alexametrics
27.6 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Saluran Tertimbun Longsor, Petani Tambak Ikan di Gianyar Kesulitan Air

GIANYAR – Petani tambak ikan di Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali mengeluhkan terganggunya saluran irigasi.

Saluran irigasi itu terganggu karena tertutup longsor. Akibatnya, banyak para petani tambak kesulitan memperoleh air secara normal.

Pekaseh Subak Pering Tengah, I Ketut Lendra saat dikonfirmasi mengatakan, sampai saat ini, penanganan longsor hanya dilakukan dengan memotong kayu yang ada di saluran irigasi.

“Tidak ada perbaikan signifikan terhadap irigasi,” ujar Lendra, Selasa (15/2).

Di wilayah subak Pering Tengah terdapat kurang lebih 5 hektar kolam dan tambak ikan. “Kolam dan tambak itu butuh air. Kenyataannya saat saluran irigasi rusak hanya dilakukan perbaikan seadanya,” jelas Lendra.

Pihaknya berharap, agar program pemerintah memajukan pertanian sejalan dengan perbaikan infrastruktur pertanian. “Petani tambak ikan berharap saluran irigasi induk yang ada di Desa Belega bisa dibenahi,”imbuh Lendra.

Baca Juga:  Tes Urine Mendadak, Pastikan Anggota Kodim Jembrana Bebas Narkoba

Walau saluran rusak diterjang longsor, warga subak telah bergotong royong memperbaiki saluran dengan membuat tanggul sementara memakai kampil diisi pasir.

“Tapi itu hanya sementara, kena hujan besar tanggul pasir pasti hanyut,”imbuh Lendra.

Dia khawatir apabila debit air yang mengalir begitu kecil, maka berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. “Juga keberadaan tambak akan mati,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Perikanan Dinas Kelautan dan Ketahanan Pangan Gianyar, Ketut Armadi, mengaku yang sering menjadi persoalan adalah sumber air untuk kolam ikan.

Mengingat tambak membutuhkan air yang mengalir dan air yang dibutuhkan berasal dari air irigasi.

“Air untuk kolam ikan atau tambak berasal dari aliran irigasi. Petani ikan bekerjasama dengan warga subak untuk mendapatkan air. Di saat air irigasi putus, petani ikan mulai kelimpungan dan mengupayakan sedot air, ini yang menjadi persoalan,” jelas Ketut Armadi.

Baca Juga:  Selebaran Penolakan Sulinggih Picu Polemik, Bendesa Pilih Minta Maaf

Meski ada pasang surut air, potensi ekonomi ikan air tawar masih menjanjikan. Potensi ikan yang dikelola kelompok petani ikan mengembangkan ikan Lele, Patin,  Gurami dan Udang.

“Penjualannya di tingkat lokal Bali, dan bahkan masih kurang tidak bisa memenuhi target pasar,” jelas Ketut Armadi.

Armadi menyebutkan,  produksi ikan air tawar Tahun 2021 lalu sebanyak 930 ton dari target produksi 918 ton.

Sedangkan di tahun 2022 ditargetkan produksi ikan sebanyak 937 ton. “Semua petani ikan ini sudah memiliki pasar tersendiri, sehingga pemasarannya relatif aman. Kecuali lele, belum ada komoditas lain masuk Gianyar, sampai saat ini kebutuhan pasar masih tinggi, utamanya untuk kuliner,” imbuhnya.

Sampai saat ini Gianyar memiliki sekitar 38 hektar kolam dan tambak ikan. Peternakan ikan dikelola oleh 114 kelompok petani ikan. 



GIANYAR – Petani tambak ikan di Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali mengeluhkan terganggunya saluran irigasi.

Saluran irigasi itu terganggu karena tertutup longsor. Akibatnya, banyak para petani tambak kesulitan memperoleh air secara normal.

Pekaseh Subak Pering Tengah, I Ketut Lendra saat dikonfirmasi mengatakan, sampai saat ini, penanganan longsor hanya dilakukan dengan memotong kayu yang ada di saluran irigasi.

“Tidak ada perbaikan signifikan terhadap irigasi,” ujar Lendra, Selasa (15/2).

Di wilayah subak Pering Tengah terdapat kurang lebih 5 hektar kolam dan tambak ikan. “Kolam dan tambak itu butuh air. Kenyataannya saat saluran irigasi rusak hanya dilakukan perbaikan seadanya,” jelas Lendra.

Pihaknya berharap, agar program pemerintah memajukan pertanian sejalan dengan perbaikan infrastruktur pertanian. “Petani tambak ikan berharap saluran irigasi induk yang ada di Desa Belega bisa dibenahi,”imbuh Lendra.

Baca Juga:  Diguyur Hujan Lebat, Jalan Penghubung Antar Dusun Tertimbun Longsor

Walau saluran rusak diterjang longsor, warga subak telah bergotong royong memperbaiki saluran dengan membuat tanggul sementara memakai kampil diisi pasir.

“Tapi itu hanya sementara, kena hujan besar tanggul pasir pasti hanyut,”imbuh Lendra.

Dia khawatir apabila debit air yang mengalir begitu kecil, maka berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. “Juga keberadaan tambak akan mati,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Perikanan Dinas Kelautan dan Ketahanan Pangan Gianyar, Ketut Armadi, mengaku yang sering menjadi persoalan adalah sumber air untuk kolam ikan.

Mengingat tambak membutuhkan air yang mengalir dan air yang dibutuhkan berasal dari air irigasi.

“Air untuk kolam ikan atau tambak berasal dari aliran irigasi. Petani ikan bekerjasama dengan warga subak untuk mendapatkan air. Di saat air irigasi putus, petani ikan mulai kelimpungan dan mengupayakan sedot air, ini yang menjadi persoalan,” jelas Ketut Armadi.

Baca Juga:  Tertimbun Longsor Setebal 60 Cm, Tukang Kayu Asal Payangan Tewas

Meski ada pasang surut air, potensi ekonomi ikan air tawar masih menjanjikan. Potensi ikan yang dikelola kelompok petani ikan mengembangkan ikan Lele, Patin,  Gurami dan Udang.

“Penjualannya di tingkat lokal Bali, dan bahkan masih kurang tidak bisa memenuhi target pasar,” jelas Ketut Armadi.

Armadi menyebutkan,  produksi ikan air tawar Tahun 2021 lalu sebanyak 930 ton dari target produksi 918 ton.

Sedangkan di tahun 2022 ditargetkan produksi ikan sebanyak 937 ton. “Semua petani ikan ini sudah memiliki pasar tersendiri, sehingga pemasarannya relatif aman. Kecuali lele, belum ada komoditas lain masuk Gianyar, sampai saat ini kebutuhan pasar masih tinggi, utamanya untuk kuliner,” imbuhnya.

Sampai saat ini Gianyar memiliki sekitar 38 hektar kolam dan tambak ikan. Peternakan ikan dikelola oleh 114 kelompok petani ikan. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/