alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Koster Sebut Eks Galian C Klungkung Banyak Roh Gentayangan Korban ‘65

SEMARAPURA – Gubernur Bali, Wayan Koster menyebut di lahan eks galian C Klungkung banyak roh gentayangan, di antaranya korban ’65. Hal itu diungkapkan Koster saat datang dalam Sosialisasi Pembebasan Lahan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Balai Budaya Ida I Dewa Agung Istri Kanya, Kamis (16/12).

 

Sebelum mengungkap soal roh gentayangan di lahan eks Galian C Klungkung, Koster berbicara tentang megaproyek normalisasi Tukad Unda dan Pusat Kebudayaan Bali. Dia mengatakan, banyak permainan yang sebelumnya terjadi di eks Galian C, Klungkung.

 

Dia menyebutkan, untuk satu bidang tanah, bisa terdapat tiga Surat Pernyataan Tanah (SPT). Sehingga saat ada sebanyak 34 orang yang mengaku memiliki tanah 70 hektare namun tidak bisa membuktikan, orang nomor satu di Pemprov Bali ini mengingatkan untuk tidak macam-macam dengan proyek normalisasi Tukad Unda dan Pusat Kebudayaan Bali di eks Galian C Klungkung.

“Di antaranya itu saya tahu, ada 34 orang yang mengaku mempunyai tanah 70 hektare. Padahal itu tidak ada. Menuntut minta dibayar. Jadi siapa yang berhak, itu ada dokumennya dan bisa menunjukkan fisiknya. Jangan mengada-ngada, mengaku-ngaku,” kata Koster dalam acara tersebut.

Baca Juga:  Duh, Kirim Rongsokan ke Jawa, Mendadak Truk Terperosok

 

Lebih lanjut, Koster mengatakan, dalam proses pembebasan lahan, pihaknya telah meminta pihak yang terlibat dalam proses itu untuk mengikuti perundang-undnagan yang ada. Pihak kejaksaan pun diminta mendampingi agar tahapan itu dapat dijalankan sebagaimana mestinya sesuai aturan dan fakta yang terjadi.

 

“Di sini kalau salah proses ini, yang membuat kebijakan, yang membayar, yang menerima, itu kena hukum. Jadi harus hati-hati,” ujarnya.

 

Koster menegaskan, proyek normalisasi Tukad Unda dan PKB, yang menyedot anggaran hampir 3 triliun rupiah, itu semata-mata untuk memuliakan budaya Bali. Sehingga pihaknya berharap dukungan semua pihak untuk segera mewujudkan megaproyek tersebut.

 

“Tidak ada kepentingan pribadi di sini. Saya minta semuanya untuk begitu. Harus jalan dengan alami, jalani proses dengan baik. Barang siapa yang macam-macam, siapa pun orangnya akan saya hadapi,” kata Koster.

Baca Juga:  Miris, Ribuan Pelanggan Air di Nusa Penida Kesulitan Air Bersih

 

Nah, setelah berbicara itu, Koster pun menyinggung soal roh genratayanga di lahan eks Galian C. Kata dia, akan digelar upacara penyucian arwah di eks Galian C, Klungkung. Alasannya, di tempat ini tidak sedikit orang meninggal dunia tidak wajar.

 

Orang yang meninggal dunia di eks Galian C Klungkung, menurut Koster karena peristiwa erupsi Gunung Agung puluhan tahun lalu atau berkaitan dengan peristiwa pembantaian orang-orang yang diduga PKI pada sekitar tahun 1965 atau yang biasa disebut dengan korban ’65. 

 

Upacara itu, lanjut Koster, dimaksudkan untuk menyucikan arwah orang-orang yang meninggal tidak wajar saat itu.

 

“Jadi di sini banyak roh gentayangan. Kalau ini tidak diurus, pasti dia akan mengganggu. Nanti akan dilakukan secara simbolis prosesi pengabenan dan segala macam sampai akhirnya bisa dilinggihin,” tandasnya.

SEMARAPURA – Gubernur Bali, Wayan Koster menyebut di lahan eks galian C Klungkung banyak roh gentayangan, di antaranya korban ’65. Hal itu diungkapkan Koster saat datang dalam Sosialisasi Pembebasan Lahan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Balai Budaya Ida I Dewa Agung Istri Kanya, Kamis (16/12).

 

Sebelum mengungkap soal roh gentayangan di lahan eks Galian C Klungkung, Koster berbicara tentang megaproyek normalisasi Tukad Unda dan Pusat Kebudayaan Bali. Dia mengatakan, banyak permainan yang sebelumnya terjadi di eks Galian C, Klungkung.

 

Dia menyebutkan, untuk satu bidang tanah, bisa terdapat tiga Surat Pernyataan Tanah (SPT). Sehingga saat ada sebanyak 34 orang yang mengaku memiliki tanah 70 hektare namun tidak bisa membuktikan, orang nomor satu di Pemprov Bali ini mengingatkan untuk tidak macam-macam dengan proyek normalisasi Tukad Unda dan Pusat Kebudayaan Bali di eks Galian C Klungkung.

“Di antaranya itu saya tahu, ada 34 orang yang mengaku mempunyai tanah 70 hektare. Padahal itu tidak ada. Menuntut minta dibayar. Jadi siapa yang berhak, itu ada dokumennya dan bisa menunjukkan fisiknya. Jangan mengada-ngada, mengaku-ngaku,” kata Koster dalam acara tersebut.

Baca Juga:  Ini Penyebab Material Abu Turun dan Bikin Panik Pengungsi

 

Lebih lanjut, Koster mengatakan, dalam proses pembebasan lahan, pihaknya telah meminta pihak yang terlibat dalam proses itu untuk mengikuti perundang-undnagan yang ada. Pihak kejaksaan pun diminta mendampingi agar tahapan itu dapat dijalankan sebagaimana mestinya sesuai aturan dan fakta yang terjadi.

 

“Di sini kalau salah proses ini, yang membuat kebijakan, yang membayar, yang menerima, itu kena hukum. Jadi harus hati-hati,” ujarnya.

 

Koster menegaskan, proyek normalisasi Tukad Unda dan PKB, yang menyedot anggaran hampir 3 triliun rupiah, itu semata-mata untuk memuliakan budaya Bali. Sehingga pihaknya berharap dukungan semua pihak untuk segera mewujudkan megaproyek tersebut.

 

“Tidak ada kepentingan pribadi di sini. Saya minta semuanya untuk begitu. Harus jalan dengan alami, jalani proses dengan baik. Barang siapa yang macam-macam, siapa pun orangnya akan saya hadapi,” kata Koster.

Baca Juga:  Pasar Terbesar Di Klungkung Disemprot Disinfektan

 

Nah, setelah berbicara itu, Koster pun menyinggung soal roh genratayanga di lahan eks Galian C. Kata dia, akan digelar upacara penyucian arwah di eks Galian C, Klungkung. Alasannya, di tempat ini tidak sedikit orang meninggal dunia tidak wajar.

 

Orang yang meninggal dunia di eks Galian C Klungkung, menurut Koster karena peristiwa erupsi Gunung Agung puluhan tahun lalu atau berkaitan dengan peristiwa pembantaian orang-orang yang diduga PKI pada sekitar tahun 1965 atau yang biasa disebut dengan korban ’65. 

 

Upacara itu, lanjut Koster, dimaksudkan untuk menyucikan arwah orang-orang yang meninggal tidak wajar saat itu.

 

“Jadi di sini banyak roh gentayangan. Kalau ini tidak diurus, pasti dia akan mengganggu. Nanti akan dilakukan secara simbolis prosesi pengabenan dan segala macam sampai akhirnya bisa dilinggihin,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/