alexametrics
24.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Gawat! Mayoritas Air di Bali Tercemar, Terparah Badung

DENPASAR – Hasil penelitian mengejutkan diungkap tim peneliti dari Politeknik Negeri Bali terkait kualitas air di Bali.

Penelitian tim yang dilakukan selama delapan bulan, mula Februari-Oktober 2018 menyebutkan jika hampir sebagian besar air di kabupaten di Bali yang menjadi obyek survey tidak ada yang memenuhi standar baku mutu sebagaimana SK Menteri Kesehatan No.  907/MENKES/SK/VII/2002.

Seperti disampaikan Ketua Tim Peneliti Politeknik Negeri Bali Ir. Suryanegara Dwipa RS., MT di Sanur, Jumat (1/2).

Dijelaskan, dari hasil penelitian tim peneliti Politekni Negeri Bali dan bekerjasama dengan Yayasan Idep Selaras Alam disebutkan bahwa ketidaksesuaian dengan baku mutu adalah dari hasil pengujian kandungan klor atau Klorida (Cl) dan kesadahan.

Daerah-daerah dengan kategori Tidak Layak untuk hasil pengujian klor terdapat di Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng dan Karangasem. 

“Artinya ditempat-tempat tertentu di kelima Kabupaten tersebut telah terjadi intrusi air laut,”tegasnya.

Sedangkan bila mengacu pada laporan KLHS Bali 2010 tidak mencantumkan Kabupaten Tabanan dan Karangasem sebagai daerah yang mengalami intrusi air laut. Artinya, hasil penelitian oleh Bali Water Protection (BWP) menunjukkan bahwa daerah intrusi telah meluas.

Sementara itu, dari hasil penelitian BWP juga terlihat bahwa Kabupaten Gianyar tidak mengalami intrusi sedangkan dalam Laporan KLHS 2010, Kabupaten Gianyar termasuk daerah yang mengalami intrusi. Dari 40 sampel yang diambil di Gianyar, hasil uji klor semuanya menunjukkan kriteria rendah.

Hasil pengujian kadar klor dalam air menunjukkan dengan jelas daerah-daerah yang telah mengalami intrusi air laut. Hanya Kabupaten Gianyar dan Klungkung yang masih menunjukkan hasil pengujian kadar klor dengan klasifikasi hasil uji atau kategori Rendah.

Artinya, di daerah Gianyar dan Klungkung kandungan klor dalam air masih dibawah nilai tengan ambang batas baku mutu air  menurut Standar Baku Mutu Air menurut SK Menteri Kesehatan No.  907/MENKES/SK/VII/2002.

Sedangkan di Kabupaten Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng dan Karangasem, telah terindikasi mengalami intrusi air laut. Dimana untuk daerah ini, hasil uji klor-nya masuk dalam kategori Tinggi dan di atas Ambang Batas.

Disinggung mengenai daerah yang paling tinggi mengalami intrusi air laut di Bali, Ketua Tim Peneliti Politeknik Negeri Bali Ir. Suryanegara Dwipa RS., MT menyebut Kabupaten Badung.

“Mungkin, banyaknya eksplorasi air tanah. Ini harus dilakukan penelitian lebih lengkap. Hasil penelitian ini bisa dijadikan dasar untuk meneliti lebih lanjut,” ungkapnya pada Jumat (15/2) di Sanur, Denpasar.

Diketahui dalam hasil penelitian tersebut menyebutkan hasil pengujian kadar klor di Kabupaten Badung menunjukkan bahwa dari 60 sampel yang diambil, terdapat 7 titik kategori Tinggi dan 7 titik dengan kategori di atas Ambang Batas. Daerah yang mengalami intrusi di Kabupaten Badung yaitu daerah Legian, Kuta, Seminyak, Nusa Dua, Jimbaran dan Tanjung Benoa. 

Meski begitu, pihaknya belum dapat menyimpulkan secara tegas. “Arahnya ke sana, tapi data terjauh yang kami punya 400 meter dari tepi pantai. Ada sampel yang sudah terindikasi intrusi. Tapi ini belum bisa dijadikan kesimpulan secara umum,” sebutnya.

Menanggapi persoalan krisis air bersih ini, aktifis Bali Water Protection, Komang Arya Ganaris memberikan solusi untuk dilakukan pengadaan prasarana sumber daya air untuk lebih diperbanyak. “Kalau kita berbicara masalah konservasi air, ya banyak hal yang bisa diperbuat. Misalnya meluaskan daerah resapan, jaga hutan dan membuat sumber-sumber imbuhan lebih banyak untuk memasukan air ke dalam tanah lebih cepat dan efektif,” ujarnya.

Terkait dengan ketersediaan air tanah di WS Bali-Penida cukup besar. Total sebesar 6.831,11 juta m3/tahun atau 216,61 m3/dt yang terdiri dari potensi Air Permukaan sebesar 6.545,96 Juta m3/tahun atau sebesar 207,57 m3/det dan Potensi Air Tanah sebesar 285,15 Juta m3/tahun atau sebesar 9,04 m3/det.

“Potensi air tanah di Bali besar, cuman karena perkembanganya jumlah penduduk tinggi akibat pariwisata yang pesat membuat kemampuan PDAM menyuplai air tak seimbang. Relatif yang paling mudah dan ekonomis ambil air tanah,”ungkap Kasi Air Tanah Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Provinsi Bali, I Ketut Ariantana.

Terlebih, lanjutnya di Bali bagian selatan, air tanah ini mudah didapatkan. Namun bahayanya, kualitas air turun dan kuantitas atau debit air turun.

“Kalau ini ada yang seenaknya mencuri lebih bahaya. Kalau yang berizin kan bayar pajak maka mereka akan berhemat,” ungkapnya.

Dalam hasil penelitian menyatakan, walaupun Bali secara umum mengalami surplus air, namun kelebihan air di musim penghujan tidak dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau.

Kelebihan air di musim penghujan hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian saja dan bukan berupa air baku yang layak untuk dikonsumsi.

Sehingga pada kenyataannya, baik di musim penghujan maupun di musim kemarau, Bali mengalami kekurangan pasokan air baku.



DENPASAR – Hasil penelitian mengejutkan diungkap tim peneliti dari Politeknik Negeri Bali terkait kualitas air di Bali.

Penelitian tim yang dilakukan selama delapan bulan, mula Februari-Oktober 2018 menyebutkan jika hampir sebagian besar air di kabupaten di Bali yang menjadi obyek survey tidak ada yang memenuhi standar baku mutu sebagaimana SK Menteri Kesehatan No.  907/MENKES/SK/VII/2002.

Seperti disampaikan Ketua Tim Peneliti Politeknik Negeri Bali Ir. Suryanegara Dwipa RS., MT di Sanur, Jumat (1/2).

Dijelaskan, dari hasil penelitian tim peneliti Politekni Negeri Bali dan bekerjasama dengan Yayasan Idep Selaras Alam disebutkan bahwa ketidaksesuaian dengan baku mutu adalah dari hasil pengujian kandungan klor atau Klorida (Cl) dan kesadahan.

Daerah-daerah dengan kategori Tidak Layak untuk hasil pengujian klor terdapat di Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng dan Karangasem. 

“Artinya ditempat-tempat tertentu di kelima Kabupaten tersebut telah terjadi intrusi air laut,”tegasnya.

Sedangkan bila mengacu pada laporan KLHS Bali 2010 tidak mencantumkan Kabupaten Tabanan dan Karangasem sebagai daerah yang mengalami intrusi air laut. Artinya, hasil penelitian oleh Bali Water Protection (BWP) menunjukkan bahwa daerah intrusi telah meluas.

Sementara itu, dari hasil penelitian BWP juga terlihat bahwa Kabupaten Gianyar tidak mengalami intrusi sedangkan dalam Laporan KLHS 2010, Kabupaten Gianyar termasuk daerah yang mengalami intrusi. Dari 40 sampel yang diambil di Gianyar, hasil uji klor semuanya menunjukkan kriteria rendah.

Hasil pengujian kadar klor dalam air menunjukkan dengan jelas daerah-daerah yang telah mengalami intrusi air laut. Hanya Kabupaten Gianyar dan Klungkung yang masih menunjukkan hasil pengujian kadar klor dengan klasifikasi hasil uji atau kategori Rendah.

Artinya, di daerah Gianyar dan Klungkung kandungan klor dalam air masih dibawah nilai tengan ambang batas baku mutu air  menurut Standar Baku Mutu Air menurut SK Menteri Kesehatan No.  907/MENKES/SK/VII/2002.

Sedangkan di Kabupaten Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng dan Karangasem, telah terindikasi mengalami intrusi air laut. Dimana untuk daerah ini, hasil uji klor-nya masuk dalam kategori Tinggi dan di atas Ambang Batas.

Disinggung mengenai daerah yang paling tinggi mengalami intrusi air laut di Bali, Ketua Tim Peneliti Politeknik Negeri Bali Ir. Suryanegara Dwipa RS., MT menyebut Kabupaten Badung.

“Mungkin, banyaknya eksplorasi air tanah. Ini harus dilakukan penelitian lebih lengkap. Hasil penelitian ini bisa dijadikan dasar untuk meneliti lebih lanjut,” ungkapnya pada Jumat (15/2) di Sanur, Denpasar.

Diketahui dalam hasil penelitian tersebut menyebutkan hasil pengujian kadar klor di Kabupaten Badung menunjukkan bahwa dari 60 sampel yang diambil, terdapat 7 titik kategori Tinggi dan 7 titik dengan kategori di atas Ambang Batas. Daerah yang mengalami intrusi di Kabupaten Badung yaitu daerah Legian, Kuta, Seminyak, Nusa Dua, Jimbaran dan Tanjung Benoa. 

Meski begitu, pihaknya belum dapat menyimpulkan secara tegas. “Arahnya ke sana, tapi data terjauh yang kami punya 400 meter dari tepi pantai. Ada sampel yang sudah terindikasi intrusi. Tapi ini belum bisa dijadikan kesimpulan secara umum,” sebutnya.

Menanggapi persoalan krisis air bersih ini, aktifis Bali Water Protection, Komang Arya Ganaris memberikan solusi untuk dilakukan pengadaan prasarana sumber daya air untuk lebih diperbanyak. “Kalau kita berbicara masalah konservasi air, ya banyak hal yang bisa diperbuat. Misalnya meluaskan daerah resapan, jaga hutan dan membuat sumber-sumber imbuhan lebih banyak untuk memasukan air ke dalam tanah lebih cepat dan efektif,” ujarnya.

Terkait dengan ketersediaan air tanah di WS Bali-Penida cukup besar. Total sebesar 6.831,11 juta m3/tahun atau 216,61 m3/dt yang terdiri dari potensi Air Permukaan sebesar 6.545,96 Juta m3/tahun atau sebesar 207,57 m3/det dan Potensi Air Tanah sebesar 285,15 Juta m3/tahun atau sebesar 9,04 m3/det.

“Potensi air tanah di Bali besar, cuman karena perkembanganya jumlah penduduk tinggi akibat pariwisata yang pesat membuat kemampuan PDAM menyuplai air tak seimbang. Relatif yang paling mudah dan ekonomis ambil air tanah,”ungkap Kasi Air Tanah Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Provinsi Bali, I Ketut Ariantana.

Terlebih, lanjutnya di Bali bagian selatan, air tanah ini mudah didapatkan. Namun bahayanya, kualitas air turun dan kuantitas atau debit air turun.

“Kalau ini ada yang seenaknya mencuri lebih bahaya. Kalau yang berizin kan bayar pajak maka mereka akan berhemat,” ungkapnya.

Dalam hasil penelitian menyatakan, walaupun Bali secara umum mengalami surplus air, namun kelebihan air di musim penghujan tidak dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau.

Kelebihan air di musim penghujan hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian saja dan bukan berupa air baku yang layak untuk dikonsumsi.

Sehingga pada kenyataannya, baik di musim penghujan maupun di musim kemarau, Bali mengalami kekurangan pasokan air baku.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/