alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Napi Budi Daya Ikan Nila dengan Teknologi Aerator, Hasil pun Melimpah

Hidup di balik jeruji besi sudah pasti bosan dan terisolasi. Terkurung dan terbatas gerak aktivitas dari kehidupan luar. Apalagi, di Lapas Kelas IIB Tabanan yang sudah overload, tentu tambah sumpek saja. Pihak lapas pun harus memutar otak agar warga binaan (WB) terus dapat produktif dan tidak stres.

___ 

JULIADI, Tabanan

___

 

SELAMA ini di dalam Lapas Tabanan sudah banyak dilakukan revitalisasi pemasyarakatan. Mulai dari bagaimana warga binaan diberikan pelatihan tukang, servis AC dan hingga bertani.

 

Sehingga saat warga binaan keluar dari lapas mereka langsung memperoleh pekerjaan dari keterampilan yang mereka ikuti selama di dalam lapas.

 

Nah saat ini warga binaan di dalam Lapas Tabanan sedang dilatih budidaya ikan nila dengan teknologi aerator.

Baca Juga:  Kembang-Sugiasa Kalah, Pilkada Jembrana Tanpa Gugatan ke MK

 

Kalapas Kelas IIB Tabanan Raden Budiman Priatna Kusumah mengaku warga binaannya mengembangkan budidaya ikan nila dengan teknologi aerator sejak pandemi 2020 lalu. Ide awal melakukan budidaya ikan, karena selama ini Lapas Tabanan belum memiliki produk unggulan.

 

“Memang ada banyak karya di dalam Lapas, tetapi selama ini belum dapat menghasilkan putaran ekonomi. Baik dari sisi hasil, pemasaran yang luas dan dapat dikembangkan dalam jumlah besar. Untuk itu coba kami kembangkan budidaya ikan nila,” kata Raden Budiman, Rabu (14/4).

 

Beruntung niat untuk mengembangkan budidaya ikan nila diikuti dengan ketersedian lahan. Kebetulan ada lahan yang pihaknya kerjasama dengan pihak ketiga. Lapas diberikan keleluasan untuk merawat dan mengembangkan lahan yang dulu tidak produktif menjadi lebih produktif.

Baca Juga:  Penertiban Usaha Nonesensial di Tabanan Mulai Menyasar Perdesaan

 

Di lahan 10 are berlokasi di Penebel dengan air yang melimpah. Kiranya sangat mendukung pengembangan budidaya ikan nila dengan teknologi aerator.

 

“Sehingga kami dan warga binaan membuat 15 buah kolam ikan nila. Dengan luasan satu kolam ikan 4×4 meter,” ungkapnya.

 

Menariknya dalam budidaya ikan warga binaan mengembangkan dengan teknologi erator. Teknologi aerator ini menghasilkan lebih banyak gelembung oksigen. Kaya oksigen ini sangat dibutuhkan oleh semua ikan.

 

“Maka mulanya dalam satu kolam hanya dapat memelihara 50 ekor ikan nila. Tapi kami mampu lakukan padat tebar benih menjadi 100 bibit ikan nila,” katanya. (bersambung)

Hidup di balik jeruji besi sudah pasti bosan dan terisolasi. Terkurung dan terbatas gerak aktivitas dari kehidupan luar. Apalagi, di Lapas Kelas IIB Tabanan yang sudah overload, tentu tambah sumpek saja. Pihak lapas pun harus memutar otak agar warga binaan (WB) terus dapat produktif dan tidak stres.

___ 

JULIADI, Tabanan

___

 

SELAMA ini di dalam Lapas Tabanan sudah banyak dilakukan revitalisasi pemasyarakatan. Mulai dari bagaimana warga binaan diberikan pelatihan tukang, servis AC dan hingga bertani.

 

Sehingga saat warga binaan keluar dari lapas mereka langsung memperoleh pekerjaan dari keterampilan yang mereka ikuti selama di dalam lapas.

 

Nah saat ini warga binaan di dalam Lapas Tabanan sedang dilatih budidaya ikan nila dengan teknologi aerator.

Baca Juga:  Asosiasi Hotel di Ubud Desak Open Border Internasional Tak Ditunda

 

Kalapas Kelas IIB Tabanan Raden Budiman Priatna Kusumah mengaku warga binaannya mengembangkan budidaya ikan nila dengan teknologi aerator sejak pandemi 2020 lalu. Ide awal melakukan budidaya ikan, karena selama ini Lapas Tabanan belum memiliki produk unggulan.

 

“Memang ada banyak karya di dalam Lapas, tetapi selama ini belum dapat menghasilkan putaran ekonomi. Baik dari sisi hasil, pemasaran yang luas dan dapat dikembangkan dalam jumlah besar. Untuk itu coba kami kembangkan budidaya ikan nila,” kata Raden Budiman, Rabu (14/4).

 

Beruntung niat untuk mengembangkan budidaya ikan nila diikuti dengan ketersedian lahan. Kebetulan ada lahan yang pihaknya kerjasama dengan pihak ketiga. Lapas diberikan keleluasan untuk merawat dan mengembangkan lahan yang dulu tidak produktif menjadi lebih produktif.

Baca Juga:  TRAGIS! Tabrak Buah Nangka, Terpeleset, Pelajar Tewas Mengenaskan

 

Di lahan 10 are berlokasi di Penebel dengan air yang melimpah. Kiranya sangat mendukung pengembangan budidaya ikan nila dengan teknologi aerator.

 

“Sehingga kami dan warga binaan membuat 15 buah kolam ikan nila. Dengan luasan satu kolam ikan 4×4 meter,” ungkapnya.

 

Menariknya dalam budidaya ikan warga binaan mengembangkan dengan teknologi erator. Teknologi aerator ini menghasilkan lebih banyak gelembung oksigen. Kaya oksigen ini sangat dibutuhkan oleh semua ikan.

 

“Maka mulanya dalam satu kolam hanya dapat memelihara 50 ekor ikan nila. Tapi kami mampu lakukan padat tebar benih menjadi 100 bibit ikan nila,” katanya. (bersambung)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/