27.6 C
Denpasar
Tuesday, May 30, 2023

Bupati Karangasem I Gede Dana Pelit Dana Rekonstruksi Kesenian Uzur

AMLAPURA Pemkab Karangasem melalui Dinas Kebudayaan gagal melakukan rekonstruksi kesenian klasik atau uzur yang hampir punah. Kegagalan merekonstruksi kesenian uzur ini lantaran Bupati Karangasem I Gede Dana pelit untuk menganggarkan dana rekonstruksi kepada Dinas Kebudayaan.

Padahal rekonstruksi terhadap kesenian uzur ini cukup penting dilakukan agar bisa diselamatkan untuk regenerasi ke depan. Seperti tahun-tahun sebelummnya, pencatatan terhadap kesenian maupun ritus budaya lainnya di Karangasem dilakukan berkala.

 

Hal ini untuk mendata jumlah kesenian hampir punah maupun sudah punah, serta beberapa kebudayaan yang masih eksis. Biasanya anggaran yang disiapkan juga menyesuaikan dengan jenis kesenian yang bakal dikaji.

Kepala Disbud Karangasem I Putu Arnawa mengungkapkan, anggaran untuk sekali rekonstruksi kesenian punah maupun hampir punah rata-rata mencapai puluhan juta.

Baca Juga:  Ayah- Ibu di Sawah, Dua Anak Disabilitas Nyaris Tertimpa Pohon Kelapa

 

“Anggarannya menyesuaikan. Tergantung jenis keseniannya. Seperti contoh kesenian wayang wong yang habiskan cukup banyak, karena adanya kelengkapan pakaian penari tidak sama jika dibanding kelengkapan rejang,” tuturnya Minggu (16/5).

Arnawa menjelaskan, program rekonstruksi maupun pencatatan ritus kebudayaan juga mengacu pada undang-undang nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Pihaknya mengakui cukup sulit melakukan rekonstruksi kesenian yang langka maupun punah dengan usia puluhan bahkan ratusan tahun.

Dalam proses rekonstruksi kesenian lanjut dia, harus didasarari pada kajian akademik. Selain kajian akademik, yang dibutuhkan untuk merekonstruksi kesenian tua ini juga perlu menggali sumber dari data maupun saksi hidup yakni pelaku seninya.

 

“Dari pendataan kami, jenis kebudayaan yang paling banyak punah atau hampir punah adalah kesenian, baik tari hingga musik tradisional,” jelasnya.

Baca Juga:  Manfaatkan REC PLN, Undiksha Kampus Pertama di Indonesia Gunakan Energi Hijau


Sementara itu, untuk ritus budaya jarang ada yang sampai punah. Hal ini karena sebuah ritus masih bertahan karena ada unsur sosioteologi di dalamnya.

 

“Beberapa kesenian itu hingga kini masih eksis karena berkaitan dengan prosesi upacara keagamaan. Jadi sepanjang upacara itu masih dilakukan kesenian sebagai unsur di dalamnya juga akan tetap ada,” imbuhnya.


Dia menambahkan, untuk jenis kesenian yang punah beberapa di antaranya seperti gambuh, arja, wayang wong, dan beberapa jenis baris.

 

“Kami sempat rekonstruksi gambuh, rejang lilit di Desa Adat Purwayu, beberapa wayang wong. Untuk tahun ini tidak ada rekonstruksi karena tidak ada anggaran untuk itu,” pungkasnya.



AMLAPURA Pemkab Karangasem melalui Dinas Kebudayaan gagal melakukan rekonstruksi kesenian klasik atau uzur yang hampir punah. Kegagalan merekonstruksi kesenian uzur ini lantaran Bupati Karangasem I Gede Dana pelit untuk menganggarkan dana rekonstruksi kepada Dinas Kebudayaan.

Padahal rekonstruksi terhadap kesenian uzur ini cukup penting dilakukan agar bisa diselamatkan untuk regenerasi ke depan. Seperti tahun-tahun sebelummnya, pencatatan terhadap kesenian maupun ritus budaya lainnya di Karangasem dilakukan berkala.

 

Hal ini untuk mendata jumlah kesenian hampir punah maupun sudah punah, serta beberapa kebudayaan yang masih eksis. Biasanya anggaran yang disiapkan juga menyesuaikan dengan jenis kesenian yang bakal dikaji.

Kepala Disbud Karangasem I Putu Arnawa mengungkapkan, anggaran untuk sekali rekonstruksi kesenian punah maupun hampir punah rata-rata mencapai puluhan juta.

Baca Juga:  Pasutri Lanjut Usia Syok, Rumah dan Uang Tunai Rp 12 Juta Dilalap Api

 

“Anggarannya menyesuaikan. Tergantung jenis keseniannya. Seperti contoh kesenian wayang wong yang habiskan cukup banyak, karena adanya kelengkapan pakaian penari tidak sama jika dibanding kelengkapan rejang,” tuturnya Minggu (16/5).

Arnawa menjelaskan, program rekonstruksi maupun pencatatan ritus kebudayaan juga mengacu pada undang-undang nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Pihaknya mengakui cukup sulit melakukan rekonstruksi kesenian yang langka maupun punah dengan usia puluhan bahkan ratusan tahun.

Dalam proses rekonstruksi kesenian lanjut dia, harus didasarari pada kajian akademik. Selain kajian akademik, yang dibutuhkan untuk merekonstruksi kesenian tua ini juga perlu menggali sumber dari data maupun saksi hidup yakni pelaku seninya.

 

“Dari pendataan kami, jenis kebudayaan yang paling banyak punah atau hampir punah adalah kesenian, baik tari hingga musik tradisional,” jelasnya.

Baca Juga:  Manfaatkan REC PLN, Undiksha Kampus Pertama di Indonesia Gunakan Energi Hijau


Sementara itu, untuk ritus budaya jarang ada yang sampai punah. Hal ini karena sebuah ritus masih bertahan karena ada unsur sosioteologi di dalamnya.

 

“Beberapa kesenian itu hingga kini masih eksis karena berkaitan dengan prosesi upacara keagamaan. Jadi sepanjang upacara itu masih dilakukan kesenian sebagai unsur di dalamnya juga akan tetap ada,” imbuhnya.


Dia menambahkan, untuk jenis kesenian yang punah beberapa di antaranya seperti gambuh, arja, wayang wong, dan beberapa jenis baris.

 

“Kami sempat rekonstruksi gambuh, rejang lilit di Desa Adat Purwayu, beberapa wayang wong. Untuk tahun ini tidak ada rekonstruksi karena tidak ada anggaran untuk itu,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru