alexametrics
27.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Tak Lihat Perbedaan, Saling Membantu Saat Umat Lain Gelar Hari Raya

DITENGAH krisis toleransi, ada potret menarik yang ditunjukkan warga muslim (Islam) dan Hindu saat perayaan Tahun Baru Caka 1943 atau Perayaan Nyepi 2021 di Buleleng.

 

Tanpa sekat, kedua krama atau warga beda keyakinan di “Gumi Panji Sakti” inipun hidup berdampingan dan harmonis.

 

Mereka saling menghormati satu sama lain dan menjaga tradisi serta budaya yang diwariskan para pendahulu mereka atau leluhur.

 

Lalu seperti apa keharmonisan warga beda agama di Bali Utara itu?

 

DIDIK D.PRAPTONO, Buleleng

 

SEJAK siang menjelang sore, Umat Hindu di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Sabtu (13/3) lalu terlihat lebih sibuk dari hari biasanya.

 

Mereka sibuk mempersiapkan upakara untuk persembahyangan. Berdasarkan kalender Bali, Sabtu lalu memang bertepatan dengan Tilem Kesanga.

 

Waktu inilah, menurut filosofi Hindu, bahwa bulan kesembilan ini sangat tepat untuk melaksanakan Upacara Bhuta Yadnya, yang puncaknya terjadi pada Tilem Kesanga atau jatuh pada tanggal Sabtu 13 Maret 2021 kalender masehi.

 

Selanjutnya, setelah sejumlah upakara siap, mereka kemudian berkumpul di catus pata (perempatan) desa.untuk menggelar persembahyangan.

 

Yang menarik, di saat warga Hindu menggelar persembahyangan, tidak jauh dari lokasi persembahyangan, terlihat beberapa pemuda berpakaian loreng berbaur dengan pecalang (pengaman desa adat).

Baca Juga:  Polsek Kutsel Gandeng Pecalang Bagi Masker Gratis di Pintu Masuk Tol

 

Para pemuda berbaju loreng, itu bukanlah anggota TNI.  Namun, mereka adalah para anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser).

 

Mereka berbaur akrab meski beda agama atau keyakinan. Bahkan ditengah suasana hujan deras, dengan seragam dan pakaian basah kuyup, mereka tak beranjak dan tetap menjaga warga Hindu yang sedang melaksanakan persembahyangan hingga selesai.

 

Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Buleleng, Abdul Karim Abraham saat dikonfirmasi, Selasa (16/3) mengatakan, bahwa kegiatan pengamanan yang dilakukan anggota banser dan pecalang saat perayaan hari besar termasuk salah satunya Nyepi sudah sering dilakukan di Buleleng.

 

“Setiap Hari Raya Nyepi, kami di Buleleng itu sudah terbiasa membantu pecalang untuk pengamanan. Baik sebelum Nyepi dalam satu rangkaian maupun pada saat hari-H Nyepi. Dan begitu juga sebaliknya,” kata Abraham, saat dihubungi Selasa (15/3). 

 

Bahkan, kata Abdul Karim, saat Hari Raya Nyepi 2021 ini, ada sekitar 170 anggota Ansor dan Banser di Buleleng yang dilibatkan untuk pengamanan Nyepi di 5 (lima) Kecamatan di Buleleng.

 

“Pada saat Nyepi, kita menurunkan anggota (Ansor dan Banser) di 17 titik yang ada di 5 (lima) kecamatan. Satu titik ada sekitar 5 sampai 10 orang anggota. Jadi, kita membantu mengontrol keamanan dan pengamanan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Masuk Satgas Covid-19, Ketua MDA: Pecalang Tak Ikut Urusan Medis

 

Bahkan kata Abdul Karim, kekompakan anggota banser dan pecalang bukan terjadi saat perayaan Nyepi semata.

 

Melainkan, saat hari besar keagamaan umat beragama lainnya, seperti Hari Raya Natal, Idul Fitri, dan hari besar agama lain, mereka juga selalu bersama menjaga keamanan.

 

Menurut Abdul Karim, pengamanan bersama antara banser dan pecalang ini awalnya dibentuk untuk menjaga wilayah masing-masing.

 

Tujuan kedua dan terpenting, pengamanan bersama ini digelar untuk menyampaikan pesan keharmonisan antar umat beragama di Bali khususnya di Buleleng. 

 

“Yang ingin kita sampaikan sebenarnya lebih pada pesan mewujudkan keharmonisannya. Jadi kita melakukan itu untuk saling membantu antar kemanusiaan dan tidak melihat latarbelakang atau perbedaan agama/keyakinan. Dan ini sudah terpupuk sejak lama dan bahkan dari para orang tua terdahulu sudah dilakukan,” ujarnya.

 

Terpenting lagi, dari kegiatan itu, Abdul Karim ingin menyampaikan pesan, selain pentingnya keharmonisan antar umat beragama, hubungan antara Banser dan Pecalang ini juga sebagai bentuk untuk menjaga warisan budaya leluhur  dan toleransi yang sudah ada dari sejak dulu.


DITENGAH krisis toleransi, ada potret menarik yang ditunjukkan warga muslim (Islam) dan Hindu saat perayaan Tahun Baru Caka 1943 atau Perayaan Nyepi 2021 di Buleleng.

 

Tanpa sekat, kedua krama atau warga beda keyakinan di “Gumi Panji Sakti” inipun hidup berdampingan dan harmonis.

 

Mereka saling menghormati satu sama lain dan menjaga tradisi serta budaya yang diwariskan para pendahulu mereka atau leluhur.

 

Lalu seperti apa keharmonisan warga beda agama di Bali Utara itu?

 

DIDIK D.PRAPTONO, Buleleng

 

SEJAK siang menjelang sore, Umat Hindu di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Sabtu (13/3) lalu terlihat lebih sibuk dari hari biasanya.

 

Mereka sibuk mempersiapkan upakara untuk persembahyangan. Berdasarkan kalender Bali, Sabtu lalu memang bertepatan dengan Tilem Kesanga.

 

Waktu inilah, menurut filosofi Hindu, bahwa bulan kesembilan ini sangat tepat untuk melaksanakan Upacara Bhuta Yadnya, yang puncaknya terjadi pada Tilem Kesanga atau jatuh pada tanggal Sabtu 13 Maret 2021 kalender masehi.

 

Selanjutnya, setelah sejumlah upakara siap, mereka kemudian berkumpul di catus pata (perempatan) desa.untuk menggelar persembahyangan.

 

Yang menarik, di saat warga Hindu menggelar persembahyangan, tidak jauh dari lokasi persembahyangan, terlihat beberapa pemuda berpakaian loreng berbaur dengan pecalang (pengaman desa adat).

Baca Juga:  Buntu, MDA Ambil Alih Mediasi Sengketa Kuburan 2 Desa Adat di Buleleng

 

Para pemuda berbaju loreng, itu bukanlah anggota TNI.  Namun, mereka adalah para anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser).

 

Mereka berbaur akrab meski beda agama atau keyakinan. Bahkan ditengah suasana hujan deras, dengan seragam dan pakaian basah kuyup, mereka tak beranjak dan tetap menjaga warga Hindu yang sedang melaksanakan persembahyangan hingga selesai.

 

Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Buleleng, Abdul Karim Abraham saat dikonfirmasi, Selasa (16/3) mengatakan, bahwa kegiatan pengamanan yang dilakukan anggota banser dan pecalang saat perayaan hari besar termasuk salah satunya Nyepi sudah sering dilakukan di Buleleng.

 

“Setiap Hari Raya Nyepi, kami di Buleleng itu sudah terbiasa membantu pecalang untuk pengamanan. Baik sebelum Nyepi dalam satu rangkaian maupun pada saat hari-H Nyepi. Dan begitu juga sebaliknya,” kata Abraham, saat dihubungi Selasa (15/3). 

 

Bahkan, kata Abdul Karim, saat Hari Raya Nyepi 2021 ini, ada sekitar 170 anggota Ansor dan Banser di Buleleng yang dilibatkan untuk pengamanan Nyepi di 5 (lima) Kecamatan di Buleleng.

 

“Pada saat Nyepi, kita menurunkan anggota (Ansor dan Banser) di 17 titik yang ada di 5 (lima) kecamatan. Satu titik ada sekitar 5 sampai 10 orang anggota. Jadi, kita membantu mengontrol keamanan dan pengamanan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Pedagang Jamu Ilegal yang Jadi TSK Ternyata Binaan Diskop Jembrana

 

Bahkan kata Abdul Karim, kekompakan anggota banser dan pecalang bukan terjadi saat perayaan Nyepi semata.

 

Melainkan, saat hari besar keagamaan umat beragama lainnya, seperti Hari Raya Natal, Idul Fitri, dan hari besar agama lain, mereka juga selalu bersama menjaga keamanan.

 

Menurut Abdul Karim, pengamanan bersama antara banser dan pecalang ini awalnya dibentuk untuk menjaga wilayah masing-masing.

 

Tujuan kedua dan terpenting, pengamanan bersama ini digelar untuk menyampaikan pesan keharmonisan antar umat beragama di Bali khususnya di Buleleng. 

 

“Yang ingin kita sampaikan sebenarnya lebih pada pesan mewujudkan keharmonisannya. Jadi kita melakukan itu untuk saling membantu antar kemanusiaan dan tidak melihat latarbelakang atau perbedaan agama/keyakinan. Dan ini sudah terpupuk sejak lama dan bahkan dari para orang tua terdahulu sudah dilakukan,” ujarnya.

 

Terpenting lagi, dari kegiatan itu, Abdul Karim ingin menyampaikan pesan, selain pentingnya keharmonisan antar umat beragama, hubungan antara Banser dan Pecalang ini juga sebagai bentuk untuk menjaga warisan budaya leluhur  dan toleransi yang sudah ada dari sejak dulu.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/