alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Kemenkes dan BPOM Hentikan Sementara Vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547

PEMERINTAH melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menghentikan sementara penggunaan dan distribusi vaksin AstraZeneca Batch (kumpulan produksi) CTMAV547. 

Penghentian sementara penggunaan dan distribusi vaksin AstraZeneca oleh pemerintah (Kementerian Kesehatan dan BPOM) dilakukan sebagai kehati-hatian untuk memastikan keamanan vaksin ini.
 

Selanjutnya, BPOM akan melakukan pengujian toksisitas dan sterilitas.

Terkait penghentian distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca oleh pemerintah, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidzi, Minggu (16/5) menyatakan bahwa tidak semua batch vaksin AstraZeneca dihentikan distribusi dan penggunaannya.

“Tidak semua batch vaksin AstraZeneca dihentikan distribusi dan penggunaannya,”tegasnya.

 

Menurutnya, penghentian distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca hanya khusus untuk Batch CTMAV547.

 

“Vaksin AstraZeneca (Batch CTMAV547) dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi dan pengujian dari BPOM yang kemungkinan memerlukan waktu satu hingga dua minggu,” ujar Siti Nadia Tarmidzi dalam keterangan resminya

Baca Juga:  Dewan Apresiasi Komitmen Bupati Membangun Kesejahteraan Masyarakat

 

Sebagai informasi, Batch CTMAV547 saat ini berjumlah 448.480 dosis dan merupakan bagian dari 3.852.000 dosis AstraZeneca yang diterima Indonesia pada 26 April 2021 melalui skema Covax Facility/WHO.

 

Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, batch CTMAV547 telah didistribusikan untuk TNI dan sebagian lainnya didistribusikan ke DKI Jakarta dan Sulawesi Utara (Sultra).

 

Sementara itu terkait dengan adanya laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serius yang diduga berkaitan dengan AstraZeneca Batch CTMAV547,

Komisi Nasional (Komnas) KIPI telah merekomendasikan BPOM untuk melakukan uji sterilitas dan toksisitas terhadap kelompok tersebut dikarenakan tidak cukup data untuk menegakkan diagnosis penyebab dan klasifikasi dari KIPI yang dimaksud.

Baca Juga:  Demam Tinggi Usai Disuntik Vaksin AstraZeneca, Dinkes Klaim Wajar

“(Upaya) Ini adalah bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin ini. Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tenang dan tidak termakan oleh hoaks yang beredar.

Masyarakat diharapkan selalu mengakses informasi dari sumber terpercaya,” pinta Nadia.

Adapun lanjutnya, penggunaan vaksin AstraZeneca juga disebut akan tetap terus berjalan dikarenakan vaksinasi Covid-19 membawa manfaat lebih besar.

Berdasarkan data Komnas KIPI belum pernah ada kejadian orang yang meninggal dunia akibat vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

Dalam beberapa kasus sebelumnya, meninggalnya orang yang statusnya telah divaksinasi Covid-19 dikarenakan sebab lain dan bukan akibat dari vaksinasi yang diterimanya.


PEMERINTAH melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menghentikan sementara penggunaan dan distribusi vaksin AstraZeneca Batch (kumpulan produksi) CTMAV547. 

Penghentian sementara penggunaan dan distribusi vaksin AstraZeneca oleh pemerintah (Kementerian Kesehatan dan BPOM) dilakukan sebagai kehati-hatian untuk memastikan keamanan vaksin ini.
 

Selanjutnya, BPOM akan melakukan pengujian toksisitas dan sterilitas.

Terkait penghentian distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca oleh pemerintah, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidzi, Minggu (16/5) menyatakan bahwa tidak semua batch vaksin AstraZeneca dihentikan distribusi dan penggunaannya.

“Tidak semua batch vaksin AstraZeneca dihentikan distribusi dan penggunaannya,”tegasnya.

 

Menurutnya, penghentian distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca hanya khusus untuk Batch CTMAV547.

 

“Vaksin AstraZeneca (Batch CTMAV547) dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi dan pengujian dari BPOM yang kemungkinan memerlukan waktu satu hingga dua minggu,” ujar Siti Nadia Tarmidzi dalam keterangan resminya

Baca Juga:  Tak Ada Laporan, Penjahit yang Tewas Usai Vaksin Akhirnya Dimakamkan

 

Sebagai informasi, Batch CTMAV547 saat ini berjumlah 448.480 dosis dan merupakan bagian dari 3.852.000 dosis AstraZeneca yang diterima Indonesia pada 26 April 2021 melalui skema Covax Facility/WHO.

 

Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, batch CTMAV547 telah didistribusikan untuk TNI dan sebagian lainnya didistribusikan ke DKI Jakarta dan Sulawesi Utara (Sultra).

 

Sementara itu terkait dengan adanya laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serius yang diduga berkaitan dengan AstraZeneca Batch CTMAV547,

Komisi Nasional (Komnas) KIPI telah merekomendasikan BPOM untuk melakukan uji sterilitas dan toksisitas terhadap kelompok tersebut dikarenakan tidak cukup data untuk menegakkan diagnosis penyebab dan klasifikasi dari KIPI yang dimaksud.

Baca Juga:  Demam Tinggi Usai Disuntik Vaksin AstraZeneca, Dinkes Klaim Wajar

“(Upaya) Ini adalah bentuk kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin ini. Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tenang dan tidak termakan oleh hoaks yang beredar.

Masyarakat diharapkan selalu mengakses informasi dari sumber terpercaya,” pinta Nadia.

Adapun lanjutnya, penggunaan vaksin AstraZeneca juga disebut akan tetap terus berjalan dikarenakan vaksinasi Covid-19 membawa manfaat lebih besar.

Berdasarkan data Komnas KIPI belum pernah ada kejadian orang yang meninggal dunia akibat vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

Dalam beberapa kasus sebelumnya, meninggalnya orang yang statusnya telah divaksinasi Covid-19 dikarenakan sebab lain dan bukan akibat dari vaksinasi yang diterimanya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/