alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Bupati Tamba Minta Petugas Pakai Cara Humanis saat Jemput Warga Isoman

NEGARA – Warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan menjalani isolasi mandiri, satu persatu mulai dijemput untuk menjalani isolasi terpusat yang telah disediakan.

 

Isolasi terpusat khusus untuk orang tanpa gejala (OTG) untuk mencegah penularan Covid-19, karena isolasi mandiri di rumah rawan terjadi penularan pada orang lain, terutama keluarga.

 

Seperti upaya penjemputan warga terkonfirmasi positif Covid-19 di rumahnya, di Wilayah Kecamatan Mendoyo, Minggu (15/8). Dua orang warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah dijemput untuk dibawa ke tempat isolasi terpusat di asrama MAN 2 Jembrana, Desa Yehsumbul, Kecamatan Mendoyo.

 

Bupati Jembrana I Nengah Tamba yang hadir langsung saat penjemputan tersebut bersama Forkopimda Jembrana, meminta warga yang  terpapar Covid-19 agar disiplin dan taat dengan arahan pemerintah. Bupati memastikan warga yang isolasi terpusat menyediakan semua keperluan, mulai dari makan dan minum hingga pemeriksaan kesehatan.

 

“Pemerintah tidak  akan mungkin mengorbankan rakyatnya. Mohon diikuti kebijakan ini. Dengan  isolasi terpusat maka akan lebih mudah melakukan pemantauan, menyiapkan makan dan minum serta mengecek perkembangan kesehatan. Jika semua krama disiplin maka akan mempercepat pemutusan rantai perkembangan virus Covid-19  di wilayah kita,” terangnya.

Baca Juga:  13 Tahun Jadi Kadiskes Jembrana, Putu Suasta Digeser Jadi Staf Ahli

 

Kepada Satgas masing-masing kecamatan dan desa, bupati juga berharap bisa memberikan pemahaman yang benar akan tujuan dari kebijakan isolasi terpusat ini. Karena dengan memberikan pemahaman yang tepat dan benar, satgas tidak akan kesulitan mengajak warga untuk isolasi terpusat.

 

Sehari sebelumnya, Sabtu (14/8), Satgas Covid-19 Jembrana dengan melaksanakan apel gabungan petugas baik dari jajaran Pemkab Jembrana, unsur TNI/Polri depan Pura Jagatnatha.

 

Apel gabungan tersebut untuk menindaklanjuti arahan Menkomarves RI Luhut Binsar Panjaitan yang juga Koordinator PPKM Jawa-Bali dan Gubernur Bali Wayan Koster terkait warga isolasi mandiri agar dipindahkan ke lokasi isolasi terpusat yang telah disediakan.

 

Hal itu yang paling memungkinkan dilakukan sebagai langkah memutus rantai penyebaran covid-19, selain itu juga memudahkan dalam pemantauan dan memberikan penanganan lebih baik sehingga angka kesembuhan dari covid-19 semakin meningkat.

Baca Juga:  Mimih…Dikirimi Surat Tagihan, Bos Vila di Ubud Marah-marah, Lantas…

 

Di samping itu, untuk tracing dan testing agar terus digencarkan, sehingga ketika terdapat warga yang terpapar, cepat tracing dan ditesting. Ketika keluar hasilnya jika terpapar covid-19 langsung dibawa ke lokasi isolasi terpusat, meskipun warga tersebut statusnya OTG. 

 

“Perlu saya tekankan juga yang terpenting adalah bagi para petugas sebagai garda terdepan agar mengedukasi warga masyarakat pentingnya isoter. Supaya tidak menimbulkan konflik, petugas hendaknya ketika menjemput warga yang isoman tersebut dengan santun, bermasyarakat dan humanis,” kata Tamba.

 

“Jangan sampai psikis mereka tertekan.  Menyandang status isoman saja sudah terganggu psikis mereka apalagi dijemput dengan beramai-ramai, mereka pasti tidak mau. Kita tegas namun dengan cara yang lebih santun dan bermasyarakat,” imbuhnya.


NEGARA – Warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan menjalani isolasi mandiri, satu persatu mulai dijemput untuk menjalani isolasi terpusat yang telah disediakan.

 

Isolasi terpusat khusus untuk orang tanpa gejala (OTG) untuk mencegah penularan Covid-19, karena isolasi mandiri di rumah rawan terjadi penularan pada orang lain, terutama keluarga.

 

Seperti upaya penjemputan warga terkonfirmasi positif Covid-19 di rumahnya, di Wilayah Kecamatan Mendoyo, Minggu (15/8). Dua orang warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah dijemput untuk dibawa ke tempat isolasi terpusat di asrama MAN 2 Jembrana, Desa Yehsumbul, Kecamatan Mendoyo.

 

Bupati Jembrana I Nengah Tamba yang hadir langsung saat penjemputan tersebut bersama Forkopimda Jembrana, meminta warga yang  terpapar Covid-19 agar disiplin dan taat dengan arahan pemerintah. Bupati memastikan warga yang isolasi terpusat menyediakan semua keperluan, mulai dari makan dan minum hingga pemeriksaan kesehatan.

 

“Pemerintah tidak  akan mungkin mengorbankan rakyatnya. Mohon diikuti kebijakan ini. Dengan  isolasi terpusat maka akan lebih mudah melakukan pemantauan, menyiapkan makan dan minum serta mengecek perkembangan kesehatan. Jika semua krama disiplin maka akan mempercepat pemutusan rantai perkembangan virus Covid-19  di wilayah kita,” terangnya.

Baca Juga:  Sediakan Nasi Basi, Penyedia Katering Tenaga Medis RS Nyitdah Diganti

 

Kepada Satgas masing-masing kecamatan dan desa, bupati juga berharap bisa memberikan pemahaman yang benar akan tujuan dari kebijakan isolasi terpusat ini. Karena dengan memberikan pemahaman yang tepat dan benar, satgas tidak akan kesulitan mengajak warga untuk isolasi terpusat.

 

Sehari sebelumnya, Sabtu (14/8), Satgas Covid-19 Jembrana dengan melaksanakan apel gabungan petugas baik dari jajaran Pemkab Jembrana, unsur TNI/Polri depan Pura Jagatnatha.

 

Apel gabungan tersebut untuk menindaklanjuti arahan Menkomarves RI Luhut Binsar Panjaitan yang juga Koordinator PPKM Jawa-Bali dan Gubernur Bali Wayan Koster terkait warga isolasi mandiri agar dipindahkan ke lokasi isolasi terpusat yang telah disediakan.

 

Hal itu yang paling memungkinkan dilakukan sebagai langkah memutus rantai penyebaran covid-19, selain itu juga memudahkan dalam pemantauan dan memberikan penanganan lebih baik sehingga angka kesembuhan dari covid-19 semakin meningkat.

Baca Juga:  Tak Temukan Pelanggaran Jalur Hijau, Proyek SMK Pariwisata Tetap Jalan

 

Di samping itu, untuk tracing dan testing agar terus digencarkan, sehingga ketika terdapat warga yang terpapar, cepat tracing dan ditesting. Ketika keluar hasilnya jika terpapar covid-19 langsung dibawa ke lokasi isolasi terpusat, meskipun warga tersebut statusnya OTG. 

 

“Perlu saya tekankan juga yang terpenting adalah bagi para petugas sebagai garda terdepan agar mengedukasi warga masyarakat pentingnya isoter. Supaya tidak menimbulkan konflik, petugas hendaknya ketika menjemput warga yang isoman tersebut dengan santun, bermasyarakat dan humanis,” kata Tamba.

 

“Jangan sampai psikis mereka tertekan.  Menyandang status isoman saja sudah terganggu psikis mereka apalagi dijemput dengan beramai-ramai, mereka pasti tidak mau. Kita tegas namun dengan cara yang lebih santun dan bermasyarakat,” imbuhnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/