alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Ini Karakteristik Gunung Agung Dibanding Gunung Berapi yang Lain

RadarBali.com – Berdasar data yang dimiliki BPBD Provinsi Bali, erupsi Gunung Agung memiliki karakteristik tidak menentu.

Berbeda dengan gunung berapi di Jogjakarta yang setiap tiga tahun bisa erupsi, Gunung Agung bisa belasan hingga puluhan tahun baru “batuk”.

Riwayat letusan terdahsyat Gunung Agung terjadi pada 1963 silam. Letupan material vulkanologi Gunung Agung menyembur ke udara hingga ketinggian 10 kilometer.

Lahar Gunung Agung menghancurkan beberapa desa dengan korban jiwa sebanyak 1.100 orang. Akibat erupsi besar itu, banyak masyarakat Karangasem dan sekitarnya pindah ke daerah lain.

Bahkan, sebagian besar transmigrasi ke luar pulau. Sebelum 1963, Gunung Agung juga pernah meletus pada 1805, 1821 dan 1843.

Baca Juga:  Hanya Berjarak 7 Km dari Kawah, Banjir Lahar Dingin Jadi Tontonan

Bila dilihat dari rentang waktu atau periodesasi, erupsi terjadi bisa 80 tahun, 20 tahun dan 16 tahun.

“Tapi, erupsi yang paling besar tetap 1963. Erupsinya berlangsung selama setahun, dari 12 Maret 1963 sampai 27 Januari 1964, dengan menyisakan kawah diameter 500 meter kedalaman 200 meter,” tutur Indra.

BPBD sudah memiliki rencana darurat jika Gunung Agung mengalami erupsi. Langkah tersebut dengan menentukan Kawasan Rawan Bencana (KRB) 1, 2 dan 3.

Desa-desa yang terdampak ke mana penduduk dievakuasi sudah ditentukan. Termasuk supali bantuan melalui jalur mana juga sudah dipetakan.

Rencana darurat itu sudah pernah disimulasikan. Artinya, lanjut Indra, bila levelnya meningkat maka BPBD merespon sesuai tahapan.

Baca Juga:  Aktivitas Cenderung Menurun, Gunung Agung Potensi Turun Status

“Hasil pemantauan PVMBG diteruskan pada kami untuk memimpin respon,” jelasnya.



RadarBali.com – Berdasar data yang dimiliki BPBD Provinsi Bali, erupsi Gunung Agung memiliki karakteristik tidak menentu.

Berbeda dengan gunung berapi di Jogjakarta yang setiap tiga tahun bisa erupsi, Gunung Agung bisa belasan hingga puluhan tahun baru “batuk”.

Riwayat letusan terdahsyat Gunung Agung terjadi pada 1963 silam. Letupan material vulkanologi Gunung Agung menyembur ke udara hingga ketinggian 10 kilometer.

Lahar Gunung Agung menghancurkan beberapa desa dengan korban jiwa sebanyak 1.100 orang. Akibat erupsi besar itu, banyak masyarakat Karangasem dan sekitarnya pindah ke daerah lain.

Bahkan, sebagian besar transmigrasi ke luar pulau. Sebelum 1963, Gunung Agung juga pernah meletus pada 1805, 1821 dan 1843.

Baca Juga:  Ini Data-data yang Dicari PVMBG Memotret Kawah dengan Drone Tawon 1.8

Bila dilihat dari rentang waktu atau periodesasi, erupsi terjadi bisa 80 tahun, 20 tahun dan 16 tahun.

“Tapi, erupsi yang paling besar tetap 1963. Erupsinya berlangsung selama setahun, dari 12 Maret 1963 sampai 27 Januari 1964, dengan menyisakan kawah diameter 500 meter kedalaman 200 meter,” tutur Indra.

BPBD sudah memiliki rencana darurat jika Gunung Agung mengalami erupsi. Langkah tersebut dengan menentukan Kawasan Rawan Bencana (KRB) 1, 2 dan 3.

Desa-desa yang terdampak ke mana penduduk dievakuasi sudah ditentukan. Termasuk supali bantuan melalui jalur mana juga sudah dipetakan.

Rencana darurat itu sudah pernah disimulasikan. Artinya, lanjut Indra, bila levelnya meningkat maka BPBD merespon sesuai tahapan.

Baca Juga:  GTPP Klaim Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 di Buleleng Capai 78 %

“Hasil pemantauan PVMBG diteruskan pada kami untuk memimpin respon,” jelasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/