alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Kasus DB Melonjak,Dinkes Sebut Fogging Tak Efektif Basmi Sarang Nyamuk

SINGARAJA – Buleleng tak hanya berjuang menuntaskan penularan pandemi corona virus, tapi juga bekerja keras menurunkan angka penderita Demam Berdarah Dangue (DBD) yang naik tajam.

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng hingga April 2020, tercatat ada sebanyak 1.798 kasus penderita DBD di Buleleng. Dengan dua orang warganya meninggal dunia.

Dari 9 kecamatan yang ada peningkatan kasus DBD di Buleleng sejak awal Januari 2020 hingga 13 April 2020 naik begitu signifikan.

Bulan Januari 2020 ada sebanyak 397 kasus penderita DBD, bulan Februari naik menjadi 472 kasus, lalu di bulan Maret ada 723 kasus, dan hingga 13 April 2020 ada sebanyak 187 kasus.

Berdasar data Dinkes Buleleng, zona merah atau wilayah dengan jumlah penderita DBD terbanyak ada di Kecamatan Buleleng dengan total 465 kasus penderita DBB.

Baca Juga:  Prosesi Pelebon Istri Raja Ubud Libatkan 14 Banjar, Ini Porsinya…

Kemudian disusul di Kecamatan Tejakula sebanyak 285 kasus DBD, Kecamatan Banjar sebanyak 224 kasus DBD, dan Kecamatan Sukasada sebanyak 189 kasus DBD.

Kecamatan Seririt ada sebanyak 183 kasus DBD, Kecamatan Gerokgak sebanyak 146 kasus DBD, Kecamatan Busungbiu sebanyak 114 kasus DBD, Kecamatan Kubutambahan sebanyak 97 kasus DBD, dan terakhir Kecamatan Sawan sebanyak 95 kasus DBD.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Buleleng I Putu Indrawan mengatakan, untuk tahun ini kasus DBD di Buleleng memang terbilang besar.

Penyebabnya jumlah penderita DBD selain karena faktor cuaca musim hujan, kesadaran masyarakat  menerapkan pola sehat hidup bersih (PSHB) masih kurang.

“Persebaran penderita DBD terbanyak berada di wilayah perkotaan. Terutama di Singaraja,” ucap I Putu Indrawan.

Baca Juga:  Karantina Usai, PMI Tak Kunjung Rapid Test Protes, DPRD Sidak Dinkes

Menurutnya, kendati banyak dilakukan upaya pencegahan DBD dengan fogging masal, tidak efektif untuk membasmi sarang nyamuk sebagai sumber DBD. 

Indrawan menilai fogging ini tidak sepenuhnya akan bisa menyelesaikan masalah, karena nyamuk sudah kebal dengan fogging.

Jadi perlu kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukan 3M (Menguras, Mengubur dan Menutup),

serta menanam tanaman pengusir nyamuk seperti sereh, bunga lavender dan pohon liligundi di pekarangan rumah.

“Kami berharap masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan bersih. Apalagi DBD bukan penyakit yang sifatnya menular. Hanya penyakit musiman yang terjadi setiap tahunnya.

Kami minta KK wajib memantau jentik nyamuk di rumahnya sendiri, dan mengeliminasi agar tidak berkembang biak. Ini harus dilakukan dengan kegiatan pencegahan di lingkungan,” pungkasnya. 



SINGARAJA – Buleleng tak hanya berjuang menuntaskan penularan pandemi corona virus, tapi juga bekerja keras menurunkan angka penderita Demam Berdarah Dangue (DBD) yang naik tajam.

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng hingga April 2020, tercatat ada sebanyak 1.798 kasus penderita DBD di Buleleng. Dengan dua orang warganya meninggal dunia.

Dari 9 kecamatan yang ada peningkatan kasus DBD di Buleleng sejak awal Januari 2020 hingga 13 April 2020 naik begitu signifikan.

Bulan Januari 2020 ada sebanyak 397 kasus penderita DBD, bulan Februari naik menjadi 472 kasus, lalu di bulan Maret ada 723 kasus, dan hingga 13 April 2020 ada sebanyak 187 kasus.

Berdasar data Dinkes Buleleng, zona merah atau wilayah dengan jumlah penderita DBD terbanyak ada di Kecamatan Buleleng dengan total 465 kasus penderita DBB.

Baca Juga:  Ccckkkk…KP3 Gilimanuk Panen Tangkapan Barang Ilegal

Kemudian disusul di Kecamatan Tejakula sebanyak 285 kasus DBD, Kecamatan Banjar sebanyak 224 kasus DBD, dan Kecamatan Sukasada sebanyak 189 kasus DBD.

Kecamatan Seririt ada sebanyak 183 kasus DBD, Kecamatan Gerokgak sebanyak 146 kasus DBD, Kecamatan Busungbiu sebanyak 114 kasus DBD, Kecamatan Kubutambahan sebanyak 97 kasus DBD, dan terakhir Kecamatan Sawan sebanyak 95 kasus DBD.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Buleleng I Putu Indrawan mengatakan, untuk tahun ini kasus DBD di Buleleng memang terbilang besar.

Penyebabnya jumlah penderita DBD selain karena faktor cuaca musim hujan, kesadaran masyarakat  menerapkan pola sehat hidup bersih (PSHB) masih kurang.

“Persebaran penderita DBD terbanyak berada di wilayah perkotaan. Terutama di Singaraja,” ucap I Putu Indrawan.

Baca Juga:  Tanggul Jebol, Rumah Warga Terancam Diterjang Lahar Hujan

Menurutnya, kendati banyak dilakukan upaya pencegahan DBD dengan fogging masal, tidak efektif untuk membasmi sarang nyamuk sebagai sumber DBD. 

Indrawan menilai fogging ini tidak sepenuhnya akan bisa menyelesaikan masalah, karena nyamuk sudah kebal dengan fogging.

Jadi perlu kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukan 3M (Menguras, Mengubur dan Menutup),

serta menanam tanaman pengusir nyamuk seperti sereh, bunga lavender dan pohon liligundi di pekarangan rumah.

“Kami berharap masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan bersih. Apalagi DBD bukan penyakit yang sifatnya menular. Hanya penyakit musiman yang terjadi setiap tahunnya.

Kami minta KK wajib memantau jentik nyamuk di rumahnya sendiri, dan mengeliminasi agar tidak berkembang biak. Ini harus dilakukan dengan kegiatan pencegahan di lingkungan,” pungkasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/