboh menimpa tembok pura, reruntuhan atap juga ada yang berserakan ke jalan. Dan sebagian besar atap roboh di atas lantai bale.

Suyadnyana yang kaget tidak bisa berbuat banyak lantaran saat itu cuaca masih hujan lebat. Selain menimpa bangunan bale gong, hujan lebat dan angin puting beliung juga mengakibatkan pohon tumbang dan beberapa penjor roboh.

Baca Juga:  Lanal Denpasar Gelar Touring Sapa Masyarakat Pesisir Pantai Utara Bali

Setelah hujan berangsur gerimis, Suyadnyana langsung melaporkan kejadian itu kepada prajuru desa setempat.

Bendesa pakraman Sumita, Gede Putra, 55, menyatakan juga tidak bisa melawan kehendak alam. “Ini padahal baru rampung, pembangunannya tiga bulan memakai dana BKK dan urunan warga kami,” ujarnya.

Atas kejadian itu, pihaknya mengaku mengalami kerugian mencapai Rp 250 juta. Untuk membangun bale gong yang rusak ini, warga sudah urunan Rp 250 ribu per kepala keluarga (KK) dari 500 KK yang ada.

“Setelah ini rencana kami akan renovasi kembali. Karena ada kaitanya dengan Tumpek Landep, kami juga akan melakukan karya mamungkah,” tukasnya


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/