alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Pemulung Borong Puing Bekas Kebakaran Pasar Blahbatuh

GIANYAR – Puing-puing sisa kebakaran Pasar Blahbatuh di Jalan Wisma Gajah Mada, diserbu pemulung. Pengepul barang bekas membeli besi sisa kebakaran. Harganya bervariasi tergantung besaran barang bekas.

 

Pemulung masuk areal kebakaran pada Kamis (17/6), setelah polisi melepas garis polisi pukul 14.00. Salah satu petugas pasar menyatakan, pemulung datang ke sisa kebakaran untuk membeli barang rongsokan.

 

“Pedagang menjual barang mereka yang ada di tempat jualannya. Misalnya punya kios, yang di kios saja dijual,” ujar Agung, salah satu petugas pasar.

 

Petugas hanya menjaga supaya pemulung atau pedagang tidak curang. “Jangan sampai menjual barang yang bukan di lapaknya. Kalau punya kios yang jual barang yang di kios,” ujarnya.

 

Salah satu pengepul barang bekas, Ida Bagus Raka, asal Desa Siangan, Kecamatan Gianyar, membawa anak buahnya mengangkut barang rongsokan. “Saya pakai sistem borongan. Misalnya, di kios ini perkiraan harga Rp 1 juta. Kalau deal, saya beli,” ujarnya.

Baca Juga:  Liburan ke Bali, Melly Goeslaw Datangi Pasar Terbakar, Cari Apa?

 

 

Berbagai macam rongsokan sisa pasar diperoleh. “Ada alumunium, besi, tembaga. Misalnya rolling door. Ada bekas rak. Bekas meja,” terangnya. Untuk harganya beragam. “Termahal satu tempat saya beli Rp 2,5 juta,” terangnya.

 

 

Setelah deal, pengepul langsung bayar di tempat kepada pedagang. “Saya kesini bawa lima armada. Habis deal, bayar, langsung angkut ke mobil,” jelasnya.

 

Pengepul rongsokan lainnya, Mudin, asal Madura, Jawa Timur yang punya markas rongsokan di Tohpati mengaku tidak sembarangan membeli sisa kebakaran. “Kalau ada pedagangnya baru saya beli. Gak sembarangan ambil. Nanti disangka nyuri,” ujarnya.

 

 

Mudin juga pakai sistem perkiraan. “Bisa saja saya untung. Tapi bisa rugi ini. Tergantung saat saya setor. Kalau dihargai sedikit, saya rugi. Belum lagi capai lepas besi di atas,” terangnya.

 

Meski mengadu nasib di rongsokan, namun Mudin merasa berbagi dengan para pedagang yang kena musibah. “Hitung-hitung saya bagi-bagi rezeki. Saya beli rongsokannya. Mudah-mudahan pedagang plong,” ujar pemulung yang terus menggendong tas kompek warna hitam itu. 

Baca Juga:  Warga Semakin Taat Prokes, Kasus Positif di Bali Menurun Drastis

 

Salah satu pedagang, Ani, mengaku sejumlah barang rongsokan terpaksa dijual. “Ada rak besi, pintu besi ini dulu saya beli. Ini saya jual, uangnya saya pakai bekal,” ujarnya sambil mengangkat besi.

 

 

Untuk barang dagangan, sudah ludes tidak tersisa. “Jualan tidak ada selamat. Cuma besi-besi gini saja,” jelasnya.

 

Mengenai nasibnya ke depan, dia belum tahu. Walaupun ada rencana relokasi, dirinya bingung. “Kalau buka dagangan lagi kan pakai modal. Disini modal saya habis,” pungkasnya.

 

 

Diberitakan sebelumnya, Pasar Blahbatuh dilalap si jago merah pada Selasa sore (15/6) pukul 17.30. Sebanyak 602 pedagang terdampak kebakaran. 

 

Api berkobar dari sore hingga dini hari pukul 00.00. Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) dari Gianyar, Denpasar, Badung, Klungkung dan Bangli ikut turun tangan. Bahkan armada Polres ikut turun.

GIANYAR – Puing-puing sisa kebakaran Pasar Blahbatuh di Jalan Wisma Gajah Mada, diserbu pemulung. Pengepul barang bekas membeli besi sisa kebakaran. Harganya bervariasi tergantung besaran barang bekas.

 

Pemulung masuk areal kebakaran pada Kamis (17/6), setelah polisi melepas garis polisi pukul 14.00. Salah satu petugas pasar menyatakan, pemulung datang ke sisa kebakaran untuk membeli barang rongsokan.

 

“Pedagang menjual barang mereka yang ada di tempat jualannya. Misalnya punya kios, yang di kios saja dijual,” ujar Agung, salah satu petugas pasar.

 

Petugas hanya menjaga supaya pemulung atau pedagang tidak curang. “Jangan sampai menjual barang yang bukan di lapaknya. Kalau punya kios yang jual barang yang di kios,” ujarnya.

 

Salah satu pengepul barang bekas, Ida Bagus Raka, asal Desa Siangan, Kecamatan Gianyar, membawa anak buahnya mengangkut barang rongsokan. “Saya pakai sistem borongan. Misalnya, di kios ini perkiraan harga Rp 1 juta. Kalau deal, saya beli,” ujarnya.

Baca Juga:  Begini Nasib Kuli Panggul Nusa Penida ketika Penyeberangan Barang Sepi

 

 

Berbagai macam rongsokan sisa pasar diperoleh. “Ada alumunium, besi, tembaga. Misalnya rolling door. Ada bekas rak. Bekas meja,” terangnya. Untuk harganya beragam. “Termahal satu tempat saya beli Rp 2,5 juta,” terangnya.

 

 

Setelah deal, pengepul langsung bayar di tempat kepada pedagang. “Saya kesini bawa lima armada. Habis deal, bayar, langsung angkut ke mobil,” jelasnya.

 

Pengepul rongsokan lainnya, Mudin, asal Madura, Jawa Timur yang punya markas rongsokan di Tohpati mengaku tidak sembarangan membeli sisa kebakaran. “Kalau ada pedagangnya baru saya beli. Gak sembarangan ambil. Nanti disangka nyuri,” ujarnya.

 

 

Mudin juga pakai sistem perkiraan. “Bisa saja saya untung. Tapi bisa rugi ini. Tergantung saat saya setor. Kalau dihargai sedikit, saya rugi. Belum lagi capai lepas besi di atas,” terangnya.

 

Meski mengadu nasib di rongsokan, namun Mudin merasa berbagi dengan para pedagang yang kena musibah. “Hitung-hitung saya bagi-bagi rezeki. Saya beli rongsokannya. Mudah-mudahan pedagang plong,” ujar pemulung yang terus menggendong tas kompek warna hitam itu. 

Baca Juga:  Dilapori Bupati Soal Kebakaran Pasar Blahbatuh, Koster Prihatin

 

Salah satu pedagang, Ani, mengaku sejumlah barang rongsokan terpaksa dijual. “Ada rak besi, pintu besi ini dulu saya beli. Ini saya jual, uangnya saya pakai bekal,” ujarnya sambil mengangkat besi.

 

 

Untuk barang dagangan, sudah ludes tidak tersisa. “Jualan tidak ada selamat. Cuma besi-besi gini saja,” jelasnya.

 

Mengenai nasibnya ke depan, dia belum tahu. Walaupun ada rencana relokasi, dirinya bingung. “Kalau buka dagangan lagi kan pakai modal. Disini modal saya habis,” pungkasnya.

 

 

Diberitakan sebelumnya, Pasar Blahbatuh dilalap si jago merah pada Selasa sore (15/6) pukul 17.30. Sebanyak 602 pedagang terdampak kebakaran. 

 

Api berkobar dari sore hingga dini hari pukul 00.00. Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) dari Gianyar, Denpasar, Badung, Klungkung dan Bangli ikut turun tangan. Bahkan armada Polres ikut turun.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/