alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Jenazah Covid Menumpuk karena Cari Hari Baik, PHDI Terbitkan Surat

DENPASAR – Angka kematian positif Covid 19 di Bali begitu tinggi. Bahkan  rumah sakit jumlah jenazah bahkan sudah melampaui kapasitas penyimpanan jenazah yang dimiliki rumah sakit.

 

Salah satu penyebab jumlah jenazah mengalami penumpukan dan bisa melampui kapasitas penyimpanan di rumah sakit tersebut karena para keluarga sang palatra (yang meninggal) untuk sementara waktu menitipkan jenazah keluarganya di rumah sakit, guna mencari hari baik (dewasa ayu) untuk melaksanakan upacara pangabenan.

 

Untuk itu, mengamati masih tingginya peningkatan kasus konfirmasi baru COVID- 19 serta jumlah korban meninggal yang makin meningkat di tengah upaya pemerintah dan masyarakat untuk mencegah penularannya, PHDI Provinsi Bali melihat situasi yang ada benar-benar sudah termasuk dalam kategori darurat.

 

PHDI pun mengambil dasar melalui  sastra-sastra Hindu di Bali tentang penanganan wabah/pandemi, seperti Lontar Anda Kacacar, Usada Gede, Usada Ila, Usada Cukil Daki, serta lontar jenis widhi sastra yang terkait penanganan wabah, di antaranya Widhi Sastra Swamandala dan Widhi Sastra Roga Sanghara Gumi, yang meniadakan pelaksanaan upacara ngaben dalam situasi wabah, dengan protokol penanggulangan yang berdasarkan kearifan leluhur Bali.

 

Pun menimbang dari sejumlah kebijakan pemerintah serta hasil rapat yang dilakukan,  maka Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali dengan ini menyampaikan sejumlah hal penting.

Baca Juga:  Kasus Covid-19 Cenderung Flat, Angka Sembuh di Bali Capai 71,50 Persen

 

Pertama, Gubernur Bali dimohon agar memberikan instruksi kepada pihak Rumah Sakit yang beroperasi di wilayah Provinsi Bali supaya dalam menerima penitipan jenazah Krama Bali Umat Hindu dibatasi paling lama 2 (dua) hari, guna mencegah adanya over-kapasitas penitipan jenazah di rumah sakit.

 

Kedua, MDA Provinsi Bali dimohon agar melakukan hal-hal yang dipandang patut dan perlu untuk menindaklanjuti protokol pelaksanaan penanganan jenazah sang palatra pada masa pandemi COVID-19 ini.

 

Ketiga, Ketua PHDI Kabupaten/Kota/Kecamatan/Desa se-Bali agar iku menyosialisasikan perihal ini kepada semua pihak.

 

Keempat, krama umat Hindu yang memiliki keluarga meninggal dunia: bilamana meninggal karena dinyatakan positif COVID-19 agar mengikhlaskan penanganan penguburan (pamendeman) atau kremasi kepada petugas yang disiapkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah, dengan pemberitahuan kepada pihak keluarga sang palatra dan didampingi keluarga sang palatra;

 

Dan bilamana anggota keluarga meninggal bukan karena COVID-19 supaya tidak dilaksanakan pangabenan sang palatra beserta segenap rangkaian upacara lain yang menyertaianya dalam situasi pandemi COVID-19,

 

dan untuk sementara agar cukup dilaksanakan makingsan di Geni atau makingsan di Pertiwi (mendem) dengan cara nyilib (tanpa suaran kulkul serta nedunang Krama Adat) langsung di setra Desa Adat masing-masing atau di krematorium yang memungkinkan, dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan yang ketat dan penuh disiplin.

Baca Juga:  Angkasa Pura Akui Belum Ada Sinyal Gelombang Eksodus WNA Via Bali

 

Untuk para Ida Sulinggih serta Pinandita/Pamangku/Jero Gede atau sebutan lain mohon agar menyarankan kepada Krama Bali umat Hindu untuk mengutamakan menunda pelaksanaan upacara yang memungkinkan/bisa ditunda selama Bali dalam kondisi pandemi COVID-19 sampai pandemi COVID-19 ini dinyatakan melandai secara resmi oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah;

 

dan apabila upacara dimaksud tidak memungkinkan untuk ditunda pelaksanaannya maka Ida Sulinggih serta Pinandita/Pamangku/Jero Gede atau sebutan lain dimohon agar memberi arahan dan pembinaan kepada umat Hindu supaya dalam masa pandemi COVID-19 ini diupayakan pelaksanaan upacara yadnya paling alit (Nistaning Kanista), dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan yang ketat dan penuh disiplin.

 

“Bahwa semua langkah, arahan, dan imbauan dari yang berwenang seyogyanya dipahami ditujukan untuk mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan umat manusia serta kelestarian alam lingkungan dan Krama, sesuai dengan filsafat Tri Hita Karana,” tulis Ketua PHDI Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si dan sekretaris PHDI Bali, Ir. Putu Wirata Dwikora, SH dalam surat edaran yang diterima radarbali.id pada Minggu (15/8/2021).

- Advertisement -
- Advertisement -

DENPASAR – Angka kematian positif Covid 19 di Bali begitu tinggi. Bahkan  rumah sakit jumlah jenazah bahkan sudah melampaui kapasitas penyimpanan jenazah yang dimiliki rumah sakit.

 

Salah satu penyebab jumlah jenazah mengalami penumpukan dan bisa melampui kapasitas penyimpanan di rumah sakit tersebut karena para keluarga sang palatra (yang meninggal) untuk sementara waktu menitipkan jenazah keluarganya di rumah sakit, guna mencari hari baik (dewasa ayu) untuk melaksanakan upacara pangabenan.


 

Untuk itu, mengamati masih tingginya peningkatan kasus konfirmasi baru COVID- 19 serta jumlah korban meninggal yang makin meningkat di tengah upaya pemerintah dan masyarakat untuk mencegah penularannya, PHDI Provinsi Bali melihat situasi yang ada benar-benar sudah termasuk dalam kategori darurat.

 

PHDI pun mengambil dasar melalui  sastra-sastra Hindu di Bali tentang penanganan wabah/pandemi, seperti Lontar Anda Kacacar, Usada Gede, Usada Ila, Usada Cukil Daki, serta lontar jenis widhi sastra yang terkait penanganan wabah, di antaranya Widhi Sastra Swamandala dan Widhi Sastra Roga Sanghara Gumi, yang meniadakan pelaksanaan upacara ngaben dalam situasi wabah, dengan protokol penanggulangan yang berdasarkan kearifan leluhur Bali.

 

Pun menimbang dari sejumlah kebijakan pemerintah serta hasil rapat yang dilakukan,  maka Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali dengan ini menyampaikan sejumlah hal penting.

Baca Juga:  Duh, Bertahun-Tahun Putus, Jembatan Bungkulan Tak Kunjung Diperbaiki

 

Pertama, Gubernur Bali dimohon agar memberikan instruksi kepada pihak Rumah Sakit yang beroperasi di wilayah Provinsi Bali supaya dalam menerima penitipan jenazah Krama Bali Umat Hindu dibatasi paling lama 2 (dua) hari, guna mencegah adanya over-kapasitas penitipan jenazah di rumah sakit.

 

Kedua, MDA Provinsi Bali dimohon agar melakukan hal-hal yang dipandang patut dan perlu untuk menindaklanjuti protokol pelaksanaan penanganan jenazah sang palatra pada masa pandemi COVID-19 ini.

 

Ketiga, Ketua PHDI Kabupaten/Kota/Kecamatan/Desa se-Bali agar iku menyosialisasikan perihal ini kepada semua pihak.

 

Keempat, krama umat Hindu yang memiliki keluarga meninggal dunia: bilamana meninggal karena dinyatakan positif COVID-19 agar mengikhlaskan penanganan penguburan (pamendeman) atau kremasi kepada petugas yang disiapkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah, dengan pemberitahuan kepada pihak keluarga sang palatra dan didampingi keluarga sang palatra;

 

Dan bilamana anggota keluarga meninggal bukan karena COVID-19 supaya tidak dilaksanakan pangabenan sang palatra beserta segenap rangkaian upacara lain yang menyertaianya dalam situasi pandemi COVID-19,

 

dan untuk sementara agar cukup dilaksanakan makingsan di Geni atau makingsan di Pertiwi (mendem) dengan cara nyilib (tanpa suaran kulkul serta nedunang Krama Adat) langsung di setra Desa Adat masing-masing atau di krematorium yang memungkinkan, dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan yang ketat dan penuh disiplin.

Baca Juga:  Diempas Gelombang, KMP Swarna Cakra Kandas di Pelabuhan Padangbai

 

Untuk para Ida Sulinggih serta Pinandita/Pamangku/Jero Gede atau sebutan lain mohon agar menyarankan kepada Krama Bali umat Hindu untuk mengutamakan menunda pelaksanaan upacara yang memungkinkan/bisa ditunda selama Bali dalam kondisi pandemi COVID-19 sampai pandemi COVID-19 ini dinyatakan melandai secara resmi oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah;

 

dan apabila upacara dimaksud tidak memungkinkan untuk ditunda pelaksanaannya maka Ida Sulinggih serta Pinandita/Pamangku/Jero Gede atau sebutan lain dimohon agar memberi arahan dan pembinaan kepada umat Hindu supaya dalam masa pandemi COVID-19 ini diupayakan pelaksanaan upacara yadnya paling alit (Nistaning Kanista), dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan yang ketat dan penuh disiplin.

 

“Bahwa semua langkah, arahan, dan imbauan dari yang berwenang seyogyanya dipahami ditujukan untuk mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan umat manusia serta kelestarian alam lingkungan dan Krama, sesuai dengan filsafat Tri Hita Karana,” tulis Ketua PHDI Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si dan sekretaris PHDI Bali, Ir. Putu Wirata Dwikora, SH dalam surat edaran yang diterima radarbali.id pada Minggu (15/8/2021).

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/