alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Buleleng Rawan Gempa, Sebulan Bisa Tembus 139 Kali Gempa

SINGARAJA – Masyarakat Bali Utara harus meningkatkan kewaspadaan. Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali,

pada bulan Oktober hingga November ini sudah terjadi 139 gempa dengan kekuatan bervariasi, dari 2 hingga 5 skala ritcher.

Tingginya potensi gempa itu direspons BPBD Buleleng dengan melakukan sosialisasi tanggap bencana di Seririt.

“Bila benar terjadi gempa bumi di Seririt, secara aspek manajemen kami sudah siap,” ujar Kepala BPBD Buleleng Made Subur.

Wilayah Seririt berdasar sejarah dan pengalaman memang rawan bencana. Subur meminta petugas dan juga masyarakat tidak takut dengan bencana.

Caranya yakni memperkuat kapasitas dari aspek manajemen pemerintah dan masyarakat. Bicara bencana, Subur mengatakan, Buleleng cukup rawan.

Baca Juga:  Kerap Jadi Lokasi Banjir Bandang, Gobleg Jadi Desa Siaga Bencana

Dengan topografi berbukit, segala bencana bisa terjadi, baik tanah longsor, banjir, puting beliung dan lainnya. Namun bencana yang tak dapat diprediksi adalah gempa bumi.

“Banjir kita bisa prediksi penyebabnya. Angin puting beliung bisa kita antisipasi dengan pemangkasan pohon, cuaca ekstrem dapat diketahui dari BMKG.

Erupsi Gunung Agung juga dapat diprediksi dari getaran-getaran. Tapi kalau gempa bumi tidak bisa,” ujarnya.

Subur tak bisa menampik jika Buleleng memiliki potensi gempa bumi yang cukup tinggi. Hal ini karena wilayah Buleleng memiliki tiga patahan.

Yakni patahan di Gilimanuk yang ditandai dengan air panas yang ada di Banyuwedang. Kedua, ada patahan di Seririt yang langsung menuju Gunung Batukaru.

Baca Juga:  Transmisi Lokal Melaju, BPBD Janjikan Tambahan Masker Bagi Warga

Yang ketiga ada patahan di Tejakula. Patahan inilah yang membuat wilayah Buleleng banyak terdapat air panas. Sebab, didalam patahan ini terdapat cincin api dari Jawa, Sumatra sampai ke Irian Jaya.

“Tejakula ini juga berpotensi. Bila ada patahan lain yang bergeser, akan berpotensi juga dengan patahan-patahan yang lainnya.

Sama kayak Gunung Agung pada tahun1963, di prediksi lava nya akan meledak di Gunung Agung, namun ternyata di Rinjani, begitu juga sebaliknya,” terangnya. 



SINGARAJA – Masyarakat Bali Utara harus meningkatkan kewaspadaan. Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali,

pada bulan Oktober hingga November ini sudah terjadi 139 gempa dengan kekuatan bervariasi, dari 2 hingga 5 skala ritcher.

Tingginya potensi gempa itu direspons BPBD Buleleng dengan melakukan sosialisasi tanggap bencana di Seririt.

“Bila benar terjadi gempa bumi di Seririt, secara aspek manajemen kami sudah siap,” ujar Kepala BPBD Buleleng Made Subur.

Wilayah Seririt berdasar sejarah dan pengalaman memang rawan bencana. Subur meminta petugas dan juga masyarakat tidak takut dengan bencana.

Caranya yakni memperkuat kapasitas dari aspek manajemen pemerintah dan masyarakat. Bicara bencana, Subur mengatakan, Buleleng cukup rawan.

Baca Juga:  PDIP Berjaya di Jembrana, Nasdem dan PKS Gagal Pertahankan Kursi DPRD

Dengan topografi berbukit, segala bencana bisa terjadi, baik tanah longsor, banjir, puting beliung dan lainnya. Namun bencana yang tak dapat diprediksi adalah gempa bumi.

“Banjir kita bisa prediksi penyebabnya. Angin puting beliung bisa kita antisipasi dengan pemangkasan pohon, cuaca ekstrem dapat diketahui dari BMKG.

Erupsi Gunung Agung juga dapat diprediksi dari getaran-getaran. Tapi kalau gempa bumi tidak bisa,” ujarnya.

Subur tak bisa menampik jika Buleleng memiliki potensi gempa bumi yang cukup tinggi. Hal ini karena wilayah Buleleng memiliki tiga patahan.

Yakni patahan di Gilimanuk yang ditandai dengan air panas yang ada di Banyuwedang. Kedua, ada patahan di Seririt yang langsung menuju Gunung Batukaru.

Baca Juga:  Kerap Jadi Lokasi Banjir Bandang, Gobleg Jadi Desa Siaga Bencana

Yang ketiga ada patahan di Tejakula. Patahan inilah yang membuat wilayah Buleleng banyak terdapat air panas. Sebab, didalam patahan ini terdapat cincin api dari Jawa, Sumatra sampai ke Irian Jaya.

“Tejakula ini juga berpotensi. Bila ada patahan lain yang bergeser, akan berpotensi juga dengan patahan-patahan yang lainnya.

Sama kayak Gunung Agung pada tahun1963, di prediksi lava nya akan meledak di Gunung Agung, namun ternyata di Rinjani, begitu juga sebaliknya,” terangnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/