alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Telanjur Buat Ogoh-Ogoh Tapi Tak Boleh Pawai, Pemuda Banjar pun Kecewa

Pemuda banjaar di Desa Adat Keliki sudah telanjur membuat ogoh-ogoh. Namun, di tengah jalan, muncul larangan pawai ogoh-ogoh. Para pemuda banjar yang tergabung dalam sekaha teruna teruni (STT) pun kecewa.

IB INDRA PRASETIA, Gianyar 

 

SEKAHA Teruna Teruni (STT) Banjar Salak telah membuat ogoh-ogoh hampir 25 persen jadi. Menurut Ketua STT, I Komang Nuriawan, pemuda sudah membeli besi rangka dan sudah dibawa ke tukang las. 

“Tapi dalam rapat pengurus STT bersama perangkat desa tidak di izinkan membuat Ogoh-ogoh, karena ada surat edaran dari gubernur,” ujarnya, Senin (14/2).

Karena sudah ada keputusan, akhirnya pembuatan ogoh-ogoh tidak dilanjutkan lagi. “Pemuda sudah sepakat tidak melanjutkan membuat ogoh-ogoh, walaupun kami dari 4 STT sedikit kecewa,” ujarnya.

Baca Juga:  Delapan Desa Adat di Jembrana Sepakat Meniadakan Ogoh-ogoh

Sementara itu, sebagai obat pelipur lara, pihak desa adat mengganti dana Ogoh-ogoh dengan memberikan insentif. Dana yang diberikan mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Bendahara Desa Adat Keliki, I  Made Ariasa menjelaskan bahwa pihaknya memberikan insentif bagi Sekaa Teruna yang yang sudah membuat ogoh-ogoh namun tidak bisa diarak saat pengerupukan nanti.

“Bagi yang ogoh-ogohnya selesai 50 persen diberikan pengganti Rp 2 juta. Dan bagi yang baru jadi rangkanya saja diberikan Rp 1,5 Juta,” ujarnya.

Adapun Sekaa Teruna yang mendapatkan insentif Rp 1,5 juta sebanyak 3 Banjar. Yakni Banjar Triwangsa, Banjar Pacung, dan Banjar Salak. Sedangkan yang mendapatkan insentif Rp 2 juta, adalah Banjar Keliki karena ogoh-ogohnya sudah selesai 50 persen.

Baca Juga:  Pelaku Penganiayaan di Malam Pengerupukan Diwejang Hakim

Pemberian insentif dilakukan karena dalam pembuatan ogoh-ogoh tersebut para pemuda sudah menalangi dana yang kebanyakan bersumber dari kas yang dimiliki Sekaa Teruna masing-masing.

“Jadi dana yang mereka gunakan itu ada dari kas sekaa teruna dan pribadi, maka dari prajuru sepakat mengganti dana dengan insentif,” ungkapnya.

Untuk dana insentif itu, diambil dari dana adat. “Dana ini diambil dari dana pemasukan Desa Adat,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pawai ditiadakan karena kasus Covid-19 melonjak. Para pemuda sudah sepakat untuk meniadakan pawai ogoh-ogoh. Sehingga pembuatan ogoh-ogoh pun tidak dilanjutkan.

“Pemuda sudah sepakat mengikuti instruksi pemerintah,” pungkasnya. 



Pemuda banjaar di Desa Adat Keliki sudah telanjur membuat ogoh-ogoh. Namun, di tengah jalan, muncul larangan pawai ogoh-ogoh. Para pemuda banjar yang tergabung dalam sekaha teruna teruni (STT) pun kecewa.

IB INDRA PRASETIA, Gianyar 

 

SEKAHA Teruna Teruni (STT) Banjar Salak telah membuat ogoh-ogoh hampir 25 persen jadi. Menurut Ketua STT, I Komang Nuriawan, pemuda sudah membeli besi rangka dan sudah dibawa ke tukang las. 

“Tapi dalam rapat pengurus STT bersama perangkat desa tidak di izinkan membuat Ogoh-ogoh, karena ada surat edaran dari gubernur,” ujarnya, Senin (14/2).

Karena sudah ada keputusan, akhirnya pembuatan ogoh-ogoh tidak dilanjutkan lagi. “Pemuda sudah sepakat tidak melanjutkan membuat ogoh-ogoh, walaupun kami dari 4 STT sedikit kecewa,” ujarnya.

Baca Juga:  Sekaa Teruna & Yowana di Badung Kompak Tak Bikin Ogoh-ogoh

Sementara itu, sebagai obat pelipur lara, pihak desa adat mengganti dana Ogoh-ogoh dengan memberikan insentif. Dana yang diberikan mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Bendahara Desa Adat Keliki, I  Made Ariasa menjelaskan bahwa pihaknya memberikan insentif bagi Sekaa Teruna yang yang sudah membuat ogoh-ogoh namun tidak bisa diarak saat pengerupukan nanti.

“Bagi yang ogoh-ogohnya selesai 50 persen diberikan pengganti Rp 2 juta. Dan bagi yang baru jadi rangkanya saja diberikan Rp 1,5 Juta,” ujarnya.

Adapun Sekaa Teruna yang mendapatkan insentif Rp 1,5 juta sebanyak 3 Banjar. Yakni Banjar Triwangsa, Banjar Pacung, dan Banjar Salak. Sedangkan yang mendapatkan insentif Rp 2 juta, adalah Banjar Keliki karena ogoh-ogohnya sudah selesai 50 persen.

Baca Juga:  Gubernur Larang Total Pelaksanaan Pawai Ogoh-ogoh di Seluruh Bali

Pemberian insentif dilakukan karena dalam pembuatan ogoh-ogoh tersebut para pemuda sudah menalangi dana yang kebanyakan bersumber dari kas yang dimiliki Sekaa Teruna masing-masing.

“Jadi dana yang mereka gunakan itu ada dari kas sekaa teruna dan pribadi, maka dari prajuru sepakat mengganti dana dengan insentif,” ungkapnya.

Untuk dana insentif itu, diambil dari dana adat. “Dana ini diambil dari dana pemasukan Desa Adat,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pawai ditiadakan karena kasus Covid-19 melonjak. Para pemuda sudah sepakat untuk meniadakan pawai ogoh-ogoh. Sehingga pembuatan ogoh-ogoh pun tidak dilanjutkan.

“Pemuda sudah sepakat mengikuti instruksi pemerintah,” pungkasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/