alexametrics
26.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

WASPADA! Masuk KRB III, Sepertiga Warga Dukuh Malah Balik ke Rumah

RadarBali.com – Meski PVMBG dan pemerintah belum mencabut status awas Gunung Agung, namun sejumlah pengungsi asal Desa Adat Dukuh,

Karangasem yang sebelumnya mengungsi hampir 21 hari lebih memilih kembali  ke rumahnya. Padahal, kawasan tersebut masuk kawasan rawan bencana (KRB) III.

Kelian Desa Adat Dukuh Drs Ketut Giri M.Pdh saat ditemui di rumahnya, Minggu (15/10) kemarin menyebutkan, ada sepertiga dari total warganya yang memilih kembali ke rumah.

“Dari total enam banjar adat di Dukuh,  ada sekitar 2500 kepala keluarga (KK)  dengan penduduk sebanyak 4.000 jiwa. Nah dari jumlah itu, sepertiganya kembali ke rumah, “ujar pria yang juga berdinas sebagai staf pengawas di Dinas Pendidikan Bali ini. 

Ditambahkan Giri, alasan warga memilih kembali ke rumah, selain jenuh, juga karena mereka was-was dengan kondisi tempat tinggal mereka yang lama ditinggalkan.

Belum lagi, berubahnya informasi maupun prakiraan yang disampaikan pemerintah melalui PVMP (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) berubah-ubah.

“Satu sisi memang kalau mengacu imbauan pemerintah warga takut jika kembali ke rumah, tapi jika tidak dan bertahan di pengungsian mereka juga cemas dengan kondisi rumah, “terangnya. 

Dengan alasan itu, kata Giri, warganya banyak yang memilih kembali. “Kami bukan tidak percaya dengan pemerintah atau PVMPG,

tapi keadaan bingung karena kondisi yang tak menentu terkait kapan Gunung Agung meletus itulah yang membuat sebagian warga memilih untuk kembali ke rumah,” imbuhnya.



RadarBali.com – Meski PVMBG dan pemerintah belum mencabut status awas Gunung Agung, namun sejumlah pengungsi asal Desa Adat Dukuh,

Karangasem yang sebelumnya mengungsi hampir 21 hari lebih memilih kembali  ke rumahnya. Padahal, kawasan tersebut masuk kawasan rawan bencana (KRB) III.

Kelian Desa Adat Dukuh Drs Ketut Giri M.Pdh saat ditemui di rumahnya, Minggu (15/10) kemarin menyebutkan, ada sepertiga dari total warganya yang memilih kembali ke rumah.

“Dari total enam banjar adat di Dukuh,  ada sekitar 2500 kepala keluarga (KK)  dengan penduduk sebanyak 4.000 jiwa. Nah dari jumlah itu, sepertiganya kembali ke rumah, “ujar pria yang juga berdinas sebagai staf pengawas di Dinas Pendidikan Bali ini. 

Ditambahkan Giri, alasan warga memilih kembali ke rumah, selain jenuh, juga karena mereka was-was dengan kondisi tempat tinggal mereka yang lama ditinggalkan.

Belum lagi, berubahnya informasi maupun prakiraan yang disampaikan pemerintah melalui PVMP (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) berubah-ubah.

“Satu sisi memang kalau mengacu imbauan pemerintah warga takut jika kembali ke rumah, tapi jika tidak dan bertahan di pengungsian mereka juga cemas dengan kondisi rumah, “terangnya. 

Dengan alasan itu, kata Giri, warganya banyak yang memilih kembali. “Kami bukan tidak percaya dengan pemerintah atau PVMPG,

tapi keadaan bingung karena kondisi yang tak menentu terkait kapan Gunung Agung meletus itulah yang membuat sebagian warga memilih untuk kembali ke rumah,” imbuhnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/