alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Syukur Atas Keselamatan Desa, Ratusan Anak Muda Hunuskan Keris

Sejumlah desa pekraman di Kabupaten Karangasem memang dikenal memiliki banyak tradisi unik.

Salah satunya di Desa Ababi, Karangasem. Menjelang Ngusaba Kedasa di Pura Puseh Desa Pakraman Ababi, ratusan krama (warga) setempat menggelar tradisi Nyeret. Seperti apa?

 

I WAYAN PUTRA, Karangasem

 

Ratusan krama truna (anak muda) di  Desa setempat turun ngaturang ngayah Nyeret. Nyeret sendiri adalah prosesi iring iringan dengan sambil menghunus keris. Tradisi ini adalah dalam rangakaian mendek Ida betara Ngerurah Saksi dari Pura Laga yang akan ketur atau memargi ke Pura Puseh Ababi.

Para truna menggunakan daster merah dan saput atau kampuh poleng dengan menggenggam keris. Mereke berbaris rapi sambil bersorak “ Wooooooouuuh…hiiiiyaaaaaaa wooouhhh hiiyaaa,” begitu terus sambil mengiringi Ide Batara.

Baca Juga:  Perajin Tenun Klungkung Mulai Tinggalkan Cagcag

Menurut salah satu krama Ababi Made Kuta tradisi ini merupakan warisan turun temurun yang memang dipertahankan sejak ratusan tahun dan digelar saat Purnama Kapat. Dimana di Pura Puseh Ababi dalam setahun dilaksanakan tiga kali aci. Yakni purnama kapat, purnama kedasa dan bude kliwon Pahang.

Tradisi ini berkaitan dengan aci Ngusaba Dodol. Ngusaba ini sendiri memiliki makna sebagai wujud syukur kepada Tuhan selama memberikan keselamatan dan kemakmuran serta kesehatan kepada warga Ababi.

Sehingga karena masih ada keterkaitan Ida Bathara Puseh Ababi dengan Ida Bathara Ngerurah Saksi yang identik dengan keris. Sehingga setiap ritual nuur Ide Betara pasti akan dilakukan nyeret.

Bahkan meski suasana Nyeret diguyur hujan deras dan menyusuri jalanan yang ekstrim, namun hal itu tak menyurutkan para pengiring. Mereka tetap mengikuti tradisi Nyeret dengan antusias.

Baca Juga:  Duh, Hindari Biaya IMTA, Mayoritas Pekerja Asing di Karangasem Ilegal


Sejumlah desa pekraman di Kabupaten Karangasem memang dikenal memiliki banyak tradisi unik.

Salah satunya di Desa Ababi, Karangasem. Menjelang Ngusaba Kedasa di Pura Puseh Desa Pakraman Ababi, ratusan krama (warga) setempat menggelar tradisi Nyeret. Seperti apa?

 

I WAYAN PUTRA, Karangasem

 

Ratusan krama truna (anak muda) di  Desa setempat turun ngaturang ngayah Nyeret. Nyeret sendiri adalah prosesi iring iringan dengan sambil menghunus keris. Tradisi ini adalah dalam rangakaian mendek Ida betara Ngerurah Saksi dari Pura Laga yang akan ketur atau memargi ke Pura Puseh Ababi.

Para truna menggunakan daster merah dan saput atau kampuh poleng dengan menggenggam keris. Mereke berbaris rapi sambil bersorak “ Wooooooouuuh…hiiiiyaaaaaaa wooouhhh hiiyaaa,” begitu terus sambil mengiringi Ide Batara.

Baca Juga:  Jadi Temuan BPK, Kasek Diminta Pastikan Sertifikat Tanah Sekolah

Menurut salah satu krama Ababi Made Kuta tradisi ini merupakan warisan turun temurun yang memang dipertahankan sejak ratusan tahun dan digelar saat Purnama Kapat. Dimana di Pura Puseh Ababi dalam setahun dilaksanakan tiga kali aci. Yakni purnama kapat, purnama kedasa dan bude kliwon Pahang.

Tradisi ini berkaitan dengan aci Ngusaba Dodol. Ngusaba ini sendiri memiliki makna sebagai wujud syukur kepada Tuhan selama memberikan keselamatan dan kemakmuran serta kesehatan kepada warga Ababi.

Sehingga karena masih ada keterkaitan Ida Bathara Puseh Ababi dengan Ida Bathara Ngerurah Saksi yang identik dengan keris. Sehingga setiap ritual nuur Ide Betara pasti akan dilakukan nyeret.

Bahkan meski suasana Nyeret diguyur hujan deras dan menyusuri jalanan yang ekstrim, namun hal itu tak menyurutkan para pengiring. Mereka tetap mengikuti tradisi Nyeret dengan antusias.

Baca Juga:  Rencana Bangun Kuburan Ahmadiyah, Dit Intel Polda Turun ke Buleleng

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/