alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Kurangi Energi Magma di Perut Gunung, Mungkinkah Gunung Agung Dibor?

RadarBali.com – Selama 22 hari berada pada masa status Awas (level IV), Gunung Agung telah membuat masyarakat Bali harap-harap cemas.

Gunung berketinggian 3.142 mdpl itu terus gempa dan mengeluarkan asap solfatara setiap hari. Namun, anehnya Gunung Agung tak kunjung meletus.

Usulan nyeleneh pun mencuat. Sejumlah warga berandai-andai kawah Gunung Agung dibor, agar magma di dalam perut gunung mendapatkan jalan keluar.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG), Kasbani saat ditanya usulan agak tidak masuk akal itu menyatakan tidak bisa.

Ditegaskan Kasbani, menyebut pengeboran magma gunungapi aktif tidak mungkin dilakukan. Disinggung gunungapi di Jepang dan Islandia bisa dibor, sehingga magmanya bisa keluar mengalir lancar,

Kasbani menyebut di Jepang dan Islandia yang dibor adalah gunungapi tua yang sudah terbentuk struktur pipa magmanya.

Pengeboran juga tidak dilakukan tepat di kawah. Tapi, jauh berada di tepi gunung yang jauh dari kawah.

“Di Jepang dan Islandia itu pun temperaturnya sekitar 150 derajat celcius. Kalau Gunung Agung seperti ini tidak mungkin dibor. Suhunya di atas 900 derajat celcius.

Kira-kira, alat apa yang bisa dipakai ngebor? Gunung Agung ini belum tua, masih sangat aktif,” ungkap pria ramah dan murah senyum itu.

 “Jadi tidak mungkin dan tidak bisa itu (pengeboran) dilakukan,” tegas pria asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu.

Dijelaskan Kasbani, gempa vulkanik di dalam perut Gunung Agung mash fluktuatif. Hingga Sabtu (14/10) pukul 18.00, terjadi hingga 938 kali gempa.

Jumlah gempa tersebut belum termasuk dilanjutkan aktivitas gempa pukul 18.00 – 00.00. Untuk diketahui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekap data gempa setiap enam jam.

Bila ditambahkan gempa gempa pukul 18.00 – 00.00, maka gempa bisa mencapai 1.000 lebih selama 14 Oktober.



RadarBali.com – Selama 22 hari berada pada masa status Awas (level IV), Gunung Agung telah membuat masyarakat Bali harap-harap cemas.

Gunung berketinggian 3.142 mdpl itu terus gempa dan mengeluarkan asap solfatara setiap hari. Namun, anehnya Gunung Agung tak kunjung meletus.

Usulan nyeleneh pun mencuat. Sejumlah warga berandai-andai kawah Gunung Agung dibor, agar magma di dalam perut gunung mendapatkan jalan keluar.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG), Kasbani saat ditanya usulan agak tidak masuk akal itu menyatakan tidak bisa.

Ditegaskan Kasbani, menyebut pengeboran magma gunungapi aktif tidak mungkin dilakukan. Disinggung gunungapi di Jepang dan Islandia bisa dibor, sehingga magmanya bisa keluar mengalir lancar,

Kasbani menyebut di Jepang dan Islandia yang dibor adalah gunungapi tua yang sudah terbentuk struktur pipa magmanya.

Pengeboran juga tidak dilakukan tepat di kawah. Tapi, jauh berada di tepi gunung yang jauh dari kawah.

“Di Jepang dan Islandia itu pun temperaturnya sekitar 150 derajat celcius. Kalau Gunung Agung seperti ini tidak mungkin dibor. Suhunya di atas 900 derajat celcius.

Kira-kira, alat apa yang bisa dipakai ngebor? Gunung Agung ini belum tua, masih sangat aktif,” ungkap pria ramah dan murah senyum itu.

 “Jadi tidak mungkin dan tidak bisa itu (pengeboran) dilakukan,” tegas pria asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu.

Dijelaskan Kasbani, gempa vulkanik di dalam perut Gunung Agung mash fluktuatif. Hingga Sabtu (14/10) pukul 18.00, terjadi hingga 938 kali gempa.

Jumlah gempa tersebut belum termasuk dilanjutkan aktivitas gempa pukul 18.00 – 00.00. Untuk diketahui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekap data gempa setiap enam jam.

Bila ditambahkan gempa gempa pukul 18.00 – 00.00, maka gempa bisa mencapai 1.000 lebih selama 14 Oktober.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/