alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Laskar Bali Shanti dan Baladika Bentuk ABS

DENPASAR, radarbali.id- Dua organisasi kemasyarakatan (ormas) besar Pulau Dewata, Laskar Bali Shanti dan Baladika Bali mendeklarasikan berdirinya Aliansi Bali Shanti (ABS) di Gong Perdamaian Dunia, Desa Kerthalangu Kesiman, Denpasar Timur, Senin (15/11).

ABS dibentuk merespons konflik antara Sampradaya dengan Hindu. Konflik umat Hindu Dresta  Bali atau Nusantara dan Sampradaya semakin mengkristal terjadi polarisasi.

 

Sekretaris Jenderal Baladika Bali, Komang Merta Jiwa didampingi Sekretaris Umum Laskar Bali Shanti, I Ketut Artana Yasa  mengatakan deklarasi diproklamirkan karena konflik memicu terjadinya dualisme kepengurusan di tubuh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Merta menegaskan ABS dibentuk berdasarkan sejumlah pertimbangan. Pertama, bahwa International Convention On Civil and Political Rights (ICCPR) yang sudah diratifikasi DPR RI mewajibkan setiap warga negara untuk tidak mengingkari hak-hak kelompok minoritas dan mewajibkan setiap negara untuk mengambil tindakan khusus dan positif yang dibutuhkan untuk melindungi identitas kelompok minoritas dan hak-hak anggotanya untuk menikmati dan mengembangkan budaya dan bahasa mereka, serta menjalankan mengamalkan agama atau menggunakan bahasa mereka sendiri. 

 

Kedua, sesungguhnya Bali dan Krama Bali adalah salah satu dari berbagai kelompok minoritas yang dibangun di atas nilai-nilai kearifan lokal dan Aliansi Bali Shanti (ABS) memiliki anggota lintas agama dan bagi penganut Agama Hindu landasan spiritual adalah Eka Twa Aneka Twa Swalaksana Bhatara Hindu Bali dengan Catur Dresta yang berhak dan wajib memperoleh perlindungan dari pemerintah. 

Ketiga, sehubungan dengan adanya perkembangan kelompok organisasi transnasional asing berbalut agama dan spiritual (Hare Krisna-ISKCON, Sai baba dan sampradaya asing lainnya) yang sangat meresahkan krama Bali. Hal ini mengundang penyikapan kolektif dari berbagai organisasi masyarakat Bali yang peduli terhadap tradisi, adat, budaya, dan agama Hindu Bali dengan Catur Dresta menyatakan bersepakat untuk menggabungkan diri untuk membangun aliansi dalam rangka menyatukan nilai, visi, dan pemahaman untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menjaga dan memelihara perdamaian khususnya di Pulau Bali. 

“Asas Aliansi Bali Shanti (ABS) adalah sebuah forum koordinasi yang dibentuk berasaskan Pancasila, berdasarkan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD 1945), dan semangat Bhineka Tunggal Ika dan Aliansi Bali Shanti untuk memenuhi dan melaksanakan hak dan kewajiban ormas sesuai dengan ketentuan Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang ormas,” jelas Komang Merta Jaya. 

Ia menambahkan ABS sebagai aliansi yang taat hukum dan taat azas yang memenuhi ketentuan Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tersebut wajib bersinergi dengan pemerintah, TNI/Polri dan pihak terkait untuk ikut serta menjaga Bali agar aman tenteram dan damai sejahtera. (arb)



DENPASAR, radarbali.id- Dua organisasi kemasyarakatan (ormas) besar Pulau Dewata, Laskar Bali Shanti dan Baladika Bali mendeklarasikan berdirinya Aliansi Bali Shanti (ABS) di Gong Perdamaian Dunia, Desa Kerthalangu Kesiman, Denpasar Timur, Senin (15/11).

ABS dibentuk merespons konflik antara Sampradaya dengan Hindu. Konflik umat Hindu Dresta  Bali atau Nusantara dan Sampradaya semakin mengkristal terjadi polarisasi.

 

Sekretaris Jenderal Baladika Bali, Komang Merta Jiwa didampingi Sekretaris Umum Laskar Bali Shanti, I Ketut Artana Yasa  mengatakan deklarasi diproklamirkan karena konflik memicu terjadinya dualisme kepengurusan di tubuh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Merta menegaskan ABS dibentuk berdasarkan sejumlah pertimbangan. Pertama, bahwa International Convention On Civil and Political Rights (ICCPR) yang sudah diratifikasi DPR RI mewajibkan setiap warga negara untuk tidak mengingkari hak-hak kelompok minoritas dan mewajibkan setiap negara untuk mengambil tindakan khusus dan positif yang dibutuhkan untuk melindungi identitas kelompok minoritas dan hak-hak anggotanya untuk menikmati dan mengembangkan budaya dan bahasa mereka, serta menjalankan mengamalkan agama atau menggunakan bahasa mereka sendiri. 

 

Kedua, sesungguhnya Bali dan Krama Bali adalah salah satu dari berbagai kelompok minoritas yang dibangun di atas nilai-nilai kearifan lokal dan Aliansi Bali Shanti (ABS) memiliki anggota lintas agama dan bagi penganut Agama Hindu landasan spiritual adalah Eka Twa Aneka Twa Swalaksana Bhatara Hindu Bali dengan Catur Dresta yang berhak dan wajib memperoleh perlindungan dari pemerintah. 

Ketiga, sehubungan dengan adanya perkembangan kelompok organisasi transnasional asing berbalut agama dan spiritual (Hare Krisna-ISKCON, Sai baba dan sampradaya asing lainnya) yang sangat meresahkan krama Bali. Hal ini mengundang penyikapan kolektif dari berbagai organisasi masyarakat Bali yang peduli terhadap tradisi, adat, budaya, dan agama Hindu Bali dengan Catur Dresta menyatakan bersepakat untuk menggabungkan diri untuk membangun aliansi dalam rangka menyatukan nilai, visi, dan pemahaman untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menjaga dan memelihara perdamaian khususnya di Pulau Bali. 

“Asas Aliansi Bali Shanti (ABS) adalah sebuah forum koordinasi yang dibentuk berasaskan Pancasila, berdasarkan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD 1945), dan semangat Bhineka Tunggal Ika dan Aliansi Bali Shanti untuk memenuhi dan melaksanakan hak dan kewajiban ormas sesuai dengan ketentuan Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang ormas,” jelas Komang Merta Jaya. 

Ia menambahkan ABS sebagai aliansi yang taat hukum dan taat azas yang memenuhi ketentuan Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tersebut wajib bersinergi dengan pemerintah, TNI/Polri dan pihak terkait untuk ikut serta menjaga Bali agar aman tenteram dan damai sejahtera. (arb)



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/