alexametrics
24.8 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Catat! Tanpa Takbiran, Salat Id Hanya Dibolehkan Digelar di Zona Hijau

SINGARAJA– Pelaksanaan hari raya Idul Fitri 1441 hijriah yang diperkirakan jatuh pada Minggu (24/5) mendatang akan berbeda dari tahun sebelumnya.

Pasalnya, saat pandemic wabah Covid-19, pemerintah akan melakukan pembatasan. Selain Idul Fitri tanpa malam takbiran, pelaksanaan salat Id berjamaah bagi umat juga akan dibatasi sesuai prinsip dan protocol kesehatan.

Sehingga umat dapat terhindar dari potensi penularan covid-19.

Seperti terungkap dalam pertemuan yang digelar Antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buleleng melakukan pertemuan dengan Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19, Senin (18/5).

Para ulama mendiskusikan teknis pelaksanaan ibadah dalam rangka Idul Fitri, sebagaimana diatur dalam Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020.

Ketua MUI Buleleng H. Abdurrahman Said mengatakan, dalam fatwa tersebut, daerah yang kasus covidnya masih terkendali dan terkontol, dapat melaksanakan ibadah salat. Baik itu di lapangan, masjid, atau musholla.

Baca Juga:  Awas, Sambaran Petir di Jembrana Picu Kerusakan Alat Elektronik Warga

Sedangkan khusus di Buleleng, MUI memutuskan tidak akan melaksanakan ibadah sholat Id di tempat terbuka.

Seperti di Taman Kota Singaraja dan areal parkir Eks Pelabuhan Buleleng seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Salat Idul Fitri (Sholat Ied) hanya akan dilaksanakan di masjid dan musholla.

“Di lapangan nggak mungkin kami lakukan, karena (ada potensi) tidak terkontrol. Jadi kami pecah konsentrasinya, dengan melaksanakan di masjid dan musholla. Biar menyebar. Itu pun sangat singkat. Hanya 10-15 menit. Kalau ada khotbah, singkat saja. Cukup 5-10 menit, sisa waktunya digunakan untuk salat. Setelah salat juga tidak ada salaman,” kata Abdurrahman saat ditemui di Kantor Bupati Buleleng.

Selain itu, pelaksanaan salat di masjid juga akan dibatasi untuk warga setempat saja. Misalnya untuk Sholat Ied di Masjid Al Mujahidin Kelurahan Banyuasri.

Salat hanya diizinkan bagi warga yang tinggal di seputaran Jalan Jalak Putih saja. Sementara warga dari wilayah lain, termasuk sekalipun dari Perumahan Satelit Asri yang berjarak sekitar 300 meter dari masjid, tak diizinkan ke sana.

Baca Juga:  DJ Cantik Gebby Vesta Malah Gelar Pesta Ultah di Vila di Jimbaran

“Kalau untuk wilayah lain, boleh ibadah di rumah saja. Cukup di lingkup keluarga. Itu sudah diatur dalam fatwa MUI, diizinkan,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris GTPP Covid-19 Buleleng Gede Suyasa menyatakan, salat Id hanya diizinkan di beberapa wilayah yang dianggap zona hijau.

Yakni di Kecamatan Buleleng (Kota Singaraja) dan Kecamatan Gerokgak. Sementara untuk wilayah lain, umat diminta melakukan ibadah di rumah saja. Khusus di dua kecamatan itu, ibadah pun hanya untuk masyarakat di seputar masjid saja.

Khusus untuk takbiran, Suyasa menegaskan, tidak ada pelaksanaan takbiran keliling seperti tahun-tahun sebelumnya. “Tidak ada usulan dan pembahasan tentang takbiran. Artinya tahun ini tidak ada takbiran,” tukasnya. 



SINGARAJA– Pelaksanaan hari raya Idul Fitri 1441 hijriah yang diperkirakan jatuh pada Minggu (24/5) mendatang akan berbeda dari tahun sebelumnya.

Pasalnya, saat pandemic wabah Covid-19, pemerintah akan melakukan pembatasan. Selain Idul Fitri tanpa malam takbiran, pelaksanaan salat Id berjamaah bagi umat juga akan dibatasi sesuai prinsip dan protocol kesehatan.

Sehingga umat dapat terhindar dari potensi penularan covid-19.

Seperti terungkap dalam pertemuan yang digelar Antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buleleng melakukan pertemuan dengan Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19, Senin (18/5).

Para ulama mendiskusikan teknis pelaksanaan ibadah dalam rangka Idul Fitri, sebagaimana diatur dalam Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020.

Ketua MUI Buleleng H. Abdurrahman Said mengatakan, dalam fatwa tersebut, daerah yang kasus covidnya masih terkendali dan terkontol, dapat melaksanakan ibadah salat. Baik itu di lapangan, masjid, atau musholla.

Baca Juga:  Awas, Sambaran Petir di Jembrana Picu Kerusakan Alat Elektronik Warga

Sedangkan khusus di Buleleng, MUI memutuskan tidak akan melaksanakan ibadah sholat Id di tempat terbuka.

Seperti di Taman Kota Singaraja dan areal parkir Eks Pelabuhan Buleleng seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Salat Idul Fitri (Sholat Ied) hanya akan dilaksanakan di masjid dan musholla.

“Di lapangan nggak mungkin kami lakukan, karena (ada potensi) tidak terkontrol. Jadi kami pecah konsentrasinya, dengan melaksanakan di masjid dan musholla. Biar menyebar. Itu pun sangat singkat. Hanya 10-15 menit. Kalau ada khotbah, singkat saja. Cukup 5-10 menit, sisa waktunya digunakan untuk salat. Setelah salat juga tidak ada salaman,” kata Abdurrahman saat ditemui di Kantor Bupati Buleleng.

Selain itu, pelaksanaan salat di masjid juga akan dibatasi untuk warga setempat saja. Misalnya untuk Sholat Ied di Masjid Al Mujahidin Kelurahan Banyuasri.

Salat hanya diizinkan bagi warga yang tinggal di seputaran Jalan Jalak Putih saja. Sementara warga dari wilayah lain, termasuk sekalipun dari Perumahan Satelit Asri yang berjarak sekitar 300 meter dari masjid, tak diizinkan ke sana.

Baca Juga:  Rampung, RTH Bung Karno Akan Kenakan Tiket Masuk Bagi Pengunjung

“Kalau untuk wilayah lain, boleh ibadah di rumah saja. Cukup di lingkup keluarga. Itu sudah diatur dalam fatwa MUI, diizinkan,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris GTPP Covid-19 Buleleng Gede Suyasa menyatakan, salat Id hanya diizinkan di beberapa wilayah yang dianggap zona hijau.

Yakni di Kecamatan Buleleng (Kota Singaraja) dan Kecamatan Gerokgak. Sementara untuk wilayah lain, umat diminta melakukan ibadah di rumah saja. Khusus di dua kecamatan itu, ibadah pun hanya untuk masyarakat di seputar masjid saja.

Khusus untuk takbiran, Suyasa menegaskan, tidak ada pelaksanaan takbiran keliling seperti tahun-tahun sebelumnya. “Tidak ada usulan dan pembahasan tentang takbiran. Artinya tahun ini tidak ada takbiran,” tukasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/