alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Getol Identifikasi Lontar di Masyarakat, Ini Langkah Disbud Buleleng

SINGARAJA – Dinas Kebudayaan Buleleng menggenjot proses identifikasi lontar yang ada di masyarakat.

Uniknya dalam proses identifikasi itu, Disbud menemukan beberapa lontar yang tak ada dalam koleksi Museum Lontar Gedong Kirtya.

Identifikasi lontar itu telah dilakukan sejak awal Mei lalu. Sejauh ini identifikasi lontar telah dilakukan di sejumlah desa.

Di antaranya Desa Kedis, Desa Banjarasem, Desa Banjar Tegeha, Desa Bungkulan, Desa Sulanyah, dan Desa Panji.

Tak kurang dari 40 buah lontar telah berhasil diidentifikasi. Sebagian besar diantaranya sama dengan lontar-lontar yang ada di Museum Lontar Gedong Kirtya. Lontar-lontar itu hanya dilakukan pencatatan. Meliputi identitas pemilik lontar, judul, kata kunci yang ada, dalam lontar, jumlah halaman, hingga jumlah baris juga turut dicatat.

Selain itu tim juga menemukan beberapa lontar yang tak tercantum dalam koleksi Gedong Kirtya. Yakni Lontar Usada Cetik dan Astaka Mantra yang ditemukan di Desa Kedis,

Baca Juga:  Duh, Pantai Gilimanuk Diserbu Sampah Kiriman, Jorok dan Bau

Lontar Kawisesan yang ditemukan di Desa Banjarasem, Lontar Mantra Pegambuhan dan Pengejukan Leak yang ditemukan di Desa Bungkulan,

Lontar Sastra Sanga yang ditemukan di Desa Sulanyah, serta Lontar Rarajahan dan Usada Kohkohan yang ditemukan di Desa Banjar Tegeha.

Lontar Astaka Mantra misalnya. Lontar itu berisi panduan mantra puja kepada Ida Sang Hyang Widhi.

“Isinya soal aturan memanjatkan puja dan mantra. Kapan harus dipanjatkan, sarananya apa saja, fungsi mantra itu untuk apa.

Secara garis besar, isi lontarnya seperti itu,” ungkap Kabid Cagar Budaya pada Dinas Kebudayaan Buleleng, Gede Angga Prasaja.

Menurut Angga, lontar-lontar yang tak ditemukan di Gedong Kirtya, telah dilakukan proses alih aksara. Sehingga Disbud memiliki salinan terhadap lontar tersebut. Meski salinan yang didapat sudah berupa aksara latin.

Baca Juga:  Hutan di Bukit Sanghyang yang Dibabat untuk Bangun Pura Capai 1 Ha

“Rencananya memang akan kami lakukan proses penyalinan. Supaya bisa menambah koleksi lontar yang ada di Kirtya. Ini masih kami upayakan, karena butuh tenaga ahli untuk proses menyalin lontar itu,” katanya.

Dalam jangka panjang, lontar-lontar di Gedong Kirtya juga akan dilakukan digitalisasi. Sehingga dapat diakses publik lewat perpustakaan digital.

Proses digitalisasi itu akan dilakukan secara bertahap mulai 2022 mendatang. Rencananya identifikasi lontar akan dilanjutkan hingga akhir Mei mendatang.

Identifikasi lontar akan menyasar sejumlah kawasan lain. Diantaranya di Desa Dencarik, Desa Banjar, Desa Bebetin, serta di Puri Kanginan. 


SINGARAJA – Dinas Kebudayaan Buleleng menggenjot proses identifikasi lontar yang ada di masyarakat.

Uniknya dalam proses identifikasi itu, Disbud menemukan beberapa lontar yang tak ada dalam koleksi Museum Lontar Gedong Kirtya.

Identifikasi lontar itu telah dilakukan sejak awal Mei lalu. Sejauh ini identifikasi lontar telah dilakukan di sejumlah desa.

Di antaranya Desa Kedis, Desa Banjarasem, Desa Banjar Tegeha, Desa Bungkulan, Desa Sulanyah, dan Desa Panji.

Tak kurang dari 40 buah lontar telah berhasil diidentifikasi. Sebagian besar diantaranya sama dengan lontar-lontar yang ada di Museum Lontar Gedong Kirtya. Lontar-lontar itu hanya dilakukan pencatatan. Meliputi identitas pemilik lontar, judul, kata kunci yang ada, dalam lontar, jumlah halaman, hingga jumlah baris juga turut dicatat.

Selain itu tim juga menemukan beberapa lontar yang tak tercantum dalam koleksi Gedong Kirtya. Yakni Lontar Usada Cetik dan Astaka Mantra yang ditemukan di Desa Kedis,

Baca Juga:  Mediasi Temui Titik Temu, Puri Gede Akhirnya Buka Blokade Pintu Disbud

Lontar Kawisesan yang ditemukan di Desa Banjarasem, Lontar Mantra Pegambuhan dan Pengejukan Leak yang ditemukan di Desa Bungkulan,

Lontar Sastra Sanga yang ditemukan di Desa Sulanyah, serta Lontar Rarajahan dan Usada Kohkohan yang ditemukan di Desa Banjar Tegeha.

Lontar Astaka Mantra misalnya. Lontar itu berisi panduan mantra puja kepada Ida Sang Hyang Widhi.

“Isinya soal aturan memanjatkan puja dan mantra. Kapan harus dipanjatkan, sarananya apa saja, fungsi mantra itu untuk apa.

Secara garis besar, isi lontarnya seperti itu,” ungkap Kabid Cagar Budaya pada Dinas Kebudayaan Buleleng, Gede Angga Prasaja.

Menurut Angga, lontar-lontar yang tak ditemukan di Gedong Kirtya, telah dilakukan proses alih aksara. Sehingga Disbud memiliki salinan terhadap lontar tersebut. Meski salinan yang didapat sudah berupa aksara latin.

Baca Juga:  Asal Usul Suku Kei Sama dengan Pedawa, Ini Hikmah yang Bisa Dipetik…

“Rencananya memang akan kami lakukan proses penyalinan. Supaya bisa menambah koleksi lontar yang ada di Kirtya. Ini masih kami upayakan, karena butuh tenaga ahli untuk proses menyalin lontar itu,” katanya.

Dalam jangka panjang, lontar-lontar di Gedong Kirtya juga akan dilakukan digitalisasi. Sehingga dapat diakses publik lewat perpustakaan digital.

Proses digitalisasi itu akan dilakukan secara bertahap mulai 2022 mendatang. Rencananya identifikasi lontar akan dilanjutkan hingga akhir Mei mendatang.

Identifikasi lontar akan menyasar sejumlah kawasan lain. Diantaranya di Desa Dencarik, Desa Banjar, Desa Bebetin, serta di Puri Kanginan. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/