alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Final! MDA Larang Pawai Ogoh-Ogoh setelah Sebelumnya Mengizinkan

DENPASAR – Pengarakan atau Pawai ogoh-ogoh di Bali akhirnya dilarang seiring kenaikan kasus Covid-19. Padahal, sebelumnya Majelis Desa Adat (MDA) Bali mengizinkan pembuatan dan pengarakan ogoh-ogoh.

Perkembangan kasus Covid-19 tak ada tanda penurunan. Acara serangkaian kegiatan Hari Suci Nyepi, Tahun Baru Saka 1944 nanti pengarakan ogoh-ogoh tidak dilaksanakan. Maka Surat Edaran Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Nomor:009/SE/MDAPBali/XII/2021, tertanggal 22 Desember 2021 pada ketentuan pengaturan angka 1 sudah dengan jelas menegaskan bahwa

“Pembuatan dan Pawai Ogoh-ogoh agar tetap mencermati kondisi dan situasi penularan gering tumpur agung COVID-19, dan memastikan sudah dalam kondisi yang melandai serta tidak ada kebijakan baru Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah terkait dengan pembatasan aktivitas.”  

 

Karena telah ada kebijakan baru dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah, seperti: status Bali dinaikkan dari PPKM Level 2 menjadi Level 3, berarti Pawai Ogoh-ogoh saat Pangrupukan yang berkaitan dengan rangkaian Hari Suci  Nyepi, Tahun Baru Isaka 1944 nanti, tidak dilaksanakan.   

Baca Juga:  Duh, Dana Terbatas, 12 Desa di Buleleng Tak Bisa Salurkan BLT-DD

 

Rangkaian kegiatan Malasti, Tawur Kasanga, Hari Suci Nyepi Tahun Baru Isaka 1944 dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Segara, Malasti di pantai;  bagi Desa Adat yang berdekatan dengan Danu, Malasti di danau, jika berdekatan dengan Campuhan, Malasti di campuhan dan bagi Desa Adat yang memiliki Beji dan/atau Pura Beji, Malasti di Beji

 

Bagi Desa Adat yang tidak melaksanakan Malasti dapat Malasti dengan cara Ngubeng atau Ngayat dari Pura setempat; . Untuk jumlah orangnya dibatasi jumlah peserta yang ikut dalam prosesi upacara Malasti maksimal  50 orang; 

 

MDA juga melarang  memakai/membunyikan petasan/mercon dan sejenisnya. Bagi Krama Desa Adat yang sakit atau merasa kurang sehat, agar tidak mengikuti rangkaian upacara; dan Melaksanakan Catur Brata Panyepian dengan penuh rasa sradha bhakti. 

 

Bendesa Agung menambahkan kegiatan upacara Panca Yadnya agar tetap mengutamakan keselamatan bersama, mematuhi protokol kesehatan secara ketat, serta menyesuaikan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Bersama PHDI Bali Nomor: 076/PHDIBali/VIII/2021 dengan Majelis Desa Adat Provinsi Bali Nomor:008/SE/MDA-Prov Bali/VIII/2021 tertanggal 8 Agustus 2021 tentang Pembatasan Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya Dalam Masa Gering Agung COVID-19 di Provinsi Bali (sebagaimana terlampir), sampai COVID-19 di Bali secara resmi dinyatakan telah melandai.  

Baca Juga:  Soal Pakai Endek, Bupati Suwirta: Bukan Kebijakan Ajum-ajuman!

 

“Menegakkan kembali secara tegas Pararem Desa Adat tentang Pengaturan Pencegahan dan Pengendalian Gering Agung COVID-19 di Wewidangan soangsoang Desa Adat.  Mengaktifkan kembali Satgas Gotong Royong Penanggulangan COVID-19 Berbasis Desa Adat masing-masing, dengan dapat menggunakan sumber pendanaan dari: Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (SILPA) Dana Desa Adat dari APBD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2021; Pendapatan Asli Desa Adat; dan/atau  dan Sumbangan pihak lain yang sah dan tidak mengikat,” jelas Bendesa Agung MDA Bali, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet dalam surat bernomor 104/MDA-Prov Bali/II/2022.



DENPASAR – Pengarakan atau Pawai ogoh-ogoh di Bali akhirnya dilarang seiring kenaikan kasus Covid-19. Padahal, sebelumnya Majelis Desa Adat (MDA) Bali mengizinkan pembuatan dan pengarakan ogoh-ogoh.

Perkembangan kasus Covid-19 tak ada tanda penurunan. Acara serangkaian kegiatan Hari Suci Nyepi, Tahun Baru Saka 1944 nanti pengarakan ogoh-ogoh tidak dilaksanakan. Maka Surat Edaran Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Nomor:009/SE/MDAPBali/XII/2021, tertanggal 22 Desember 2021 pada ketentuan pengaturan angka 1 sudah dengan jelas menegaskan bahwa

“Pembuatan dan Pawai Ogoh-ogoh agar tetap mencermati kondisi dan situasi penularan gering tumpur agung COVID-19, dan memastikan sudah dalam kondisi yang melandai serta tidak ada kebijakan baru Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah terkait dengan pembatasan aktivitas.”  

 

Karena telah ada kebijakan baru dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah, seperti: status Bali dinaikkan dari PPKM Level 2 menjadi Level 3, berarti Pawai Ogoh-ogoh saat Pangrupukan yang berkaitan dengan rangkaian Hari Suci  Nyepi, Tahun Baru Isaka 1944 nanti, tidak dilaksanakan.   

Baca Juga:  Gubernur Koster Kembali Rubah Persyaratan Masuk Bali via Bandara

 

Rangkaian kegiatan Malasti, Tawur Kasanga, Hari Suci Nyepi Tahun Baru Isaka 1944 dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Bagi Desa Adat yang Wewidangan-nya berdekatan dengan Segara, Malasti di pantai;  bagi Desa Adat yang berdekatan dengan Danu, Malasti di danau, jika berdekatan dengan Campuhan, Malasti di campuhan dan bagi Desa Adat yang memiliki Beji dan/atau Pura Beji, Malasti di Beji

 

Bagi Desa Adat yang tidak melaksanakan Malasti dapat Malasti dengan cara Ngubeng atau Ngayat dari Pura setempat; . Untuk jumlah orangnya dibatasi jumlah peserta yang ikut dalam prosesi upacara Malasti maksimal  50 orang; 

 

MDA juga melarang  memakai/membunyikan petasan/mercon dan sejenisnya. Bagi Krama Desa Adat yang sakit atau merasa kurang sehat, agar tidak mengikuti rangkaian upacara; dan Melaksanakan Catur Brata Panyepian dengan penuh rasa sradha bhakti. 

 

Bendesa Agung menambahkan kegiatan upacara Panca Yadnya agar tetap mengutamakan keselamatan bersama, mematuhi protokol kesehatan secara ketat, serta menyesuaikan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Bersama PHDI Bali Nomor: 076/PHDIBali/VIII/2021 dengan Majelis Desa Adat Provinsi Bali Nomor:008/SE/MDA-Prov Bali/VIII/2021 tertanggal 8 Agustus 2021 tentang Pembatasan Pelaksanaan Upacara Panca Yadnya Dalam Masa Gering Agung COVID-19 di Provinsi Bali (sebagaimana terlampir), sampai COVID-19 di Bali secara resmi dinyatakan telah melandai.  

Baca Juga:  Sebulan Jebol, Trotoar Dekat Rumah Bupati Tabanan Tak Diperbaiki

 

“Menegakkan kembali secara tegas Pararem Desa Adat tentang Pengaturan Pencegahan dan Pengendalian Gering Agung COVID-19 di Wewidangan soangsoang Desa Adat.  Mengaktifkan kembali Satgas Gotong Royong Penanggulangan COVID-19 Berbasis Desa Adat masing-masing, dengan dapat menggunakan sumber pendanaan dari: Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (SILPA) Dana Desa Adat dari APBD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2021; Pendapatan Asli Desa Adat; dan/atau  dan Sumbangan pihak lain yang sah dan tidak mengikat,” jelas Bendesa Agung MDA Bali, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet dalam surat bernomor 104/MDA-Prov Bali/II/2022.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/