alexametrics
26.7 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Imbauan Koster Selasa Wajib Endek Bisa Rugikan Warisan Budaya Bali

DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster beberapa waktu lalu telah mengeluarkan surat edaran (SE) Nomor 04 Tahun 2021 tentang Penggunaan kain endek Bali/kain tenun tradisional Bali.

 

Atas terbitnya SE itu, gubernur menghimbau agar instansi pemerintah/swasta termasuk masyarakat umum di Bali agar menggunakan kain tenun endek pada setiap hari Selasa. 

 

Surat edaran ini resmi akan berlaku pada, Selasa 23 Februari 2021 mendatang

 

Salah satu alasan terbitnya SE, adalah agar dapat menyelamatkan salah satu warisan kerajinan Bali (khususnya kain endek/kain tradisional Bali) ditengah gempuran pakaian endek print yang dijual dengan harga murah belakangan ini.

 

Atas kebijakan gubernur Bali ini, selain masih menjadi pro dan kontra di masyarakat, terbitnya SE No.04/2021 ini juga mendapat perhatian serius dari Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Bali.

 

 

Seperti disampaikan Direktur YLPK Bali, I Putu Armaya. Terkait SE gubernur, ia menilai, jika imbauan Gubernur Bali Wayan Koster ini seperti kejar tayang disaat masyarakat sedang berjibaku dengan persoalan perekonomian karena pandemi Covid 19 ini.

Baca Juga:  Lawan Covid dengan Terapi Plasma, Arta Sebut Pendonor Sebagai Pahlawan

 

“Memang semangatnya itu bagaimana membangkitkan ekonomi, sehingga masyarakat Bali menggunakan kain endek. Tujuannya baik, hanya saja kondisi ekonomi saat pandemi ini luluh lantak,” ujarnya pada Rabu (17/2).

 

Selain itu, fakta di lapangan, kata Armaya juga masih ditemukan banyak kain endek yang dicetak secara instan.

 

“Itu ternyata bukan kain endek asli, karena kalau kain endek asli tentu harganya sangat mahal,” sebutnya.

 

Ini menjadi sebuah fenomena yang serba dilema. Disatu sisi kebijakan kain endek ini dikeluarkan saat pandemi, kedua maksud Gubernur Bali Wayan Koster juga untuk menumbuhkan perekonomian para pengerajin endek tradisional namun disisi lain belum diantisipasi karena masyarakat bisa saja membeli kain endek cetakan dengan harga yang murah dan bukan dari pengerajin endek tradisional.

 

“Ini menurut saya, semangat menumbuhkan ekonomi dipengerajin endek tak ada lagi, karena masyarakat akan mencari yang lebih murah. Apalagi saat pandemi ini juga masyarakat tidak bisa mendapatkan kain endek yang asli karena mahal,” pungkasnya.

 

Untuk diketahui, dari sejumlah daftar harga digerai online, saat ini harga kemeja endek hanya dibandrol dengan harga dari Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu.

Baca Juga:  Lagi, Gubernur Koster Beri Diskon Pajak Kendaraan Bermotor

 

Harga ini tentu dapat dikatakan tak masuk akal jika berkaca dengan proses pembuatan kain endek yang membutuhkan waktu yang cukup lama.

 

Tak kalah menarik, dari data yang diolah radarbali.id, kerajinan kain endek sejatinya pernah berjaya pada tahun 1984 silam. Namun, karena kemajuan zaman, kain endek kemudian merosot pada tahun 2002 karena banyak kain tenun cetak yang dibentuk dengan mesin.

 

Artinya, tentu ada harga yang akan berbeda cukup jauh bila masyarakat nantinya lebih memilih menggunakan pakaian endek cetakan mesin/print dibanding dengan membuat kain endek tradisional.

 

Sebab, proses pembuatan kain endek secara tradisional dapat memakan waktu hingga sebulan dan harganya bisa mencapai antara Rp 650 ribu – Rp 5 juta per 2,5 meter dan tergantung pada jenis kain dan kerumitan motifnya.

 

Tentu dengan fakta ini, alih-alih ingin menyelamatkan kain endek tradisional, malah jadinya akan menghilangkan warisan budaya dan kerajinan asli Bali. 



DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster beberapa waktu lalu telah mengeluarkan surat edaran (SE) Nomor 04 Tahun 2021 tentang Penggunaan kain endek Bali/kain tenun tradisional Bali.

 

Atas terbitnya SE itu, gubernur menghimbau agar instansi pemerintah/swasta termasuk masyarakat umum di Bali agar menggunakan kain tenun endek pada setiap hari Selasa. 

 

Surat edaran ini resmi akan berlaku pada, Selasa 23 Februari 2021 mendatang

 

Salah satu alasan terbitnya SE, adalah agar dapat menyelamatkan salah satu warisan kerajinan Bali (khususnya kain endek/kain tradisional Bali) ditengah gempuran pakaian endek print yang dijual dengan harga murah belakangan ini.

 

Atas kebijakan gubernur Bali ini, selain masih menjadi pro dan kontra di masyarakat, terbitnya SE No.04/2021 ini juga mendapat perhatian serius dari Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Bali.

 

 

Seperti disampaikan Direktur YLPK Bali, I Putu Armaya. Terkait SE gubernur, ia menilai, jika imbauan Gubernur Bali Wayan Koster ini seperti kejar tayang disaat masyarakat sedang berjibaku dengan persoalan perekonomian karena pandemi Covid 19 ini.

Baca Juga:  PHRI Minta Kunjungan Wisdom Tak Dipersulit

 

“Memang semangatnya itu bagaimana membangkitkan ekonomi, sehingga masyarakat Bali menggunakan kain endek. Tujuannya baik, hanya saja kondisi ekonomi saat pandemi ini luluh lantak,” ujarnya pada Rabu (17/2).

 

Selain itu, fakta di lapangan, kata Armaya juga masih ditemukan banyak kain endek yang dicetak secara instan.

 

“Itu ternyata bukan kain endek asli, karena kalau kain endek asli tentu harganya sangat mahal,” sebutnya.

 

Ini menjadi sebuah fenomena yang serba dilema. Disatu sisi kebijakan kain endek ini dikeluarkan saat pandemi, kedua maksud Gubernur Bali Wayan Koster juga untuk menumbuhkan perekonomian para pengerajin endek tradisional namun disisi lain belum diantisipasi karena masyarakat bisa saja membeli kain endek cetakan dengan harga yang murah dan bukan dari pengerajin endek tradisional.

 

“Ini menurut saya, semangat menumbuhkan ekonomi dipengerajin endek tak ada lagi, karena masyarakat akan mencari yang lebih murah. Apalagi saat pandemi ini juga masyarakat tidak bisa mendapatkan kain endek yang asli karena mahal,” pungkasnya.

 

Untuk diketahui, dari sejumlah daftar harga digerai online, saat ini harga kemeja endek hanya dibandrol dengan harga dari Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu.

Baca Juga:  Mahayastra Tuding Pencaplokan Jalur Hijau Sejak Era Cok Budi & Cok Ace

 

Harga ini tentu dapat dikatakan tak masuk akal jika berkaca dengan proses pembuatan kain endek yang membutuhkan waktu yang cukup lama.

 

Tak kalah menarik, dari data yang diolah radarbali.id, kerajinan kain endek sejatinya pernah berjaya pada tahun 1984 silam. Namun, karena kemajuan zaman, kain endek kemudian merosot pada tahun 2002 karena banyak kain tenun cetak yang dibentuk dengan mesin.

 

Artinya, tentu ada harga yang akan berbeda cukup jauh bila masyarakat nantinya lebih memilih menggunakan pakaian endek cetakan mesin/print dibanding dengan membuat kain endek tradisional.

 

Sebab, proses pembuatan kain endek secara tradisional dapat memakan waktu hingga sebulan dan harganya bisa mencapai antara Rp 650 ribu – Rp 5 juta per 2,5 meter dan tergantung pada jenis kain dan kerumitan motifnya.

 

Tentu dengan fakta ini, alih-alih ingin menyelamatkan kain endek tradisional, malah jadinya akan menghilangkan warisan budaya dan kerajinan asli Bali. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/